Senin, 09 Juli 2012

KONSEP DASAR TENTANG NEGARA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
              Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang berbeda dengan bentuk organisasi lain terutama karena hak negara untuk mencabut nyawa seseorang. Untuk dapat menjadi suatu negara maka harus ada rakyat, yaitu sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.
              Maka dari hal itu pemakalah mengharapkan para pembaca mengetahui bagaimana hakikat negara itu yang sebenarnya, dan ada apa saja tujuan dari negara itu dan apa saja unsur-unsurnya.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa makna dan pengertian Negara?
b.      Apa saja unsur-unsur Negara?
c.       Apa saja tujuan Negara?
d.      Bagaimana bentuk-bentuk Negara?
C.    Tujuan
a.       Memahami makna negara sebenarnya.
b.      Mengetahui unsur-unsur negara.
c.       Mengetahui tujuan negara.
d.      Mengetahui bentuk-bentuk negara.


BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP DASAR TENTANG  NEGARA
A.    Pengertian Negara
              Untuk memahami secara detil mengenai negara, maka terlebih dulu akan diawali dengan penelusuran kata negara tersebut. Secara literal istilah negara merupakan terjemahan dari kata-kata asing, yakni state (bahasa inggris), staat (bahasa belanda dan jerman) dan etat (bahasa perancis). Kata staat, state dan etat itu diambil dari kata bahasa latin status atau statum, yang berarti keadaan yang tegak yang tetap atau sesuatu yang memiliki sifat-sifat yang tegak dan tetap. Secara terminologi, negara diartikan dengan organisasi tertinggi di antara satu kelompok masyarakat yang mempunyai pemerintahan yang berdaulat. Menurut Roger H.soltau,negara didefinisikan dengan alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau yang mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.Lain hal nya yang dikemukakan oleh Harold J.Laski,Menurutnya negara merupakan suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara syah lebih agung pada individu atau kelompok yang  merupakan bagian dari masyrakat itu.Kemudian Max weber mendefinisikan bahwa negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara syah dalam suatu wilayah.1
              Mr.Soenarko dalam bukunya “susunan negara kita, jilid 1” Negara itu adalah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah, Sedangkan menurut Logeman mengatakan bahwa negara adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang bertujuan dengan kekuasaannya mengatur serta menyelenggarakan masyarakat.2
          Georg Jellinek, menerangkan negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah menetap diwilayah tertentu. Selanjutnya Georg Wilhelm Friedrich Hegel memberikan pengertian bahwa Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal. Roelof Krannenburg memberikan sumbangan tentang pengartian negara, Negara adalah organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri. Prof. R. Djoko Soetono mendefinisikan Negara sebagai suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama. Dan Aristoteles juga menambahkan pengertian Negara yaitu, perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama. Dan oleh Karl Marx Negara diartikan sebagai alat kelas yang berkuasa untuk menindas atau mengeksploitasi kelas yang lain.3

B.     Unsur-unsur Negara
        Adapun unsur-unsur yang harus dimiliki suatu masyarakat politik supaya ia dapat dianggap sebagai negara, menurut Oppenheim Lauterpacht adalah sebagai berikut:
a.    Harus ada rakyat
b.    Harus ada daerah
c.    Harus ada pemerintah yang berdaulat.4
              Suatu negara harus memiliki tiga unsur penting yaitu, rakyat, wilayah dan pemerintah. Ketiga unsur ini oleh Mahfud MD disebut sebagai unsur konstitutif. Tiga unsur itu perlu ditunjang dengan unsur lainnya seperti adanya konstitusi dan pengkuan dunia internasional yang oleh mahfud dikenal dengan unsure deklaratif.        
Untuk lebih jelasnya memahami unsur pokok dalam Negara ini, akan diuraikan dibawah ini:
1.        Rakyat
       Rakyat dalam pengertian keberadaan suatu negara adalah sebagai sekumpulan manusia yang diperswaktukan oleh suatu rasa persamaan dan yang bersama-sama mendiami suatu wilayah tertentu. Tidak dapat di bayangkan adanya suatu Negara tanpa rakyat. Hal ini mengingat rakyat atau warga negara adalah substratum personel dari suatu negara.
2.        Wilayah
       Wilayah dalam sebuah Negara merupakan unsur yang harus terpenuhi karena tidak mungkin ada Negara tanpa ada batas-batas teritorial yang jelas. Secara umum wilayah dalam sebuah Negara biasanya mencakup daratan, perairan dan udara.
3.  Pemerintahan
       Pemerintahan adalah alat kelengkapan Negara yang bertugas memimpin organisasi Negara untuk mencapai tujuan bersama didirikannya sebuah Negara. Pemerintah, melalui aparat dan alat-alat negara, yang menetapkan hukum, melaksanakan ketertiban dan keamanan, mengadakan perdamaian dan lainnya dalam rangka mewujudkan kepentingan warga negaranya yang beragam.
4.Pengakuan Negara lain
       Unsur pengakuan negara lain hanya bersifat menerangkan tentang adanya negara. Ada dua macam pengakuan suatu negara, yakni pengakuan negara de fakto dan de jure. Pengakuan de fakto  adalah pengakuan atas fakta adanya suatu negara. De jure merupakan pengakuan sahnya suatu negara atas dasar pertimbangan yuridis menurut hukum5.

Menurut M. Tasar Karimuddin ada beberapa unsur-unsur dasar Negara yaitu,
1.        Rakyat/ Jumlah penduduk.
       Rakyat merupakan unsur pertama dalam membentuk negara, tanpa masyarakat maka mustahil Negara bisa terbentuk. Leacock mengatakan: Negara tidak akan berdiri tanpa adanya sekelompok orang yang mendiami bumi ini. Dari hal ini timbullah pertanyaan, berapakah jumlah penduduk untuk membentuk negara?
Plato mengatakan bahwa untuk membentuk sebuah Negara wilayah tersebut membutuhkan 5040 penduduk. Pendapat ini tidak berlaku dijaman modern ini, lihat saja populasinya india, US, China, Soviet Union, dimana india memiliki 1 miliyar penduduk, jadi jumlah penduduk untuk membentuk Negara tidak ada limitnya.
2.        Wilayah
       Wilayah merupakan unsur yang kedua, karena dengan ada wilayah yang didiami oleh manusia, maka negara akan terbentuk, jika wilayah tersebut tidak ditempati secara permanent oleh manusia maka mustahil untuk membentuk Negara. Bangsa yahudi misalnya, dimana mereka tidak mendiami suatu tempat secara permanent. Alhasil mereka tidak memiliki tanah yang jelas untuk didiami, tapi dengan kepintaran PBB diberikanlah Israel sebagai negara bagian agar mereka merasa memiliki tanah. Wilayah yang diiringi dengan kekayaan alam yang melimpah, akan menjadi rakyat hidup sejahtera dan bisa memetik hasil dari alam untuk kehidupan mereka. Tapi sayangnya hasil alam tersebut dijadikan uang sampingan oleh segelintir penguasan yang tidak bertanggung jawab.[3]
3.        Pemerintah
       Jika rakyat telah siap dan wilayah yang di tempati memungkinkan untuk bernaung, maka yang tidak kalah pentingnya ialah pembentukan pemerintahan. Pemerintahan terbagi atas tiga organ:
a.         Badan pembuatan undang-undang (BPUU). Dimana organ ini mengatur hukum-hukum untuk negara dan rakyatnya yang ditetapkan secara musyawarah.
b.        Pelaksanaan. Orang-orang yang menjalankan roda pemerintahan atau tombak negara alias para pejabat kita.
c.         Pengadilan. Ini bukan suatu badan yang asing bagi kita, tugas mereka menyeret orang-orang yang bermasalah, tapi anehnya mereka juga berkerja sama dengan penjahat.
4.        Kedaulatan.
       Kedaulatanlah yang membedakan Negara dengan organisasi lainnya, jika negara yang berdaulat berarti memiliki UUD pemerintahan sendiri, bahkan bebas dari ikatan belenggu dari Negara lain, pemahamannya Merdeka.

C.     Beberapa Teori Tentang Terbenutknya Negara
1. Teori kontrak social (social contract)
            Teori ini beranggapan bahwa Negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat. Beberapa pakar penganut teori kontrak sosial yang menjelaskannteori asal-mula Negara, diantaranya:
a. Thomas Hobbes (1588-1679)
            Menurutnya syarat membentuk Negara adalah dengan mengadakan perjanjian bersama individu-individu yang tadinya dalam keadaan alamiah berjanji akan menyerahkan semua hak-hak kodrat yang dimilikinya kepada seseorang atau sebuah badan. Tekhnik perjanjian masyarakat yang dibuat Hobbes sebagai berikut setiap individu mengatakan kepada individu lainnya bahwa “Saya memberikan kekuasaan dan menyerahkan hak memerintah kepada orang ini atau kepada orang-orang yang ada di dalam dewan ini dengan syarat bahwa saya memberikan hak kepadanya dan memberikan keabsahan seluruh tindakan dalam suatu cara tertentu”.
b. John locke (1632-1704)
            Dasar kontraktual dan Negara dikemukakan Locke sebagai peringatan bahwa kekuasaan penguasa tidak pernah mutlak tetapi selalu terbatas, sebab dalam mengadakan perjanjian dengan seseorang atau sekelompok orang, individu-individu tidak menyerahkan seluruh hak-hak alamiah mereka.
c. Jean Jacques Rousseau (1712-1778)
             Keadaan alamiah diumapamakannya sebagai keadaan alamiah, hidup individu bebas dan sederajat, semuanya dihasilkan sendiri oleh idividu dan individu itu puas. Menurut “Negara” atau “badan korporatif” dibentuk untuk menyatakan “kemauan umumnya” (general will) dan ditujukan pada kebahagiaan besama. Selain itu Negara juga memperhatikan kepentingan-kepentingan individual (particular interest). Kedaulatannya berada dalam tangan rakyat melalui kemauan umumnya.
2.Teori Ketuhanan
            Negara dibentuk oleh Tuhan dan pemimpin-pemimpin Negara ditunjuk oleh Tuhan Raja dan pemimpin-pemimpin Negara hanya bertanggung jawab pada Tuhan dan tidak pada siapapun.
3.  Teoir kekuatan
           Negara yang pertama adalah hasil dominasi dari komunikasi yang kuat terhadap kelompok yang lemah, Negara terbentuk dengan penaklukan dan pendudukan. Dengan penaklukan dan pendudukan dari suatu kelompok etnis yang lebih kuat atas kelompok etnis yang lebih lemah, dimulailah proses pembentukan Negara.

D.    Bentuk-bentuk Negara
              Negara kesatuan adalah bentuk suatu negara yang merdeka berdaulat dengan suatu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Namun dalam pelaksanaannya, negara kestuan ini terbagi dalam dua macam sistem pemerintah : sentral dan otomi.
              Bentuk negara dalam konsep dan teori modern saat ini terbagi dalam dua bentuk negara, yakni negara kesatuan dan negara serikat.
1.        Negara kesatuan
       Negara kesatuan merupakan bentuk negara yang merdeka dan berdaulat, dengan satu pemerintah pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah. Dalam pelaksanaannya, negara kestuan ini terbagi dua macam, yaitu :
a.         Negara kesatuan dengan sistem Sentralisasi, yakni sistem pemerintah yang langsung dipimpin pemerintah pusat, sementara pemerintah daerah dibawahnya melaksanakan kebijakan pemerintah pusat.
b.        Negara kesatuan dengan sistem Desentralisasi, yakni kepala daerah diberikan kesempatan untuk mengurus urusan pemerintah di wilayah sendiri, sistem ini dikenal dengan istilah Otonomi daerah (swatantra).
2.        Negara Serikat
       Negara serikat merupakan bentuk negara gabungan yang terdiri dari beberapa negara bagian dari sebuah negara serikat, negara bagian tersebut pada mulanya merupakan negara yang merdeka, berdaulat dan berdiri sendiri. Setelah menggabungkan diri dengan negara serikat, maka dengan sendirinya negara tersebut melepaskan sebagian dari kekuasaannya dan menyerahkannya kepada negara serikat.
Disamping dua bentuk negara ini, dari sisi pelaksanaan dan mekanisme pemilihannya, bentuk negara dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut :
1.        Monarki
       Pemerintah monarki adalah model pemerintahan yang dikepalai oleh raja atau ratu. Monarki memiliki dua jenis yaitu, monarki absolut dan monarki konstitusional. Monarki Absolut adalah model pemerintahan dengan kekuasaan tertinggi ditangan satu orang raja atau ratu. Sedangkan Monarki Konstitusional adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan kepala pemerintahannya dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi negara.
2.        Oligarki
       Pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau beberapa kelompok tertentu.
3.        Demokrasi
       Bentuk pemerintahan yang bersandar pada kedaulatan rakyat atau kekuasaannya berdasarkan pada pilihan dan kehendak rakyat melalui mekanisme pemilihan umum.9[5]

E.     Negara dan Agama
          Negara bertujuan mewujudkan kerjasama antara segenap umat manusia, maka agama adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam rangka penegakkan prinsip tersebut yang dilandasi oleh iman, akhlakul karimah dan syari’ah.
Kalau agama hendak mencapai tujuannya tersebut dengan berpedoman pada perasaan kejiwaan dan keyakinan, maka agama bersama negara mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk mencapai tujuan itu.
          Dan agama merupakan faktor terpenting dalam membentuk susunan masyarakat yang harmonis dan membina kemajuan bangsa, maka jelas agama merupakan unsur pokok dalam menegakkan negara dan mensukseskan tujuannya serta membawa misinya.10[6]

F.Konsep Relasi Agama dan Negara dalam Islam
          Relasi antara agama dan negara sangat erat sekali dan menunjukkan arti yang positif.Dalam islam, hubungan negara dan agama menjadi perdebatan yang cukup panjang diantara pakar islam hingga kini.Bahkan menurut Azyumardi Azra, perdebatan itu telah lama berlangsung sejak hampir satu abad, dan berlangsung hingga dewasa ini. Menurut Mohammad Husein Haikal, prinsip-prinsip dasar kehidupan kemasyarakatan yang diberikan oleh Al Quran dan Sunnah tidak ada yang langsung berkaitn dengan ketatanegaraan. Dan ia mengatakan bahwa dalam islam tidak terdapat suatu sistem pemerintahan yang baku. Umat islam bebas bebas menganut sistem pemerintahan apapun, asalkan sistem tersebut menjamin persamaan antara para warga negaranya, baik hak maupun kewajiban dan persamaan dihadapan hukum, dan pelaksanaan urusan  negara diselenggarakan atas dasar musyawarah (syura) dengan berpegang kepada tata nilai moral yang diajarkan Islam.11[7]
          Dalam lintasan sejarah dan opini para teoritis politik islam , ditemukan beberapa pendapat yang berkenaan dengan konsep hubungan negara dengan agama Dapat dirangkum kedalam 3 paradigma, yaitu :
1. Paradigma Integralistik
          Merupakan paham dan konsep hubungan negara dan agama merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan lembaga yang menyatu. Ini juga memberikan pengertian bahwa islam tidak mengenal pemisahan antara agama dengan politik atau negara.
2. Paradigma Simbiotik
          Hubungan negara dan agama saling membutuhkan dan bersifat timbal balik. Dalam konteks ini, negara memerlukan agama, karena agama juga membantu negara dalam pembinaan moral, etika dan spritualitas. Begitu juga sebaliknya, agama juga membutuhkan negara sebagai instrument dalam melestarikan dan mengembangkan agama.
3. Paradigma Sekularistik
          Merupakan anggapan bahwa ada pemisahan antara agama dan negara. Negara dan agama merupakan  dua bentuk yang berbeda dan satu sama lain memiliki garapan bidang nya masing-masing. Berdasarkan pemahaman yang dikotomis ini, maka hukum positif yang berlaku adalah hukum yang beul-betul berasal dari kesepakatan manusia melalui social contack dan tidak ada kaitannya dengan hukum agama (syari’ah).

G.    Hubungan Islam dan Negara Indonesia
          INDONESIA  dikenal sebagai negeri MUSLIM TERBESAR DI DUNIA. Uniknya, Indonesia bukanlah sebuah negara islam. Perdebatan Islam dan konsep-konsep ideologi sekuler menemukan titik puncaknya pada persidangan formal dalamsidang majelis BPUPKI. Para tokoh nasionalis muslim seperti H. Agus Salim, K.H. Mas Mansur, K.H. Wachid Hasyim, menyuarakan suara aspirasi islam dengan mengajukan usul konsep Negara islam dengan menjadikan islam sebagai dasar Negara bagi indonesia merdeka. Usulan menjadikan islam sebagai konsep negara dari kelompok nasionalis muslim bersandar pada alasan sosiologis bangsa indonesia yang mayoritas memeluk islam sebagai agama dan kepercayaannya.12[8]

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
              Dari uraian panjang yang telah dijabarkan pada bab pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
Negara diartikan sebagai organisasi tertinggi diantara kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup dalam satu kawasan, dan mempunyai pemerintahan yang berdaulat. Dalam konsepsi islam, tidak ditemukan rumusan  yang pasti tentang konsep negara. Dua sumber islam, Al-Qur an dan Sunnah, tidak secara tersurat mendefinisikan model negara dalam islam. Meskipun demikian, islam mengajarkan banyak nilai dan etika bagaimana negara itu dibangun dan dibesarkan.
              Hubungan agama dan negara di indonesia lebih menganut pada asas keseimbangan yang dinamis, yaitu tidak ada pemisahan agama dan politik, namun masing-masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya.
              Peradaban islam dan tegaknya syari’at, bukan semata-mata dibangun atas satu sistem baku, tetapi dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Maka amat baik menyatukan umat islam dibangun atas dasar visi dan misi bersama menghadapi musuh islam. Negara kita adalah rumah kita juga, umat islam mayoritas di indonesia amat berhak membangun berdasarkan nilai-nilai yang dianut. Negara seperti rumah yang harus dibangun, dipelihara, dibersihkan.Saudara seagama adalah ikhwan kita dan yang tidak seagama adalah tetangga kita.

B.  Saran
              Dari penyusunan makalah ini, penulis mengharapkan agar mahasiswa UIN pada umumnya dan terkhusus mahasiswa Pendidikan B.Arab memperoleh pengetahuan yang luas dan memahami konsep tentang negara.
              Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah dengan judul konsep dasar negara ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini untuk masa yang akan datang.


[1] Dede Rosyada dkk, Demokrasi, Hak Asasi Manusia Madani, (Jakarta: Tim ICCE UIN Jakarta Jilid 2, 2003) hlm. 38-39.
2. M. Solly, S.H, Ilmu Negara, (Medan: Penerbit Alumni, 1981) hlm. 9.
4 M. Solly lubis, S.H, Ilmu Negara, (Medan: Penerbit Alumni, 1981) hlm. 10.
5 Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Pendidikan Kewarganegaraan, (Jakarta: ICCE UIN Jakarta Jilid 3: 2008). hlm. 92.
6 http://www.google.com

[5] 9  Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Pendidikan Kewarganegaraan civic education, (Jakarta : ICCE UIN Jakarta jilid 3 : 2008), hlm. 97-98.
[6] 10 Dr. Mustafa As-siba’i : Agama dan Negara, Media Da’wah, Bangil, 1978, hlm. 8
[7] 11A. Ubaedillah dan Abdul Rozak : Demokrasi HAM dan Masyarakat Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2008, Hal. 102.
[8] 12 A.Ubaedillah dan Abdul Rozak: Demokrasi HAM dan Masyarakat Madani, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2008. Hal.105

Rabu, 20 Juni 2012


PENDAHULUAN
IV. LATAR BELAKANG
              Setiap organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalamsetiap kegiatan organisasinya . Baik perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru, program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya.
              Perencanaan ( planning ) merupakan proses dasar dari organisasi  untuk memilih sasaran dan menetapkan  bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan dan sasaran yang hendak di capai sebelum melakukan proses perencanaan.
              Perencanaan diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini merupakan proses dasar manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan diperlukan dalam jenis kegiatan organisasi, Perusahaan maupun kegiatan di masyarakat, dan Perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi manajemen, karenan fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.
              Perencanaan merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutama dalam menghadapi lingkungan eksternal yang berubah dinamis. Dalam era globalisasi ini, perencanaan harus lebih mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis dan bukan hanya pada intuisi dan firasat (dugaan).
              Pokok pembahasan pada makalah ini berfokus pada elemen-elemen tertentu dari proses perencanaan dan proses yang sangat berhubungan dengan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Kemudian memperkenalkan proses perencanaan dan menyajikan sejumlah pendekatan untuk mengefektifkan perencanaan dari berbagai jenis.
              Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefenisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses penting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

V. RUMUSAN MASALAH
              Dari uraian latar belakang diatas daapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.      Apa pengertian perencanaan ?
2.      Apa saja macam-macam perencanaan ?
3.      Hambatan apa saja yang ada dalam perencanaan dan bagaimana cara mengatasinya ?

VI. TUJUAN
              Sesuai dengan masalah yang dihadapi maka makalah ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui pengertian perencanaan; (2) Mengetahui macam-macam perencanaan; (3) Mengetahui apa saja hambatan yang ada dalam perencanaan dan bagaimana cara mengatasinya.

BAB II PEMBAHASAN
1.2 PENGERTIAN PERENCANAAN
              Perencanaan secara garis besar diartikan sebagai proses mendefenisikan tujuan organisasi, membuat strategi  untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencanan aktivitas kerja organisasi. Pada dasarnya yang dimaksud dengan perencanaan yaitu member jawaban atas pertanyaan-pertanyaan apa (what), siapa (who), kapan (when), dimana (where), mengapa (why), dan bagaimana (how).
              Jadi perencanaan itu fungsi seorang menajer yang berhubugan dengan pemilihan dari sekumpulan kegiatan-kegiatan dan pemutusan tujuan-tujuan, kebijaksana-kebijaksanaan, serta program-program yang dilakukan. Perencanaan merupakan proses yang terpenting dari semua fungsi manajemen. Rencana dapat secara Informal atau secara formal.
              Rencana Informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan Rencana Formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam waktu jangka tertentu. Setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan.
              Dalam sebuah perencanaan terdapat unsur-unsur perencanaan. Perencanaan yang baik harus dapat menjawab enam pertanyaan yang disebut sebagai unsur-unsur perencanaan. Unsur pertama adalah tindakan apa yang harus dikerjakan, kedua ada sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan, ketiga dimana tindakan tersebut dilakukan, keempat kapan tindakan tersebut dilakukan, kelima siapa yang akan melakukan tindakan tersebut, dan yang terakhir bagaimana cara melakukan tindakan tersebut.

              Dalam sebuah perencanaan juga perlu memperhatikan sifat rencana yang baik yaitu:
1.      Pemakaian kata-kata yang sederhana dan jelas dalam arti mudah dipahami oleh yang menerima sehinggan penafsiran yang berbeda-beda dapat di tiadakan.
2.      Fleksibel, suatu rencana harus dapat menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya bila ada perubahan maka tidak semua rencana dirubah dimungkinkan diadakan penyesuaian-penyesuaian saja. Sifatnya tidak kaku harus begini dan begitu walaupun keadaan lain dari yang direncanakan.
3.      Stabilitas, tidak perlu setiap kali rencana mengalami perubahan jadi harus di jaga stabilitasnya setiap harus ada dalam pertimbangan.
4.      Ada dalam pertimbangan berarti bahwa pemberian waktu dan faktor-faktor produksi kepada siapa tujuan organisasi seimbang dengan kebutuhan.
5.      Meliputi seluruh tindakan yang di butuhkan, jadi meliputi fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi.

1.3 PROSES PERENCANAAN
              Sebelum para manajer dapat mengorganisasi , memimpin, atau mengendalikan, terlebih dahulu mereka harus membuat rencana yang memberikan arah pada setiap kegiatan organisasi. Pada tahap perencanaan para manajer menentukan apa yang akan di kerjakan, kapan akan mengerjakan, bagaimana mengerjakannya dan siapa yang akan mengerjakannya.
              Kebutuhan perencanaan ada pada semua tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan organisasi. Pada tingkatan top manajer pada umumnya mencurahkan hamper semua waktu perencanaannya jauh ke masa depan dan pada strategi-strategi dari seluruh organisasi.
              Terdapat pula beberapa variasi dalam tanggung jawab perencanaan yang tergantung pada ukuran dan tujuan organisasi dan pada fungsi atau kegiatan khusus manajer. Organisasi yang besar berskala internasional lebih menaruh perhatian pada perencanaan jangka panjang daripada perusahaan lokal. Akan tetapi pada umumnya organisasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara perencanaan jangka panjang maupun perencanaan jangka pendek. Karena itu penting bagi para manajer untuk mengerti peranan perencanaan secara keseluruhan.
              Menurut T. Hani Handoko ( 1999 ) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap sebagai berikut :
1.      Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.
2.      Merumuskan keadaan saat ini.
3.      Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan.
4.      Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan.

1.4 ALASAN PERLUNYA PERENCANAAN
              Salah satu maksud di buat perencanaan adalah melihat prpgram-program yang di pergunakan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan pengambilan keputusan yang lebih baik. Oleh karena itu, perencanaan organisasi harus aktif, dinamis, berkesinambungan dan kreatif, sehingga manajemen tidak hanya bereaksi dengan lingkungannya, tetapi lebih menjadi peserta aktif di dalam dunia usaha.
              Ada dua alas an dasar perlunya perencanaan :
1.       Untuk mencapai “ Protectif benefits “ yang di hasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan.
2.      Untuk mencapai “ positif benefits “ dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian organisasi.
Beberapa manfaat perencanaan adalah :
Ä  Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan lingkungan.
Ä  Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas.
Ä  Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.
Ä  Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi.
Ä  Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antaran berbagai bagian organisasi.
Ä  Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah di pahami.
Ä  Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti.
Ä  Menghemat waktu, usaha dan dana.
Beberapa kelemahan perencanaan adalah :
Ø  Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin berlebihan pada kontribusi nyata
Ø  Perencanaan cenderung menunda kegiatan
Ø  Perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi.
Ø  Kadang-kadang hasil yang paling baik di dapatkan oleh penanganan setiap masalah pada saat masalah itu terjadi
Ø  Ada beberapa rencana yang di ikuti cara-cara yang tidak konsisten

1.5 HUBUNGAN PERENCANAAN DENGAN FUNGSI LAIN
              Perencanaan adalah fungsi yang paling dasar dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi perencanaan dan fngsi-fungsi serta kegiatan manajerial lainnya adalah saling berhubungan dan saling tergantung dan saling berinteraksi.
              Pengorganisasian (organizing) adalah perencanaan untuk menunjukan cara dan perkiraan bagaimana mengorganisasikan sumber daya-sumber daya organisasi untuk mencapai efektifitas paling tinggi.
              Pengarahan (directing) adalah untuk perencanakan untuk menentukan kombinasi paling baik dari sumber daya-sumber daya yang diperlukan untuk mengarahkan, mempengaruhi dan memotivasi karyawan.
              Pengawasan (controlling) adalah perencanaan dan pengawasan yang saling berhubungan erat. Pengawasan bertindak sebagai kriteria penilaian pelaksanaan kerja terhadap rencana.

1.6 MACAM-MACAM PERENCANAAN
              Macam-macam perencanaan dalam pengantar manajemen dibagi menjadi 2 yaitu :
Ä  PERENCANAAN ORGANISASI
Perencanaan ini terdiri dari:
1.      Perencanaan strategis
              Rencana startegis yaitu rencana yang dikembangkan untuk mencapai tujuan strategis. Tepatnya, rencana strategis adalah rencana umum yang mendasari keputusan alokasi sumber daya, prioritas dan langkah-langkah tindakan yang diperlukan unutk mencapai tujuan strategis.
2.      Perencanaan taktis
              Adalah rencana yang di tujukan untuk mencapai tujuan taktis, dikembangkan untuk mengimplementasikan bagian tertentu darirencana strategis. Rencana strategis pada umumnya melibatkan manajemen tingkat atas dan menengah dan jika di bandingkan dengan rencana strategis, memiliki jangka waktu yang lebih singkat dan suatu focus yang lebih spesifik dan nyata.
1.      Perencanaan operasional
              Adalah rencana yang menitikberatkan pada perencanaan rencana taktis untuk mencapai tujuan operasional. Dikembangkan oleh manajer tingkat menengah dan tingkat bawah , rencana operasional memiliki fokus jangka pendek dan lingkup yang relative lebih sempit. Masing-masing rencana operasional berkenaan dengan suatu rangkaian kecil aktivitas. Kami menjelaskan perencanaan dengan lebih mendekati pada bagian selanjutnya.
Perencanaan operasional di bagi menjadi 2 :
Rencana sekali pakai : Di kembangkan untuk melaksanakan serangkaian tindakan yang mungkin tidak berulang di masa mendatang.
Program : Rencana sekali pakai untuk aktivitas yang besar.
Proyek : Rencan sekali pakai untuk lingkup yang lebih sempit dan lebih tidak kompleks dibandingkan dengan program
Rencana tetap : Dikembangkan untuk aktivitas yang berulang secara teratur selama satu periode waktu tertentu.
Kebijakan : Rencana tetap yang merinci respons umum organisasi terhadap suatu masalah atau situasi tertentu.
Prosedur Operasi standar : Rencana tetap yang mengurai langkah-langkah yang harus diikuti dalam situasi tertentu.
Aturan dan peraturan : rencana tetap yang mendeskripsikan dengan tepat bagaimana aktivitas tertentu di laksanakan.
Kerangka Waktu Perencanaan
1.    Rencana Jangka Panjang
            Suatu rencana jangka panjang (long-range plan) meliputi banyak tahun, mungkin bahkan meliputi beberapa decade.
2.    Rencana Jangka Menengah
            Suatu rencana yang bersifat agak semantara dan lebih mudah berubah dibanding rencana jangka panjang. Rencana jangka menengah biasanya meliputi periode satu sampai lima tahun dan terutama penting bagi manajer menengah dan manajer lini.
3.    Rencana Jangka Pendek
            Seorang manajer juga mengembangkan suatu rencana jangka pendek, yang memiliki kerangka satu tahun atau kurang. Rencana jangka pendek (short-range plan) sangat mempengaruhi aktivitas sehari-hari manajer. Terdapat dua jenis rencana jangka pendek. Rencana tindakan (action plan) merealisasikan semua jenis rencana. Ketika sebuah pabrik Nissan siap untuk mengganti teknologinya, manajernya memusatkan perhatian mereka pada penggantian peralatan yang ada dengan peralatan baru secepat mungkin dan seefisien mungkin untuk meminimalkan hilangnya waktu produksi. Dalam banyak kasus, hal ini dapat dilakukan dalam beberapa bulan, dan produksi hanya terhenti selama beberapa minggu.
          Dengan demikian, suatu rencana tindakan mengkoordinasikan berbagai perubahan aktual pada suatu pabrik tertentu. Sebaliknya rencana reaksi (reaction plan) adalah rencana yang dirancang untuk membuat perusahaan dapat bereaksi terhadapa situasi yang tak terduga. Di salah satu pabrik Nissan, peralatan baru tiba lebih awal dari yang diharapkan dan manajer pabrik harus menutup produksi lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Oleh karena itu, manajer tersebut harus bereaksi terhadap kejadian yang berada di luar kendali mereka dalam cara yang masih memungkinkan tercapainya tujuan.

Tanggung Jawab untuk Menetapkan Tujuan Perencanaan
1.      Staf Perencanaan
          Khususnya staf perencanaan dapat mengurangi bban kerja manajer individual, membantu mengkoordinasikan aktivitas perencanaan manajer individual, membawa berbagai alat dan teknik yang berbeda untuk menyelesaikan masalah tertentu, berwawasan yang lebih luas dibanding manajer individual, dan melangkah jauh melmpaui proyek dan departemen tertentu.
2.      Satuan Tugas Perencanaan
         Organisasi terkadang menggunakan satuan tugas untuk membantumengembangkan rencana. Satuan tugas semacam itu seringkali terdiri dari manajer lini dengan suatu minat khusus dalam bidang perencanaan yang relevan.
3.      Dewan Direksi
          Dewan direksi (board of directors) bertugas menetapkan misi dan strategi perusahaan. Di beberapa perusahaan, dewan tersebut erperan aktif dalam proses perencanaan. Di CBS, misalnya, dewan direksi biasanya berperan dalam perencanaan. Di perusahaan lain, dewan memilih seorang eksekutif kepala yang kompeten dan mendelegasikan perencanaan kepada individu tersebut.
4.      Chief Executive Officer (CEO)
          Chief Executive Officer (CEO) biasanya presiden direktur atau ketua dari dewan direksi. CEO mungkin individu tunggal yang paling penting dalam setiap proses perencanaan organisasi. CEO memainkan suatu peran utama dalam menyelesaikan proses perencanaan dan bertanggung jawab untuk mengimplementasikan strateggi. Dewan dan CEO kemudian berperan langsung dalam perencanaan. Komponen organisisional lain yang terlibat dalam proses perencanaan memiliki peran sebagai penasihat atau konsultan.
5.      Komite Executive
         Komite eksekutif (executive commitee) biasanya terdiri dari eksekutif puncak dalam organisasi yang bekerja sama sebagai suatu kelompok. Anggota komite eksekutif seringkali dibebankan pada berbagai staf komite, subkomite, dan satuan tugas untuk berkonsentrasi pada proyek tertentu atau masalah yang mungkin dihadapi seluruh organisasi pada suatu waktu di masa depan.
6.      Manajemen Lini
           Komponen terakhir dari sebagian besar aktivitas perencaanaan organisasi adalah manajemen lini (line management). Manajer lini adalah orang yang memiliki otoritas formal dan tanggung jawab untuk manajemen organisasi. Mereka memainkan suatu peran penting dalam proses perencanaan oranisasi karena dua alasan. Pertama, mereka merupakan sumber informasi berharga dari dalam organisasi untuk manajer lain etika rencana diformulasikan dan diimplementasikan. Kedua, manajer lini di tingkat menengah Dn rendah dari organisasi biasanya harus melaksanakan rencana yang dikembangkan oleh manajemen puncak. Manajemen lini mengidentifikasikan, menganalisis, dan merekomendasikan alternatif program, membuat anggaran, dan mengajukannya untuk disetujui, dan akhirnya melaksanakan rencana.
Ä PERENCANAAN KONTINJENSI
Jenis perencanaan lain yang juga penting adalah perencanaan kontinjensi (contingency planning) yaitu penentuan serangkaian tindakan alternatif jika suatu rencana tindakan secara tidak terduga tergganggu atau dianggap tidak sesuai lagi.

1.8  HAMBATAN DALAM PENETAPAN DAN TUJUAN DAN PERENCANAN
a.    Tujuan yang Tidak Tepat
           Tujuan yang tidak tepat mempunyai banyak bentuk. Membayar deviden yang besar kepada pemegang saham mungkin tidak jika dananya didapatkan dengan mengorbankan penelitian dan pengembangan tujuan mungkin juga tidak tepat jika tujuan tersebut tidak dapat dicapai. Jika Kmart menetapkan tujuan untuk memperoleh lebih bayak pendapatan dibanding Wal-Mart tahun depan, karyawan perusahaan mungkin. Tujuan juga tidak tepat jika tujuan itu menepatkan terlalu banyak penekanan pada ukuran kuantitatif maupun kalitatif dari keberhasilan.
b.    Sistem Penghargaan yang Tidak Tepat
           Dalam beberapa lingkungan, sistem penghargaan yang tidak tepat merupakan hambatan dalam penetapan tujuan dan perencanaan

c.    Lingkungan yang Dinamis dan Kompleks
           Sifat dari suatu lingkungan organisasi juga merupakan hambatan bagi penetapan tujuan dan perencanaan yang efektif. Perubahan yang cepat, inovasi teknologi, dan persaingan yang ketat juga dapat meningkatkan kesulitan bagi suatu organisasi untuk secara akurat mengukur kesempatan dan ancaman di masa mendatang
d.   Keengganan untuk Menetapkan Tujuan
           Hambatan lain terhadap perencanaan yang efektif adalah tujuan bagi mereka sendiri dan untuk unit-unit yang merupakan tanggung jawab mereka. Alasan untuk ini mungkin adalah kurangnya rasa percaya diri atau takut akan kegagalan. Jika seorang manajer menetapkan suatu tujuan spesifik, ringkas, dan berhubungan dengan waktu, maka apakah ia mencapai atau tidak mencapai tujuan tersebut akan tampak nyata.
           Manajer yang secara sadar atau tidak sadar berusaha untuk menghindari tingkat tanggung jawab ini lebih mungkin untuk menghindari usaha perencanaan organisasi. Pfizer, suatu perusahaan farmasi besar, mengalami masalah karena manajernya tidak menetapkan tujuan untuk penelitian dan pengembangan. Sebagai akibatnya, organisasi tersebut jauh tertinggal di belakang karena manajer tidak memiliki cara untuk mengetahui seberapa efektif usaha penelitian dan pengembangan mereka sebenarnya.
e.     Penolakan terhadap Perubahan
           Hambatan lain dalam menetapkan tujuan dan perencanaan adalah penolakan terhadap perubahan. Perencanaan pada intinya terkait dengan perubahan sesuatu dalam organisasi. Avon Products hampir membuat dirinya sendiri bangkrut beberapa tahun yang lalu karena perusahaan bersikeras melanjutkan kebijakan pembayaran deviden yang besar kepada para pemegang sahamnya.
           Ketika laba mulai turun, manajer menolak memotong deviden dan mulai melakukan pinjaman untuk membayar deviden tersebut. Hutang perusahaan meningkat dari $3 juta menjadi $1,1 miliar dalam waktu delapan tahun. Pada akhirnya, manajer terpaksa menyelesaikan masalah dan memotong deviden.
f.     Keterbatasan
           Keterbatasan (constraints) yang membatasi apa yang dapat dilakukan organisasi merupakan hambatan utama yang lain.
           Mengatasi Hambatan
a.    Pemahaman Maksud Tujuan dan Rencana
           Salah satu cara terbaik untuk memperlancar penetapan tujuan dan proses perencanaan adalah dengan maksud dasarnya. Manajer seharusnya juga mengetahui bahwa terdapat keterbatasan pada efektivitas penetapan tujuan dan pembuatan rencana.
           Dan penetapan tujuan dan perencanaan yang efektif tidak selalu memastikan keberhasilan, penyesuaian dan pengecualian diharapkan dari waktu ke waktu.
b.    Komunikasi dan Partisipasi
           Meskipun mungkin dibuat pada tingkat tinggi, tujuan dan rencana tersebut harus dikomunikasikan kepada pihak yang lain dalam organisasi. Setiap orang yang terlibat dalam proses perencanaan seharusnya tahu landasan apa yang mendasari strategi fungsional, dan bagaimana strategi-strategi tersebut diintegrasikan dan dikoordinasikan.
           Orang-orang yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan dan mengimplementasikan  rencana harus didengar pendapatnya dalam mengembangkan strategi tersebut. Setiap orang hampir selalu memiliki informasi yang berharga untuk disumbangkan / dan karena mereka yang akan mengimplementasikan rencana / keterlibatan mereka sangat penting orang biasanya lebih berkomitmer pada rencana yang pembentukannya mereka bantu .bahkan ketika suatu organisasi agar bersifat sentralistis atau menggunakan staf perencanaan, manajer dari berbagai tingkan dalam organisasi seharusnya dilibatkan dalam proses perencanaan.
c.    Konsistensi /revsi /dan pembaruan
           Tujuan seharusnya konsisten baik secara hori zontal maupun secara vertikal .konsistensi horizotal berarti bahwa tujan  seharusnya konsisten diseluru organisasi / dari satu departemen ke departemen lainnya. Konsistensi  vertikal  berarti bahwa tujuan  seharusnya konsisten  dari atas hingga ke bawah   organisasi : tujuan stategis, taktis, dan operasional harus selaras. Karena penetapan tujuan dan perencanaan merupakan proses yang dinamis, tujuan dan perencanaan juga harus direvisi dan diperbarui secara berkala. Banyak organisasi melihat perlunya merevisi dan memperbarui dengan frekuensi yang semakin sering.
d.    Sistem Penghargaan yang Efektif
           Secara umum, orang seharusnya diberi penghargaan baik karena menetapkan tujuan dan rencana yang efektif, maupun karena berhasil mencapainya. Karena kegagalan terkadang berasal dari faktor-faktor di luar pengendalian manajemen, orang seharusnya dipastikan bahwa kegagalan dalam mencapai tujuan tidak akan selalu memiliki konsekuensi hukuman.

BAB III MEMBUAT PROGRAM
2.1 TAHAPAN MEMBUAT PROGRAM DENGAN BAIK
              Dengan kemajuan teknologi keinginan dan kebutuhan akan informasi semakin meningkat juga, apalagi sekarang mulai masuk era online, era cepat saji, sehingga kebutuhan akan data dan informasi yang cepat saji menjadi keinginan mutlak pimpinan,institusi bahkan client kita.
              Untuk itu perancanagn sistem atau program untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus dirancang dengan baik dan tepat, apalagi sekarang banyak pemimpin yang sebenarnya tidak mengetahui seluk beluk dari sistem/program tapi berani memutuskan untuk merancang dan menyediakan sistem/program tersebut dalam waktu yang singkat.
              Bahkan menganggap membuat program seperti kayaknya menggoreng tempe yang menunggu minyak panas tempe dimasukkan, dibolak-balik dah jadi tidak sampai 30 dah jadi. Berdeda dengan prorgram dah jadi yang sudah menjadi produk masal, tidak membutuhkan modifikasi. kalau itu tinggal membeli cd program dah jadi tersebut sehingga  tidak usah memerlukan analisis lagi karena programnya dah jadi dan ndak bisa/perlu di modif.
              Untuk bisa menghasilkan program yang baik memerlukan analisis yang baik pula, baik itu analisis sistem, stuktur data maupun analisis requirement, selin itu juga dipelukan persiapan-persiapan yang matang. Hal ini berlaku bagi siapapun, bahkan seorang programmer professional sekalipun.  Sedangkan tahapan apas aja untuk membuat program yang baik akan saya jelaskan dibawah.
              Program memang sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat IT. karena segala sesuatu yang dilakukan di dalam IT pastilah memerlukan program. Program yang paling sederhana sekalipun setidaknya memiliki 3 bagian:
Input – Masukan data.
Proses – pemrosesan input.
Output – keluaran program, kebutuhan yang kita harapkan.
              Dalam membuat program, pemrograman adalah pokok dari proses pembuatan program itu sendiri namun pemrograman bergantung dari pemahaman persoalan, analisis sistem, perencanaan-perencanaan  dalam mendesain program itu sendiri.
              Selain pemrograman hal yang utama harus dilakukan adalah merencanakan langkah-langkah yang harus diambil dalam menyelesaikan masalah. Karena dengan mengetahui masalah dan langkah-langkah penyelesaikan berarti kita sudah menyelesaikan program tersebut sebanyak 50% dari total pekerjaan, selanjutnya adalah teknis pembuatan itu sendiri yang di kenal dengan pemrograman/koding.Sebaliknya jika kita tidak bisa mengetahui masalah dan belum bisa membuat perencanaan berarti kita sudah merencanakan kegalan itu sendiri.

Dalam membuat sebuah program setidaknya ada beberapa hal yang perlu anda lakukan:
2.2 MENDEFINISIKAN MASALAH/DEFINING THE PROBLEM
Masalah/Probem disini adalah kompenan apa saja yang diperlukan agar program ini jalan dikenal dengan masukan/inputnya apa saja, mendefinisikan apa yang nanti akan dilakukan oleh program dan bagaimana keluaran dari program yang kita harapkan nantinya. Pada tahap ini juga dikenal requirement analisis atau analisa kebutuhan.

2.3 PERENCANAAN/PLANNING/DESAIN SYSTEM
            Pada tahap ini adalah medefinisikan langkah-langkah apa saja yang dilakukan oleh program dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Bentuk dari perencanaan itu bisa berupa flowchart ataupun algoritma dari program, sehingga kita akan tahu proses apa saja yang ada dalam program tersebut. semakin detail flowchart  atau algoritma yang dibuat semakin mudah juga pada tahap implementasi/coding nantinya.
              Flowchart adalah suatu diagram menggunakan simbol-simbol khusus yang sudah menjadi standard internasional yang berisi langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu masalah. sedangkan algoritma kbukan merupakan simbol tapi keterangan-keterangan yang sesuai dengan  keinginan kita, tidak ada standarnya. Oleh karena itu flowchart biasa juga disebut sebagai algoritma dalam bentuk simbol-simbol khusus yang dihubungkan dengan anak panah.
Membuat flowchart terlebih dahulu akan lebih menghemat waktu daripada langsung melakukan coding sambil mencoba-coba. Kegiatan mencoba-coba akan menghabiskan waktu ketika implementasi/koding karena harus merubah koding yang lumayan banyak. Karena itu, biasakan membuat flowchart terlebih dahulu sebelum memecahkan suatu masalah.

2.4 IMPLEMENTASI/KODING/PROGRAMMING
Kini saatnya anda menulis program, tahap ini juga mencakup tahap perbaikan error dan testing. Menulis program dengan terstruktur dan sesuai dengan flowchart yang telah kita buat.

2.5  DOKUMENTASI/DOCUMENTATION
Setelah tahap coding selesai, sangat disarankan bagi anda untuk membuat semacam dokumentasi. Tambahkan komentar-komentar pada program anda dan “bukukan” program yang akan anda buat. Hal ini akan bermanfaat jika anda sudah membuat program yang begitu banyak, dan suatu ketika nanti (mungkin bertahun-tahun kemudian) anda ingin mengambil sebagian dari code program anda yang lama untuk disisipkan pada program anda yang baru. Bayangkan jika anda tidak membuat dokumentasi, waktu anda akan sangat terbuang dengan menelusuri program-program lama anda satu-persatu.
Testing
Unit Testing
Menguji setiap unit dan modul yang terdapat dalam program tersebut
Integration Testing
Menguji integrasi yang dilakukan kepada program seperti halnya ketika program tersebut sudah diinstall di client kita yang membutuhkan integrasi dengan sisitem yang lain seperti halnya integrasi dengan database.
Validation Testing
menguji masukan yang diberikan kepada program. apapun masukannya program harus bisa menyelesaikan dengan baik.
Sistem Testing
Pada tahap ini menguji permorfa dari program, apabila program dijalankan dengan kondisi-kondisi tertentu bagaimana?

2.6  OPERASIONAL DAN   MAINTENANCE
Pada tahap ini sebenarnya bagaimana program yang telah kita buat dan testing ini bekerja sebagaimana mestinya, update program, menyeselaikan bug yang tidak ditemukan pada saat testing, serta pengembangan yang dapat dilakukan dengan program tersebut. Setelah kita tahu bagaimana atau langkah -langkah dalam membuat program yang baik, alangkah sebaiknya dalam perencanaan sistem atau program tidak asal-asalan bahkan hanya menganggap seperti menggoreng tempe itu tadi, dibolak-balik matang, ingat Programmer juga manusia. bukan robot yang sekali pencet bisa menyelesaikan masalah.










BAB IV PENUTUP
2.7 KESIMPULAN
Perencanaan merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutama dalam menghadapi lingkungan eksternal yang berubah dinamis. Dalam era globalisasi ini, perencanaan harus lebih mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis, bukan hanya pada intuisi 8 dugaan.
Dalam perencanaan terdiri dari macam-macam perencanaan, yaitu perencanaan organisasi dan perencanaan kontijensi. Perencanaan organisasi terbagi menjadi 3 yaitu perencanaan strategis, taktis dan operasional. Adapun kerangka waktu dala perencanaan organisasi yaitu sebagai berikut : rencana jangka panjang, jangkah menengah, dan jangka pendek.
Suatu perencanaan juga terdapat berbagai hambatan dalam penetapan tujuan. Hambatan tersebut antara lain tujuan yang tidak tepat, sistem penghargaan yang tidak tepat, penolakan terhadap perubahan dan keterbatasan.

2.8 SARAN
Sebaiknya dalam mengambil keputusan dan tindakan dalam berbagai bentuk organisasi menggunakan proses dasar manajemen berupa perencanaan.
Dalam sebuah prencanaan perlu memperhatikan sifat rencana yang baik untuk mencapai hasil yang diinginkan.