Kamis, 05 April 2012

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT


BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Terlahirnya Pancasila sebagaimana tercatat dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, merupakan sublimasi dan kristalisasi dari pandangan hidup (way of life) dan nilai-nilai budaya luhur bangsa yang mempersatukan keanekaragaman bangsa kita menjadi bangsa yang satu, Indonesia. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, serta negara-negara Eropa Barat lainnya, yang menjadi suatu negara bangsa (nation state) karena kesamaan bahasa. Atau negara-negara lainnya, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan wilayah daratan. Latar belakang historis dan kondisi sosiologis, antropologis dan geografis Indonesia yang unik dan spesifik seperti, bahasa, etnik, atau suku bangsa, ras dan kepulauan menjadi komponen pembentuk bangsa yang paling fundamental dan sangat berpengaruh terhadap realitas kebangsaan saat ini. Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar falsafah Negara Indonesia harus diketahui dan dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga, dan menjalankan nilai-nilai serta norma-norma positif yang terkandung dalam sila-sila pancasila hingga menjadi bangsa yang kuat dalam menghadapi kisruh dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, politik baik nasional maupun internasional seperti yang sedang kita alami belakangan ini.
BAB II PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT
A.    Pengertian Filsafat
          Secara etimologis istilah ”filsafat” berasal dari bahasa Yunani yaitu “philein” yang artinya “cinta” dan “sophos” yang artinya “hikmah” atau “kebijaksanaan” atau “wisdom” (Nasution. 1973). Jadi secara harfiah istilah “filsafat” mengandung makna cinta kebijaksanaan. Dan nampaknya hal ini sesuai dengan sejarah timbulnya ilmu pengetahuan, yang sebalumnya dibawah naungan filsafat. Namun demikian jikalau kita membahas pengartian filsafat dalam hubungannya dengan lingkup bahasannya maka mencakup banyak bidang bahasannya antara lain tantang manusia, alam, pengetahuan, etika, logika, dan lain sebagainya.   Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka muncul pula fisafat yang berkaitan dengan bidang-bidang ilmu tertentu antara lain filsafat politik, sosial, hukum, bahasa, ilmu pengetahuan, agama, dan bidang-bidang ilmu lainnya.
          Keseluruhan arti filsafat yang meliputi berbagai masalah tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam sebagai berikut.
Pertama : Filsafat sebagai produk yang mencakup pengertian.
1.      Filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep, pemikiran-pemikiran dari para filsuf pada zaman dahulu yang lazimnya merupakan suatu aliran atau sistem filsafat tertentu, rasionalisme, materialisme, pragmatisme dan lain sebagainya.
2.      Filsafat sebagai suatu jenis problema yang dihadapi oleh manusia sebagai hasil dari aktivitas berfilsafat. Jadi manusia mencari suatu kebenaran yang timbul dari persoalan yang bersumber pada akal manusia.
Kedua : Filsafat sebagai suatu proses, yang dalam hal ini filsafat diartikan dalam bentuk suatu aktifitas berfilsafat, dalam proses pemecahan suatu permasalahan dengan menggunakan suatu cara atau metode tertentu yang sesuai dengan objeknya.
              Adapun cabang-cabang filsafat yang pokok adalah sebagai berikut :
1.      Metafisika, yang membahas tentang hal-hal yang bereksistensi dibalik fisis.Yang meliputi bidang-bidang, ontologi, kosmologi, dan antropologi.
2.      Epistemologi, yang berkaitan dengan persoalan hakikat pengetahuan.
3.      Metodologi, yang berkaitan dengan persoalan hakikat metode dalam ilmu pengetahuan.
4.      Logika, yang berkaitan dengan persoalan filsafat berpikir. Yaitu rumus-rumus dan dalil-dalil berfikir yang benar.
5.      Etika, yang berkaitan dengan moralitas, tingkah laku manusia.
6.      Estetika, yang berkaitan dengan persoalan hakikat keindahan.
Berdasarkan cabang-cabang filsafat inilah kemudian munculah berbagai macam aliran dalam filsafat.
B.     Rumusan Kesatuan Sila-sila Pancasila Sebagai Suatu Sistem
              Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sistem filsafat.Pengertian sistem adalah sauatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan , saling bekerja sama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sistem lazimnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.         Suatu kesatuan bagian-bagian.
2.         Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
3.         Saling berhubungan dan saling ketergantungan
4.         Keseluruhannya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu ( tujuan sistem )
5.         Terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks ( shore dan voich. 1974 )
Pancasila yang terdiri atas bagian-bagian yaitu sila-sila pancasila setiap sila pd hakiktnya merupkan suatu asas sendiri. Fungsi sendiri-sendiri namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang sistematis.
1.        Susunan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Bersifat Organis
            Isi sila-sila pancasila pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan dasar filsafat negara indonesia terdiri atas lima sila yang masing-masing merupakan suatu asas peradaban. Namun demikian sila-sila pancasila itu merupakan suatu kesatuan dan keutuhan yaitu setiap sila merupakan unsur (bagian yang mutlak) dari pancasila. Maka pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal. Konsekuensinya setiap sila tidak dapat berdiri sendiri-sendiri terlepas dari sila-sila lainnya serta diantara sila satu dan yang lainnya tidak saling bertentang.
            Kesatuan sila-sila pancasila yang bersifat organis tersebut pada hakikatnya secara filosofis bersumber pada hakikat dasar ontologis manusia sebagai pendukung dari inti, Isi dari sila-sila pancasila yaitu hakikat manusia ‘monopluralis’ yang memiliki unsur-unsur ‘susunan kodrat’ jasmani rokhani, ‘sifat kodrat’ individu makhluk sosial dan ‘kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri sendiri makhluk tuhan yang maha esa. Unsur-unsur hakikat manusia tersebut merupakan suatu kesatuan yang bersifat organis dan harmonis. Setiap unsur memiliki fungsi masing namun saling berhubungan. Oleh karena sila-sila pancasila merupakan penjelmaan hakikat manusia’monopluralis’ yang merupakan kesatuan organis maka sila-sila pancasila juga memiliki kesatuan yang bersifat organis pula.
2.        Susunan Pancasila yang Bersifat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal
            Susunan pancasila adalah hierarkhis dan berbentuk piramidal. Pengertian matematis piramidal digunakan untuk menggambarkan hubungan hierarkhi sila-sila pancasila dalam urut-urutan luas (kwantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya (kwalitas). Kalau dilihat dari intinya urut-urutan lima sila menunjukan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya dan isi sifatnya merupakan pengkhususan dari sila-sila di mukanya.
            Jika ururt-urutan lima sila dianggap mempunyai maksud demikian maka diantara lima sila ada hubungan yang mengikat yang satu kepada yang lainnya sehingga pancasila merupakan suatu keseluruhan yang bulat. Andai kata urut-urutan itu dipandang sebagai tidak mutlak maka diantara satu sila dengan sila lainnya tidak ada sangkut pautnya. Maka pancasila itu menjadi terpecah-pecah, oleh karena itu tidak dapat dipergunakan sebagai asas kerokhanian negara. Setiap sila dapat diartikan dalam bermacam-macam maksud, sehingga sebenarnya sama saja dengan tidak ada pancasila.
            Kesatuan sila-sila pancasial yang memiliki susunan hierarkhis piramidal ini maka sila ketuhanan yang maha esa menjadi basis dari sila kemanusian yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, sebaliknya ketuhanan yang maha esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan, berpersatuan, kerakyatan yang serta keadilan sosial sehingga di dalam setiap sila senantiasa terkandung sila-sila lainnya.
            Secara ontologis hakikat sila-sila pancasila mendasarkan pada landasan sila-sila pancasila yaitu: tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil (notonagoro,1975:49).
            Berdasarkan hakikat yang terkandung dalam sila-sila pancasila dan pancasila sebagai dasar filsafat negara, maka segala hal yang berkaitan dengan sifat dan hakikat negara harus sesuai dengan landasan sila-sila pancasila. Hal itu berarti hakikat dan inti sila-sila pancasila adalah sebagai berikut: sila pertama Ketuhanan adalah sifat-sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat Tuhan, sila kedua Kemanusiaan adalah sifat-sifat dan keadaan negara yang harus sesuai dengan hakikat manusia, sila ketiga Persatuan adalah sifat-sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat satu, sila keempat Kerakyatan sifat-sifat dan keadaan negara yang harus sesuai dengan hakikat rakyat, sila kelima Keadilan adalah sifat-sifat dan keadaan negara yang harus sesuai dengan hakikat adil. (Notonagoro, 1975:50).
            Kesesuaian yang dimaksud adalah kesesuaian antara hakikat nilai-nilai sila-sila pancasila dengan negara, dalam pengertian kesesuaian sebab dan akibat. Makna kesesuaian tersebut adalah sebagai berikut, bahwa hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa (sebagai sebab) (hakikat sila I dan II) yang membentuk kesatuan mendirikan negara dan persatuan manusia dalam suatu wilayah disebut rakyat (hakikat sila III dan IV), yang ingin mewujudkan suatu tujuan bersama yaitu suatu keadilan dalam suatu persekutuan hidup masyarakat negara (keadilan sosial) (hakikat sila V) demikianlah maka secara konsisten negara haruslah sesuai dengan hakikat pancasila.
Rumusan Pancasila yang Bersipat Hierarkhis dan Berbentuk Piramidal
1.      Sila pertama : Ketuhanan yang maha esa adalah meliputi dan menjiwai sila-sila kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratakan / perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
2.      Sila kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap adalah diliputi dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang maha esa. Meliputi dan menjiwai sila persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
3.      Sial ketiga : Persatuan indonesia adalah diliputi dan dijiwai sila ketuhanan yang maha esa, kemanusian yang adil dan beradap, meliputi dan menjiwai sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
4.      Sila keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan adalah diliputi dan dijiwai oleh sila-sila ketuhanan yang maha esa,kemanusiaan yang adil dan beradab, kesatuan indonesia, serta meliputi dan menjiwai sila  keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
5.      Sila kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia adalah diliputi dan dijiwai oleh sila-sila ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan serta keadilan sosial bagi selurh rakyat indonesia.
3.      Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-sila Pancasila yang Saling Mengisi dan Saling Mengkualifikasi
       Kesatuan sila-sila Pancasila yang ‘Majemuk Tunggal’, ‘Hierarkhis Piramidal’ juga memiliki sifat saling mengisi dan saling mengkualifikasi. Adapun rumusan kesatuan sila-sila pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
C.    Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat
       Kesatuan sila-sila panacasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang bersifat fromal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis. Selain kesatuan sila-sila pancasila itu hirarkhi dalam hal kuantitas juga dalam hal isi sipatnya yaitu menyangkut makna serta hakikat sila-sila pancasila.
       Dasar epistemologis serta dasar asiologis dari sila-sila pancasila.secara filosopis pancasila sebagai sistem filsapat memiliki dasar ontologis.dasar epitemologis dan aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem filsafat yang lainnya misalnya meterialisme.
1.      Dasar antropologis sila-sila pancasila
       Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat tidak hanya kesatuan yang menyangkut sila-silanya saja melainkan juga meliput hakikat dasar dari sila-sila pancasila atau secara filosofis meliput dasar ontologis sila-sila pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila setiap sila bukanlah merupaka asas yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologis.
2.      Dasar  Epistemologis Sila-sila Pancasila
     Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari pancasila merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa indonesia dalam memandang relalitas alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan kehidupan.
3.      Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila
     Sila-sila sebagai sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya sehinga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan.
Nilai-nilai pancasila sebagai suatu sistem
          Isi arti sila-sila pancasila pada hakikatnya dapat dibedakan atas hakikat pancasila yang umum universal yang merupakan subtansi sila-sila pancasila, sebagai pedoman pelaksanaan dan penyelengaraan negara yaitu sebagai dasar negara yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengamalan pancasila yang bersifat khusus dan kongkrit. Hakikat pancasila adalah merupakan nilai, ada pun sebagai pedoman negara adalah merupakan norma adapun aktualisasi atau pengamalannya adalah merupakan realisasi kongkrit pancasila. Prinsip-prinsip dasar tersebut telah menjelma dalam tertip sosial, tertip masyarakat dan tertip kehidupan bangsa indonesia yang dapat ditemukan dalam adat istiadat, kebudayaan serta kehidupan keagamaan bangsa indonesia.
D.      Pancasila sebagai Nilai Dasar Fundamental bagi Bangsa dan Negara Republik Indonesia
1.      Dasar filosofis
       Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nilai-nilai yang bersifat sistematis, mundamental dan menyeluruh. Dalam pengertian inilah maka sila-sila pancasila merupakan suatu sistem filsafat. Konsekuensinya kelima sila bukan terpisah-pisah dan memiliki makna sendiri-sendiri, melainkan memiliki esensi serta makna yang utuh.
2.      Nilai-nilai pancasila sebagai nilai fundamental negara
       Nilai-nilai pancasila sebagai dasar filsafat negara indonesia pada hakikatnya merupakan suatu sumber dari segala sumber hukum dalam negara indonesia.
Nilai-nilai pancasila terkandung dalam pembukan UUD 1945 secara yuridis memiliki kedudukan sebagai poko kaidah negara yang fundamental.
E.      Inti isi sila-sila pancasila
       Sebagai suatu dasar filsafat negara maka sila-sila pancasila merupakan suatu sistem nilai, oleh karena itu sila-sila pancasila itu pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan. Meskipun dalam setiap sila terkandung nilai yang memiliki perbedaan antara satu dengan yang lainnya namun kesemuannya itu tidak lain merupakan suatu kesatuan yang sistematis. Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila adalah sebagai berikut :
1)      Sila ketuhanan yang maha esa
            Sila ketuhanan yang maha esa ini nilai-nilainya meliput dan menjiwai keempat sila lainnya. Dalam sila ketuhanan yang maha esa terkandung nilai bahwa negara yang didirikan adalah sebagai makhluk tuhan yang maha esa.
2)      Sila kemanusiaan  yang adil dan beradab
             Sila kemanusian yang adil dan beradab secara sistematis didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang maha esa, serta mendasari dan menjiwai ketiga sila berikutnya.
3)      Persatuan indonesia
       Nilai yang terkandung dalam sila persatuan indonesia tidak dapat dipisahkan dengan keempat sila lainnya karena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat sistematis.
4)      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
       Nilai yang terkandung dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan didasari oleh sila ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan, dan mendasari serta menjiwai sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
5)      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
       Nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan.
       Kosekwensinya nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam hidup bersama adalah meliputi 1. Keadilan distributif yaitu suatu hubungan keadilan antara negara tehadap warganya dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban. 2. Keadilan legal (keadilan bertaat) yaitu suatu hubungan keadilan antara warga negara terhadap negara dan dalam masalah ini pihak wargalah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam negara. 3. Keadilan komutatif yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya secara timbal balik. 
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Setelah memperhatikan isi dalam pembahasan di atas, maka dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa indonesia.
2. Fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia yaitu:
a) Filasafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia
b) Filsafat Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia
c) Filsafat Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia
3. Bukti Falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia terbukti secara historis melalui dokumen-dokumen bersejarah dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia.

  1. Saran
Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya dalam pemahaman bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.