Sabtu, 05 Mei 2012

bahasa sbg media alat komunikasi


BAB I
BAHASA INDONESIA SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI

A.    Pengertian bahasa
            Pengertian bahasa  secara umum dapat difenisikan sebagai lambang. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi  yang  berupa sistem  lambang yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia.
            Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkab gangguan pada komunikasi  yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya.
            Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer  yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.
Fungsi bahasa dalam masyarakat :
1.      Alat untuk berkomunikasi dengan sesama  manusia.
2.      Alat untuk  bekerja sama dengan sesama  manusia.
3.      Alat untuk mengidentifikasi diri.
            Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005 : 1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. kedua, bahaasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan symbol-simbol vokal ( bunyi ujaran ) yang bersifat arbitrer. Lain halnya menurut  Owen dalam Stiawan ( 2006 : 1 ), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those syimbols and rule governed combinations  of those symbols ( bahasa dapat didefenisikan  sebagai kode yang diterima secara social atau sistem  konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan
simbol-simbol  yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan ). Pendapat diatas mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Tarigan
( 1989:4 ), beliau memberikan dua definisi bahasa.pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generative. Kedua , bahasa adalah seperangkat  lambang-lambang  nama suku atau symbol-simbol arbitrer.
            Menurut santoso ( 1990: 1 ), bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar. Definisi lain, Bahasa adalah suatu bentuk dan bukan suatu keadaan (lenguage may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem. Pengertian tersebut dikemukakan oleh Mackey:(1986:12).
Menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Hampir senada dengan pendapat Wibowo, Walija (1996:4), mengungkapkan definisi bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain. Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan. Sementara Pengabean (1981:5), berpendapat bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf.
Pendapat terakhir dari makalah singkat tentang bahasa ini diutarakan oleh Soejono (1983:01), bahasa adalah suatu sarana perhubungan rohani yang amat penting dalam hidup bersama.
              Bahasa Lisan lebih ekspresif dimana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
              Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara berkomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat seperti bisu dan tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri.
B.     Macam-macam bahasa
BAHASA INDONESIA
             Bahasa Indonesia ini penggunanya 250 juta dan belum termasuk pengguna bahasa Melayu di Brunei, Singapore, Malaysia dan Thailand selatan. Jika ditotal mungkin bisa mencapai 300 pengguna bahasa tersebut.

BAHASA ARAB
            Menurut Islam, bahasa pertama di dunia adalah bahasa arab. Bahasa arab juga merupakan golongan bahasa semitik yg dimana bhs ibrani (bahasa kaum yahudi) juga masuk di dalamnya. Sebagaimana bahasa arab, bahasa ibrani tidak mengenal huruf vokal dan juga ditulis dari kanan. Bahasa urdu (pakistan), persia (iran), dan pushto (pakistan – afghanistan) juga menggunakan huruf arab (huruf hijaiyyah) dalam penulisan tapi tidak termasuk kategori bahasa semitik penggunaan tulisan arab hanya merupakan pengaruh literatur Islam sebagaimana aceh yg juga menggunakan huruf arab tetapi berbahasa melayu/indonesia.
Menurut saya, bahasa Arab adalah bahasa dengan pengguna terbanyak di dunia. Mengapa? faktor agama (Islam). Semua orang arab (otal sekitar 225 juta yang terdiri dari Negara-negara liga arab) jelas bisa berbahasa arab. Dan semua orang Islam insya Allah pasti bisa baca Al Quran yang notabene berbahasa Arab. Atau at least dia hafal surat al fatihah yg bebahasa arab dan tahu sedikit-sedikit artinya.
Bahasa arab adalah satu-satunya bahasa di dunia yang mengguanakan sistem mizan (balance) dalam susunan kata kerjanya (fi’l). Misalnya kata: ka-ta-ba (he wrote). Kalau diubah sedikit artinya bisa berubah-berubah tapi artinya masih berkaitan, misal kaatib (writer), kitab (book), kutub (books), yaktubu (he writes), kutiba (it is written), maktab (a place for writing/office) etc
Contoh2 kata serapan bahasa arab di berbagai bahasa di dunia misalnya kata “al burj” yg artinya gedung tinggi. “al Burj” juga masuk ke bahasa prancis, yaitu “burjois” (org kaya krn mereka tinggal di kastil / gedung tinggi); ke bahasa jerman, yaitu nama kota “nurenberg, hamburg, etc”. Bahkan “influenza” pun juga dari bahasa arab “anfu” (hidung) dan “linza” (gangguan). Untuk lebih jelas tentag kata serapan bahasa arab ke bahasa inggris silahkan
Bagaimana dengan bahasa indonesia? Ada seorang ulama yg mengatakan bahwa kosakata bahasa indonesia ini mengandung 30% bahasa arab. Ini memang debatable, tapi lihatlah sebagian contoh kata berikut ini:
- musyawarah ==> bahasa arab “musyawarah”
- kursi ==> bahasa arab ” kursy”
- hikmat / hikmah ==> bahasa arab “ahli
- wakil ==> bahasa arab “wakiil” yg berasal dari kata “wakala”
- mu’tamar, mu’tamirin, hadir, alkohol, kitab, ilmu, huruf, manfa’at, mufakat, fasih, terjemah,etc.
Salah satu penyebab mendunianya bahasa arab adalah karena Khilafah Abbasiyah yg berpusat di Baghdad dan Khilafah Utsmaniyah yg berpusat di Andalusia-Spanyol ingin menterjemahkan ilmu-ilmu yunani ke bahasa arab. Disamping itu, luasnya wilayah kekuasaan Khilafah Islam (mulai maroko di afrika sampai maluku di indonesia; dan mulai afrika tengah sampai vienna-asutria + paris-prancis) menambah menjadikannya bahasa arab sebagai bahasa paling top kala itu. Dulu, Baghdad dan Andalusia dikenal sebagai kota pengetahuan di abad pertengahan. Semua pelajar di eropa berduyun2 mempelajari bsh arab dan kemudian sekolah di andalusia atau baghdad. Para mahasiswa abad pertengahan tersebut mempelajari bahasa arab bagikan mahasiswa jaman sekarang mempelajari bahasa inggris agar bisa study abroad. Raja Frederick dari Jerman dikenal sebagai satu-satunya raja di eropa yg lebih fasih bahasa arab ketimbang bahasa jerman. Intinya, ketika eropa masih dalam zaman kegelapan di abad pertengahan, dunia Islam berada di zaman penuh dengan cahaya ilmu pengetahuan. Hal ini diakui oleh para ahli di dunia barat yg mengatakan bahwa barat itu berhutang kpd dunia Islam.
BAHASA PRANCIS
            Bahasa Prancis termasuk dalam gol. bahasa latin. Menguasai bahasa Prancis, sedikit banyak dia akan tahu bahasa italia, portugis, spanyol, dan rumania banyak kosakata yg relatif sama meskipun pengucapannya berbeda.
BAHASA INGGRIS
            Tidak ada yg menggunakan bahasa inggris di abad pertengahan kecuali para kriminal. Bahasa eropa waktu itu hanyalah Prancis dan bahasa keduanya adalah latin atau italia. Tetapi waktu membuktikan lain. Setelah Perang Dunia, semua bangsa mengalami kekacauan, kecuali amerika. Para ilmuwan jerman yg terkenal hebat pun migrasi ke amerika yg dinilai sebagai land of opportunity. Jadilah sedikit demi sedikit amerika menguasai dunia ini dan tentunya bahasa amerika (inggris) pun ikut menguasai. India adalah negri persinggahan terakhir bagi bahasa inggris. Dan memang mayoritas orang india bisa berbahasa inggris. Di india dan pakistan, semua universitas menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Ini mirip dengan negeri-negeri arab di afrika utara yang menggunakan bahasa prancis sebagai bahasa pengantar di level universitas.
Bagi yg suka nonton film amrik pasti tahu banyak bahasa inggris. Misalnya
1. wanna = want to
2. gonna = going to
3. gotta = got to = have to
4. kata2 yg berakhiran -ing dibah jadi -in’, misal: i’m lovin’ it
5. damn = very jika dihubungkan dg adverb/adjective, damn hot = very hot. (yg ini khusus bahasa antar teman)
5. teman dari inggris menambahkan ==> BMW = be my wife.
C. Bahasa Negara
            Bagi Bahasa Indonesia adalah 18 Agustus 1945. Pada tanggal tersebut Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai Bahasa Negara. Ketetapan ini tercantum dalam Pasal 36 UUD 1945 yang berbunyi: Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia.
            Apakah arti Bahasa Negara? Pertama, Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi kenegaraan. Kedua menjadi bahasa pengantar dunia pendidikan. Ketiga menjadi alat perhubungan, dan keempat menjadi alat pengembangan Iptek & Kebudayaan.
            Selain sebagai bahasa negara, Bahasa Indonesia juga menjadi bahasa nasional. Dengan menjadi bahasa nasional, maka Bahasa Indonesia menjadi lambang kebanggaan nasional, lambang identitas nasional, alat pemersatu, alat perhubungan antar warga.
D.    Tujuan Mempelajari Bahasa
            Banyak orang yang belajar bahasa dengan berbagai tujuan yang berbeda. Ada yang belajar hanya untuk mengerti, ada yang belajar untuk memahami isi bacaan, ada yang belajar untuk dapat bercakap-cakap dengan lancar, ada pula yang belajar untuk gengsi-gengsian, dan ada pula yang belajar dengan berbagai tujuan khusus.
            Tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
E.     Ragam Bahasa
          Manusia merupakan mahluk sosial, manusia melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di  dalam masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat komunikasi yang berupa bahasa. Bahasa memungkinkan manusia membentuk kelompok sosial, sebagai pemenuhan kebutuhannya untuk hidup bersama. Dalam kelompok sosial tersebut manusia terikat secara individu. Keterikatan individu-individu dalam kelompok ini sebagai identitas diri dalam kelompok tersebut. Salah satu aturan yang terdapat di dalamnya adalah seperangkat aturan bahasa. Bahasa dalam lingkungan sosial masyarakat satu dengan yang lainnya berbeda. Adanya kelompok-kelompok sosial tersebut menyebabkan bahasa yang dipergunakan beragam.
          Keragaman bahasa ini timbul sebagai akibat dari kebutuhan penutur yang memilih bahasa yang digunakan agar sesuai dengan situasi konteks sosialnya. Oleh karena itu, ragam bahasa timbul bukan karena kaidah-kaidah kebahasaan, melainkan disebabkan oleh kaidah-kaidah sosial yang beraneka ragam. Dalam ragam bahasa setidaknya terdapat tiga hal, yaitu pola-pola bahasa yang sama, pola-pola bahasa yang dapat dianalis secara deskriptif, dan pola-pola yang dibatasi oleh makna tersebut dipergunakan oleh penuturnya untuk berkomunikasi.
          Ragam bahasa juga dapat dilihat dari  enam segi, yaitu tempat, waktu, pengguna, situasi, dialek yang dihubungkan dengan sapaan, status, dan penggunaan ragam bahasa (Pateda dalam Chaer 1987: 52). Tempat dapat menjadikan sebuah bahasa beragam, yang dimaksud dengan tempat di sini adalah keadaan tempat lingkungan yang secara fisik seperti di jalan, di Mall, hingga di lingkungan para waria.  Dari segi penggunaannya, bahasa dapat menimbulkan keberagaman juga, istilah penggunaan di sini adalah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Sedangkan ragam bahasa dilihat dari segi situasi akan memunculkan bahasa dalam situasi resmi dan bahasa yang digunakan dalam tidak resmi.
          Dalam bahasa resmi, bahasa yang digunakan adalah bahasa standar. Kestandartan ini disebabkan oleh situasi keresmiannya. Sedangkan dalam situasi tidak resmi ditandai oleh keintiman. Ragam bahasa gaul ditinjau dari ilmu  folklore adalah salah satu bentuk (genre) foklor yang disebut ”ujaran rakyat” (folk speech). Slang ini dapat berupa satu kalimat, tetapi dapat juga terdiri sebuah  kata yang tidak lazim di dalam bahasa nasional Indonesia yang resmi.  Bahasa Slang oleh Kridalaksana  (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi digunakan oleh kaum remaja, serta waria atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, digunakan oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga  dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim digunakan di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya dipertegas lagi kedalam bentuk. Slang ini selanjutnya dapat dipertegas lagi ke dalam bentuk cant, yaitu bahasa gaul yang diucapkan dengan nada atau intonasi tertentu sehingga terasa ringan, lucu, dan ekspresif cocok untuk suasana santai yang bersifat rahasia. Sedangkan cant yang khusus dipergunakan oleh para penjahat atau preman dikenal dengan istilah  Argot menurut Kridalaksana (1982:14) bahasa dan perbendaharaan kata suatu kelompok orang, seperti bahasa pencopet. 
          Sedangkan menurut Chear (1995:80)  Argot  adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi- profesi tertentu dan bersifat rahasia. Kelompok yang dimaksud disini adalah kelompok orang muda (orang yang merasa dirinya muda), maka yang sesuai dengan penelitian adalah  bahasa  Cant  yang berfungsi sebagai bahasa dari sekelompok orang atau kalangan tertentu terutama pada kelompok remaja dan waria. Pada tahun 1940-an cant tersebut berbentuk penggantian suku kata  (syllable) terakhir dari suatu kata dari suatu kata dengan ”se”. Sebagai contoh kata genis menjadi gense. Namun pada tahun 1980-an para pemuda usia ini mengambil alih bahasa prokem yang berasal dari para penjahat atau preman di Jakarta. Jadi ujaran  rakyat kelompok usia muda sejak itu telah mengubah slang nya dari sifat cant menjadi argot. Bahasa prokem ini kemudian telahberhasil menjadikan dirinya menjadi bahasa lisan dari orang Indonesia pada umumnya di daerah perkotaan. Bahasa pada kalangan homoseksual (gay dan lesbian) sangat menarik karena para homoseksual menciptakan cant tersendiri untuk kelompoknya.
          Bahasa para gay dan lesbian ini juga tidak langgeng, karena pada beberapa tahun ini telah timbul jenis cant  gay yang lain lagi, yang mereka namakan  bahasa gaul. Bahasa gaul saat ini semakin ngetop dan ngetrend, sehingga diambil alih juga oleh para remaja dan orang muda dari kalangan pengusaha, artis, film sinetron, mahasiswa dan lain- lain.Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, kalagan yang mengakui adanya prularitas orientasi seksual dikenal adanya pengguaan bahasa gaul yang secara budaya dan pengucapan mempertunjukkan kreasi dan kegairahan  mereka tanpa menjadi terjebak pada penyeragaman bahasa yang membosankan, tanpa daya pikir, anti-kenikmatan dan mentabukan seksual. Sebaliknya mereka  aktif menciptakan keragaman, merangsang gairah- gairah (pengucapan) oral mereka selalu aktif menciptakan  dan menciptakan literatur yang lebih terbuka pada kesenangan para gay dan lesbian.  Secara permukaan dimarjinalkan, masyarakat secara aktif mengagungkan satu orientasi seksual yang sakral mengadopsinya dalam bahasa keseharian mereka (contoh: ”bencong”)  di bawah ini adalah penjelasan singkat bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman, yang disebut bentuk bahasa ”binan” waria. Bahasa gaul khusus yang diciptakan para waria khususnys di jalan Gajah Mada Medan dalam berkomunikasi sesama kelompok termasuk kedalam gejala bahasa.
Ø  RAGAM BAHASA BERDASARKAN MEDIA/SARANA
 Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
 Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.
Contoh
Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis
1. Putri bilang kita harus pulang 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor 3. Saya bertempat tinggal di Bogor
Ø  RAGAM BAHASA BERDASARKAN PENUTUR
 Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek). 
          Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Misalnya logat bahasa Indonesia orang Jawa Tengah tampak pada pelafalan/b/pada posisiawal saat melafalkan nama nama kota seperti Bogor, Bandung, Banyuwangi, dan lain-lain . Logat bahasa Indonesia orang Bali tampak pada pelafalan /t/ seperti pada kata ithu, kitha, canthik, dan lain-lain
 Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur. 
          Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks,vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
contoh:
1) Ira mau nulis surat ð Ira mau menulis surat
2) Saya akan ceritakan tentang Kancil ð Saya akan menceritakan tentang Kancil.
Ø  Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur. 
            Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.
Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dipakai dalam situasi resmi/formal, baik lisan maupun tulisan.
Bahasa baku dipakai dalam :
a. pembicaraan di muka umum, misalnya pidato kenegaraan, seminar, rapat dinas memberikan kuliah/pelajaran;
b. pembicaraan dengan orang yang dihormati, misalnya dengan atasan, dengan guru/dosen, dengan pejabat;
c. komunikasi resmi, misalnya surat dinas, surat lamaran pekerjaan, undang-undang;
d. wacana teknis, misalnya laporan penelitian, makalah, tesis, disertasi.
Ø  RAGAM BAHASA MENURUT POKOK PERSOALAN ATAU BIDANG PEMAKAIAN
Dalam kehidupan sehari-hari banyak pokok persoalan yang dibicarakan. Dalam membicarakan pokok persoalan yang berbeda-beda ini kita pun menggunakan ragam bahasa yang berbeda. Ragam bahasa yang digunakan dalam lingkungan agama berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan kedokteran, hukum, atau pers. Bahasa yang digunakan dalam lingkungan politik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam lingkungan ekonomi/perdagangan, olah raga, seni, atau teknologi. Ragam bahasa yang digunakan menurut pokok persoalan atau bidang pemakaian ini dikenal pula dengan istilah laras bahasa.
Perbedaan itu tampak dalam pilihan atau penggunaan sejumlah kata/peristilahan/ungkapan yang khusus digunakan dalam bidang tersebut, misalnyamasjid, gereja, vihara adalah kata-kata yang digunakan dalam bidang agama; koroner, hipertensi, anemia, digunakan dalam bidang kedokteran;improvisasi, maestro, kontemporer banyak digunakan dalam lingkungan seni; pengacara, duplik, terdakwa, digunakan dalam lingkungan hukum;pemanasan, peregangan, wasit digunakan dalam lingkungan olah raga. Kalimat yang digunakan pun berbeda sesuai dengan pokok persoalan yang dikemukakan. Kalimat dalam undang-undang berbeda dengan kalimat-kalimat dalam sastra, kalimat-kalimat dalam karya ilmiah, kalimat-kalimat dalam koran/majalah, dll. Contoh kalimat yang digunakan dalam undang-undang.
Macam-Macam dan Jenis-Jenis Ragam/Keragaman Bahasa:
1. Ragam bahasa pada bidang tertentu seperti bahasa istilah hukum, bahasa sains, bahasa jurnalistik.
2. Ragam bahasa pada perorangan atau idiolek seperti gaya bahasa mantan presiden Soeharto, gaya bahasa benyamin s, dan lain sebagainya.
3. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu wilayah atau dialek seperti dialek bahasa madura, dialek bahasa medan, dialek bahasa sunda, dialek bahasa bali, dialek bahasa jawa, dan lain sebagainya.
4. Ragam bahasa pada kelompok anggota masyarakat suatu golongan sosial seperti ragam bahasa orang akademisi beda dengan ragam bahasa orang-orang jalanan.
5. Ragam bahasa pada bentuk bahasa seperti bahasa lisan dan bahasa tulisan.
6. Ragam bahasa pada suatu situasi seperti ragam bahasa formal (baku) dan informal (tidak baku).
MACAM-MACAM RAGAM BAHASA
1.Ragam
 baku adalah ragam bahasa yang oleh penuturnya dipandang sebagai ragam yang baik. Ragam ini biasa dipakai dalam kalangan terdidik, karya ilmiah, suasana resmi, atau surat resmi.
2.Ragam cakapan (ragam
 akrab) adalah ragam bahasa yang dipakai apabila pembicara menganggap kawan bicara sebagai sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau apabila topik pembicara bersifat tidak resmi
3.Ragam hormat adalah ragam bahasa yang dipakai apabila lawan bicara orang yang dihormati, misalnya orang tua dan atasan.
4.Ragam kasar adalah ragam bahasa yang digunakan dalam pemakaian tidak resmi di kalangan orang yang saling mengenal.
5.Ragam lisan adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman.
6.Ragam
 resmi adalah ragam bahasa yang dipakai dalam suasana resmi.
7.Ragam
 tulis adalah ragam bahasa yang digunakan melalui media tulis, tidak terkait ruang dan waktu sehingga diperlukan kelengkapan struktur sampai pada sasaran secara visual. Bahasa lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi. Bahasa isyarat atau gesture atau bahasa tubuh adalah salah satu cara bekomunikasi melalui gerakan-gerakan tubuh. Bahasa isyarat akan lebih digunakan permanen oleh penyandang cacat bisu tuli karena mereka memiliki bahasa sendiri.







  
BAB II
PEMAKAIAN EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

A.    PENGERTIAAN EJAAN
            Ejaan adalah seperangkat aturan tentang cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. dan suatu sistem aturan yang juah lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
A.    Ejaan fonemik
              Dalam penulisan istilah pada umumnya didasarkan pada ejaan fonemik; yang artinya, hanya satu bunyi yang berfungsi dalam bahasa Indonesia dilambangkan dengan huruf.
Misalnya: Presiden bukan president
                     Subyek bukan subject
                     Obyek bukan object
B.     Ejaan Etimologi
            Dalam menegaskan kelainan makna, untuk sepasang istilah dapat ditulis dengan mempertimbangkan ejaan etimologinya, yakni sejarah, sehingga bentuknya berlainan meskipun lafalnya mungkin sama.
Misalnya: bank lawan bang
                Sanksi lawan sangsi
C.     Transliterasi
              Aturan transliterasi, dapat dipakai di dalam pengejaan istilah, yakni penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, hal semacam ini, misalnya diterapkan pada huruf Arab, Dewanagari, Yunani, dan Siril (Rusia) yang hendak di alihkan ke huruf latin.
Misalnya: yaum ul-adha (hari kurban)
         Suksma (sukma)
         Psyche (jiwa, batin)
         Moskva (moskwa, moskou)


D.    Transkripsi
              Dalam pengubahan teks dari satu ejaan ke ejaan yang lain, dengan tujuan menyarankan lafal bunyi unsure bahasa yang bersangkutan disebut dengan transkripsi. Di sini ejaan fonetik termasuk kedalamnya.
Misalnya: I’meigou à imago
Istilah asing, yang dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia tanpa diterjemahkan, maka pada umumnya ditranskripsi terlebih dahulu.
Misalnya: conp d’etat à kudeta
                     Psychology à psikologi
E.     Ejaan Nama
              Perlu diperhatikan bahwa untuk penulisan ejaan nama diri yang didalam bahasa aslinya ditulis dengan huruf latin, maka tidak di ubah.
Misalnya: baekelun
Penyesuaian Ejaan
              Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang bertitik tolak dari bahasa melayu. Dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak menyerap unsur-unsur dari bahasa lain, baik itu dari bahasa daerah maupun bahasa asing, misalnya; Arab, Sansekerta, Belanda, Inggris, dan bahasa lainnya.
B.     EJAAN YANG BERLAKU SEKARANG
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang disempurnakan(EYD). EYD mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972. Ejaan ketiga dalam sejarah bahasa Indonesia ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan sebelumnya yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun yang dikenal dengan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi(Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat Ejaan itu diresmikan padatahun 1947).
Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (namaseorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik, dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.
C.    PENULISAN HURUF BESAR ATAU HURUF KAPITAL
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata awal kalimat.
Contoh: Selain buku juga penggaris dijual.
              Kamu harus belajar sungguh-sungguh
              Bagaimana itu bisa terjadi ?
              Mobil itu berjalan dengan cepat.
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh: Ibu bertanya, “Kapan Anton pergi ?”
              “Kemarin aku membeli baju baru” kata Budi
              Pak Lurah berseru, “Pemuda harus giat berkerja.”
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya.
Contoh: Yang Maha Kuasa
              Yang Maha Agung
              Alkitab
              Weda
              Qur’an
              Hindu
              Kristen
              Islam
              Tuhan selalu mengasihi semua ummat-Nya.
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh:  Imam Maliki
              Nabi Ibrahim
              Sultan Ageng Tirtayasa
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh: Presiden Soeharto
              Gubernur Wahono
              Perdana Menteri Nehru
              Profesor Supomo
Tetapi, perhatikanlah penulisan di bawah ini :
Siapakah presiden yang baru dilantik itu ?
Kolonel Hartono baru dilantik menjadi brigadier jendral.
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.
Contoh: Siti Mariam
              Huruf besar atau huruf capital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
Contoh: bangsa Indonesia
              Suku Jawa
              Bahasa Belanda
Tetapi, perhatikan penulisan dibawah ini.
Mengindonesiakan kata-kata asing kebelanda-belandaan.
              Huruf besar atau huruf capital dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, peristiwa sejarah.
Contoh: hari Selasa                Perang Candu
              Bulan Agustus         Perang Salib
              Tahun Saka              tahun Hijrah
              Hari Natal                tahun Masehi
              Hari Lebaran            Hari Galungan 
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Contoh: Surabaya                   Kali Serayu
              Asia Tenggara          Jazirah Arab
              Bayuwangi               Laut Jawa
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Contoh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
              Dewan Perwakilan Rakyat
              Kerajaan Sriwijaya
              Piagam Jakarta
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti: di, ke, dari, untuk dan yang, yang mana tidak terletak pada posisi awal.
Contoh: Azab dan Sengsara
              Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Atas
              Buana Minggu
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dipakai dalam singkatan nama, gelar dan sapaan.
Contoh: Ir. Insinyur S.E. Sarjana Ekonomi
              Ny. Nyonya S.H. Sarjana Hukum
              Nn. Nona S.S. Sarjana Sastra
              Sdr. Saudara M.A. Master of Arts
              Prof. Profesor dr. Dokter
Catatan: Untuk menulis singkatan selalau diikuti oleh tanda titik.
              Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, adik, saudara, kakak, dan paman.yang di pakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Contoh: Kapan Ayah datang ?
              Itu siapa, Bu ?
              Besok Adik dan Paman akan datang.
Catatan: Huruf besar atau huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan
Contoh: Semua karyawan mengikuti upacara.
              Semua lurah dan camat hadir di kantor kecamatan.
              Kita wajib menghormati bapak dan ibu kita.
D.    PENULISAN TANDA BACA
1.      Tanda Titik ( . )
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertnyaan atau seruan.
Contoh: Andi membeli baju baru.
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Contoh: Muh. Bisri
              A.R. Hartono
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan,dan sapaan.
Contoh: S.E. Sarjana Ekonomi
              S.H. Sarjana Hukum
              S.S. Sarjana Sastra
              dr. Dokter
Tanda titik dipakai pada akhir singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
Contoh: tgl.         Tanggal
              Dkk       dan kawan-kawan
              Dsb        dan sebagainya
              a.n.        atas nama
              u.p.        untuk perhatian
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik untuk menunjukan waktu.
Contoh: pukul 07.34. 15 (pukul 7 lewat 34 menit 15 detik).
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukan jumlah.
Contoh: Sunaryo pindah ke Jakarta tahun 1987.
              Pesawat teleponnya nomor 445342
Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat didalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
Contoh: Sekjen             Sekretaris Jendral
              ABRI              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambing kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Contoh: Na                   Natrium
              TNT                Trinitrololuena
              30 cm              Panjangnya 30 cm kurang sedikit
              20 kg               Ibu membeli 20 kg tepung terigu
              Rp 500,00       Harga buku itu Rp 500,00 perbuah.
Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, table, dan sebagainya.
Contoh: Acara Peresmian Monumen Bahari
Tanda titik tidak dipakai dalam dibelakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat.
Contoh:                                                                                                                       Jalan Melati 127
                                                                                                                           Bandung
                                                                                                                           10 Januari 2011
Yth. Sdr. Abd. Hasan
Jalan Kertajaya 127
Surabaya
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Contoh:
III. Departemen Dalam Negeri
A.    Direktorat Jendral Pebangunan Masyarakat Desa.
B.     Direktorat Jendral Agraria
Penyiapan Naskah : 1. Patokan Umum
1.1. Isi karangan
1.2. Ilustrasi
1.2.1.      Gambar
Tangan
1.2.2.      Tabel
1.2.3.      Grafik
2.      Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Contoh: Ibu membeli buah durian, jeruk, dan papaya.
              Satu, dua, … tiga !
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
Contoh: Ayah bukan pergi ke Jakarta, melainkan ke Bandung.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Karena sibuk, ayah tidak jadi pergi.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Contoh: Ibu tidak akan pergi kalau hari hujan
              Andi mengatakan bahwa buku itu harganya mahal.
              Anton tidak jadi membeli baju karena uangnya kurang.
Tanda koma dipakai dibelakang ungkapan atau kata penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk didalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Contoh: Oleh karena itu, kita harus membayarnya sekarang juga,
              Jadi kita harus menabung sejak sekarang juga.
Tanda koma dipakai dibelakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Contoh: O, begitukah hasilnya ?
              Wah, bukan main kerasnya !
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan lansung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: Kata Ibu, “Saya lelah sekali”.
              “Saya bangga sekali,” kata ayah, “karena anak-anakku telah menjadi sarjana semua.”
Tanda koma dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh: Bapak Haris Pambudi, Jalan Diponegoro 27, Surabaya
              Bandung, 17 Maret 1987.
              Surat-surat ini harap dikirim kepada Kepala Desa Bedali, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur.
Tanda koma dipakai di antara tempat peneritan, nama penerbit, dan tahun penerbitan.
Contoh: Yuwono, Salim Santosa, Drs, Perkembangan Sastra Indonesia, Surabaya, Bina Sarana, 1979
Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Siregar, Merari, Azab dan Sengsara, Weltevreden, Balai poestaka, 1920.
Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
Contoh: D. Sastranegara, S.H.
Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan dan diantara rupiah dan sen dalam bilangan.
Contoh: 44,50 kg
              Rp 25,75
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh: Ayah Pambudi, Pak Sartono, termasuk orang terkaya di kampong ini
              Di daerah kami, misalnya, masih banyak pemuda yang hanya lulus Sekolah Dasar.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Apabila petikan langsung tersebut berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru, dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
Contoh: “Sudah datangkah adikmu?” Tanya Ibu.
              “Bayar lunas sekarang juga !” perintahnya.
3.      Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Usia semakin tua; belum juga mendapatkan cucu.
Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Contoh: Ayah mengajar di SMP Negeri; ibu bekerja di Kantor Depdikbud; adik memasak di dapur; saya sendiri mencuci pakaian.
4.      Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dipakai pada akhir suatu peryataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh: Untuk kerja bakti ini kita membutukan alat-alat seperti: sabit, cangkul, dan sapu lidi.
Tanda titik dua dipakai sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemberian.
Contoh: 1. Ketua          : Bambang Legowo
                   Sekretaris   : Lilis Hartati
                   Bendahara  : Didik Sugandhi
              2. Hari             : Rabu
                   Tanggal      : 7 Juli 1972
                   Jam             : 09.00 WIB
                   Tempat       : Jalan Kencana 5 Surabaya
                   Acara         : Rapat Anggaran           
Tanda titik dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh: Ibu : “Keluarkan sepeda motornya segera, Dik!”
              Didik : “Baik, Bu.”
              Ibu : “Jangan lupa membawa keranjang. Untuk belanja !”
Tanda titik dua tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh: Kita sekarang memerlukan, meja, almari, bangku, dan papan tulis.
Tanda titik dua dipakai di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau di antara judul suatu karangan.
Contoh: Sarinah, I (1974), 32 : 4
              Surat Al-Baqarah : 24
              Karangan Idrus, Kisah Sebuah Celana Pendek : Celana Kepar, made in Italia
5.      Tanda Tanya ( ? )
Tanda Tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya.
Contoh: Kapan kamu berangkat ?
              Andi sudah datang?
Tanda Tanya dipakai diantara tanda kurung untuk menyatakan  bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.                                    
Contoh: Budi dilahirkan tahun 1828 ( ? )
6.      Tanda Seru ( ! )
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidak percayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Contoh: Alangkah hebatnya permainan itu !
              Bersihkan halaman rumah ini sekarang juga !
              Merdeka !
7.      Tanda Kurung ( )
Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh: Dia sekolah di SMA (Sekolah Menengah Atas) Budi Utomo.
Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angkat atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
Contoh: Pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang harus dipikul secara bersama oleh unsure-unsur:
              (1) pemerintah                             a) pemerintah
              (2) masyarakat                             b) masyarakat
              (3) orang tua murid                     c) orang tua murid
Tanda kurung mengapit atau penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari pokok pembicaraan.
Contoh: Memang di akui bahwa untuk dua jenis pelajaran (menurut kami harus dikatakan: ‘pengajaran’) ini ada metode dan sistimnya.
8.      Tanda Hubung ( - )
Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Contoh: …. Mari kita menunjukan prestasi yang lebih baik.
Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya.atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Contoh: …. cara yang baik meng-ambil udara
Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: anak-anak        berulang-ulang
              Lauk-pauk      bersama-sama
Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh: t-a-n-a-m-a-n
              15-11-1986
Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
Bandingkan: ber-evolusi dengan be-revolusi
                     Isteri-guru yang ramah dengan isteri guru-yang ramah.
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan –an, dan singkatan huruf  kapital dengan imbuhan atau  kata.
Contoh: se-Jawa Timur                             KTP-nya nomor 15467A
              se-Indonesia                                sinar-X
              hadiah ke-2                                 tahun 50-an
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh: di-export
              di-charter
9.      Tanda Petik Ganda (“….”)
Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi disebelah atas baris.
Contoh: “Sudah berangkat?” Tanya Halimah.
              “Belum, masih makan, “jawab Siti,”tunggu saja !”
Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
Contoh: Bacalah “Desaku Maju” dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia jilid II.
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Budi, “Saya sudah membayar kemaren sore.”
Tanda petik mengapit istilah ilmiah  yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai  arti khusus.
Contoh: Penemu “vaksin polio” telah medapat penghargaan berupa hadiah nobel.
Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
Contoh: Karena gemuknya, kucingku kuberi nama “Si Gendut”.
              Gajah mada seorang “mahapatih” pada masa kerajaan majapahit.
10.  Tanda Pisah ( - )
Untuk menyatakan suatu pikiran sampingan atau tambahan.
Contoh: Ada kritik yang menyatakan bahwa cara sisiwa belajar bahasa Inggris-khusus dalam pengucapannya – kutang baik.
Untuk menghimpun atau memperluas suatu rangkaian subyek atau bagian kalimat,sehingga menjadi lebih jelas.
Contoh: Rangkaian kegiatan ini – membersihkan lantai, membersihkan halaman rumah, mencuci pakaian – merupakan kegiatanku setiap harinya.
Tanda pisah dipakai diantara dua bilangan berarti ‘sampai dengan’ sedangkan bila dipakai antara dua tempat atau kota berarti kea tau sampai.
Contoh: Budi sekolah di Jakarta dari tahun 1978 – 1984
              Pameran industri itu berlangsung dari tanggal 12 – 24
Tanda pisah dipakai juga untuk menyatakan suatu ringkasan atau suatu gelar.
Contoh: Hanya satu pekerjaannya – dagang mobil.
              Inilah kedua anak saya yang saya ceritakan – Andi dan Anton
Dalam hal ini lebih lazim dipergunakan titik-titik dari pada tanda pisah.
11.  Tanda Petik Tunggal ( ‘….’ )
Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh: Anton berkata, “Tiba-tiba saya mendengar suara menegur seseorang ‘Siapa kamu ?’ “
              atau Anton berkata, “Tiba – tiba saya mendengar suara menegur seseorang “Siapa kamu” ?” ‘
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit terjemahan atau penjelasan sebuah kata atau ungkapan asing.
Contoh: Teriakan-teriakan binatang dan orang primitif oleh Wund disebut LAUTGEBARDEN’ gerak-gerik bunyi’.
12.  Tanda Ulang (…. 2 ) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
Contoh: dua2                marah2
              Mata2             pura2
13.  Tanda Penyingkat (apostrof) ( ‘ )
Tanda apostrof menunjukkan, menghilangkan bagian kata.
Contoh: Titin, ‘kan kuantar. (‘kan=akan)
14.  Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
Contoh: No. 104/SK/1985
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat.
Contoh: dewa/dewi      Jalan Kenari II/12
              Siswa/siswi     harganya Rp. 500.00/biji
15.  Tanda Elipsis (…)
Tanda ellipsis (titik-titik) yang dilambangkan dengan tiga titik (…) di pakai untuk menyatakan hal-hal berikut:
Ø  Untuk menyatakan ujaran yang terputus-putus , atau menyatakan ujaran yang terputus dengan tiba-tiba.
Contoh: Tuti selayakanya … selayaknya … menurut nasehat orang tuanya.
Tanda Ellipsis dipakai untuk menyatakan bahwa dalam suatu kutipan ada bagian  yang dihilangkan.
Contohnya: Sikap disiplin yang tinggi untuk menjalankan pemerintah yang bersih dan berwibawa … perlu dimantapkan.
Tanda ellipsis yang dipergunakan pada akhir kalimat karena menghilangkan bagian tertentu sesudah kalimat itu berakhir, menggunakan empat titik, yaitu satu sebagai titik bagi kalimat sebelumnya,dan tiga bagi bagian yang dihilangkan.
Contoh: Demi tegaknya hukum, serta kelancaran tata tertib hal ini sangat perlu … sehingga setiap “orang yang melanggar”, harus di tindak tegas.
Tanda ellipsis dipergunakan juga untuk meminta kepada pembaca mengisi sendiri kelanjutan dari sebuah kalimat.
Contoh: Mulanya bermodal kecil. Tetapi dia mempunyai dagangan yang cukup lengkap, gula, kopi, tape recorder, televisi berwarna, radio,bahkan semua kebutuhan dilayani. Entah dari mana dia dapat mengumpulkan modal sebesar itu ….!
16.  Tanda Kurung Siku ( […] )
Dipakai untuk menerangkan sesuatu di luar jalannya teks, atau sisipan keterangan (interpolasi) yang tidak ada hubungan dengan teks.
Contoh: Bila kita perhatikan lingkungan pemuda dari desa ini berhubungan [maksudnya:berhubungan] dengan kenyataan- kenyataan yang ada di luar desa ini.
Mengapit keterangan atau penjelasan bagi suatu kalimat yang sudah di tempatkan dalam tanda kurung.
Contoh: (Hanya menggunakan nada atau kombinasi nada-nada dan apa yang saya sebut persendian [atau mungkin kata lain perjedahan atau juncture itu])

BAB III
PEMAKAIAN EYD LANJUTAN

Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan untuk memperkaya kosa kata. Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya.
Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, namun manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Unsur bahasa asing dalam Bahasa Indonesia
Kata-kata bahasa Inggris yang telah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia tidak perlu digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Misalnya, workshop 'sanggar kerja' upgrading 'penataran' like it or not 'senang atau tidak senang' approach 'pendekatan' misunderstanding 'salah pengertian' problem solving 'pemecahan masalah' job-description 'uraian tugas'
Penggunaan unsur-unsur bahasa asing dalam wacana/kalimat bahasa Indonesia sangat berkaitan erat dengan masalah sikap bahasa. Sikap bahasa yang kurang positif, kurang bangga terhadap bahasa Indonesia, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebagai bahasa Indonesia, kita harus merasa bangga terhadap bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, agar tidak mengurangi nilai kebakuan bahasa Indonesia yang digunakannya, unsur-unsur bahasa asing tidak perlu digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Langkah yang dapat kita lakukan adalah mencarikan padanan dalam bahasa Indonesia atau serapan unsur asing itu sesuai dengan kaidah yang berlaku, seperti yang diatur dalam buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Unsur bahasa asing yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia harus mempertajam daya ungkap bahasa Indonesian dan harus memungkinkan orang menyatakan makna konsep atau gagasan secara tepat.

A.    Cara Menyerap Kata-kata Asing
Unsur bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia harus mempertajam daya ungkap bahasa Indonesia dan harus memungkinkan orang menyatakan makna konsep atau gagasan secara tepat.
Penyerapan unsur bahasa asing itu harus dilakukan secara selektif, yaitu kata serapan yang dapat mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indonesia. Kata itu memang diperlukan dalam bahasa Indonesia untuk kepentingan pemerkayaan daya ungkap bahasa Indonesia mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia modern.
Berikut beberapa contoh tentang hal itu.
Kata "''condominium''", diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan menjadi {{kata|kondominium}}. Demikian juga penyerapan kata {{kata|konsesi}}, {{kata|staf}}, {{kata|golf}}, {{kata|manajemen}}, dan {{kata|dokumen}}. Kata-kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyesuaian ejaan. Namun, kata "''laundry''" sebenarnya tidak diperlukan karena dalam bahasa Indonesia sudah digunakan kata {{kata|binatu}} dan {{kata|dobi}}. Perlakuan yang sama dapat dikenakan pada kata "''tower''" karena padanan untuk kata itu sudah ada dalam khazanah bahasa Indonesia, yaitu {{kata|menara}} atau {{kata|mercu}}. Kata "''garden''" yang pengertiannya sama dengan kata {{kata|taman}} atau {{kata|bustan}} juga tidak perlu diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Sejalan dengan pemaparan kosakata serapan itu, bagaimana dengan kata "''developer''" dan "''builder''"? Apakah perlu diserap? Kedua kata itu, sudah tidak asing lagi bagi penguasa yang bergerak dalam bidang pengadaan sarana tempat tinggal ataupun perkantoran. Akan tetapi, apakah tidak lebih baik jika pengguna bahasa Indonesia berusaha memasyarakatkan penggunaan kata {{kata|pengembang}} untuk padanan "''developer''" dan {{kata|pembangun}} untuk padanan ''builder''.
PENULISAN HURUF SERAPAN
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar.

B.     PEDOMAN PENYERAPAN
1.      Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti: reshuffle, shuttle cock, I'exploitation de l'homme par I'homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
2.      Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Kaidah ejaan

Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu sebagai berikut.
aa (Belanda) menjadi a
paal
baal
octaaf
pal
bal
oktaf
ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe
aerodinamics
aerob
aerodinamika
i pada awal suku kata di muka vokal tetap i
iambus
ion
iota
iambus
ion
iota
ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek
riem
politik
rim
kh (Arab) tetap kh
khusus
akhir
khusus
akhir
oo (Belanda) menjadi u
cartoon
proof
pool
kartun
pruf
pul
ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur
coupon
contour
gubernur
kupon
kontur

y menjadi i jika lafalnya i
yttrium
dynamo
propyl
psychology
itrium
dinamo
propil
psikologi
z tetap z
zenith
zirconium
zodiac
zygote
zenith
zirkonium
zodiak
zigot

Konsonan ganda

Konsonan ganda menjadi konsonan tunggal kecuali kalau dapat membingungkan.
Misalnya:
gabbro
effect
commision
ferrum
solfeggio
gabro
efek
komisi
ferum
solfegio
tetapi:
Mass
Massa

Catatan

1.      Unsur pungutan yang sudah lazim dieja secara Indonesia tidak perlu lagi diubah
Misalnya: kabar, sirsak, iklan, perlu, bengkel, hadir.
2.      Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf itu diindonesiakan menurut kaidah yang terurai di atas. Kedua huruf itu digunakan dalam penggunaan tertentu saja seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.

Akhiran asing

Di samping pegangan untuk penulisan unsur serapan tersebut di atas, berikut ini didaftarkan juga akhiran-akhiran asing serta penyesuaiannya dalam bahasa Indonesia. Akhiran itu diserap sebagai bagian kata yang utuh.
Kata seperti standardisasi, efektif, dan implementasi diserap secara utuh di samping kata standar, efek, dan implemen.



-aat (Belanda) menjadi –at


Advokaat
Advokat


-al, -eel (Belanda) menjadi –al


structural, structureel
formal, formeel
normal, normaal
struktural
formal
normal


-ant menjadi –an


accountant
informant
akuntan
informan

3.
Tata Cara Penyerapan Istilah Asing

Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia dilakukan berdasarkan beberapa ketentuan sebagai berikut:

1.
Istilah asing dipadankan dengan bahasa Indonesia yang umum.

Contoh:
§  delete - hapus
§  exit - keluar
§  cancel – batal
2.
Istilah asing dipadankan dengan bahasa Indonesia yang tidak lazim.

Contoh:
§  scan - pindai
§  scanner - pemindai
§  hacker – peretas
3.
Istilah asing dipadankan dengan bahasa serumpun yang lazim.

Contoh:
§  batch - tumpak
§  homepage – laman
4.
Istilah asing dipadankan dengan bahasa serumpun yang tidak lazim.

Contoh:
§  discharge - luah
§  download - unduh
§  upload – unggah
5.
Istilah asing diserap ke dalam bahasa Indonesia:

a.
tanpa melalui proses penyesuaian ejaan

Contoh:
§  monitor - monitor
§  internet – internet
b.
melalui penyesuaian ejaan

Contoh:
§  access - akses
§  computer – computer
c.
melalui penyesuaian lafal

Contoh:
§  design - desain
§  manager – manajer
d.
melalui penyesuaian ejaan dan lafal

Contoh:
§  management - manajemen
§  architecture – arsitektur
e.
melalui penambahan vokal pada akhir kata yang hanya berupa satu suku kata, sekaligus dengan penyesuaian ejaan

Contoh:
§  fact - fakta
§  norm – norma
Penyerapan Istilah
Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal berikut.
1.     Istilah asing yang akan diserap meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa Indonesia secara timbal balik (intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.
2.     Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca Indonesia karena dikenal lebih dahulu.
3.     Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan Indonesianya.
4.     Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan terjemahannya terlalu banyak sinonimnya.
5.     Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung konotasi buruk.
Proses penyerapn istilah asing, dengan mengutamakan bentuk visualnya, dilakukan dengan cara yang berikut.
1.     Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal Misalnya:
§  Camera - kamera
§  Microphone - mikrofon
§  System - sistem
2.     Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal Misalnya:
§  Design - desain
§  File - fail
§  Science - sains
3.     Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal Misalnya:
§  Bias - bias
§  Nasal - nasal
§  Radar (radio detecting and ranging) - radar
4.     Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal
1.      Penyerapan istilah asing tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan dan lafal istilah asing itu tidak berubah dalam banyak bahasa modern, istilah itu dicetak dengan huruf miring. Misalnya:
§  Allegro moderato
§  Aufklarung
§  Status quo
§  Esprit de corps
§  divide et impera
§  dulce et utile
§  in vitro
§  vis-à-vis
2.      Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu juga dipakai secara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan huruf miring (dicetak dengan huruf tegak). Misalnya:
§  Golf - golf
§  Internet - internet
§  Lift - lift
§  Orbit - orbit
§  Sonar (sound navigation and ranging)- sonar
Penyerapan Afiks dan Bentuk Terikat Istilah Asing
a. Penyesuaian Ejaan Prefiks dan Bentuk Terikat
Prefiks asing yang bersumber pada bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannya di dalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu, antara lain, ialah sebagai berikut.
a-, ab-, abs- ('dari', 'menyimpang dari', 'menjauhkan dari') tetap a-, ab-, abs-
amoral abnormal abstract - amoral abnormal abstrak
ex- 'sebelah luar' menjadi eks-
exclave exclusive - eksklave eksklusif
exo-, ex- 'sebelah luar', 'mengeluarkan' menjadi ekso-eksexoergic exogamy - eksoergik eksogami
Cocaine Quarantine - kokain karantina
-isatie (Belanda), -ization (Inggris) menjadi -isasi
Naturalisatie, naturalization Socialisatie, socialization - naturalisasi sosialisasi
-isme (Belanda), -ism (Inggris) menjadi -isme
Expressionism, expressionism Modernism, modernism - ekspresionisme modernism
-ist (Belanda, Inggris) menjadi -is
Extremist Receptionist - ekstremisme resepsionis
-iteit (Belanda), -ity (Inggris) menjadi -itas
Faciliteit, facility Realiteit, reality - fasilitas realitas

Gabungan Penerjemahan dan Penyerapan

Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing sekaligus.
Misalnya:
§  Bound morpheme - morfem terikat
§  Clay colloid - koloid lempung
§  Subdivision - subbagian
Penyerapan Fonem
Bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah di Indonesia maupun dari bahasa asing seperti Inggris, Belanda,Arab, dan Sanskerta. Unsur pinjaman tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar: unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap, serta unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia

Penyesuaian Ejaan

Penyesuaian fonem Tanpa perubahan

1.     ae jika tidak bervariasi dengan e. Contoh: aerobe → aerob.
2.     ai
3.     au
4.     e
5.     ea
6.     ei
7.     eo
8.     eu
9.     f
10. i jika di awal suku kata di muka vokal. Contoh: ion → ion.
11. ie jika lafalnya bukan i. Contoh: variety → varietas.
12. kh (Arab)
13. ng
14. ps
15. pt
16. u
17. ua
18. ue
19. ui
20. uo
21. v
22. x, jika di awal kata. Contoh: xenon → xenon.
23. y, jika lafalnya y. Contoh: yen → yen.
24. z.

Dengan perubahan

1.     aa (Belanda) → a. Contoh: octaaf → oktaf.
2.     ae  e, jika bervariasi dengan e. Contoh: haemoglobin → hemoglobin.
3.     c  k, jika di muka a, u, o, dan konsonan. Contoh: crystal → kristal.
4.     c  s, jika di muka e, i, oe, dan y. Contoh: cylinder → silinder.
5.     cc  k, jika di muka o, u, dan konsonan. Contoh: accumulation → akumulasi.
6.     cc  ks, jika di muka e dan i. Contoh: accent → aksen.
7.     ch dan cch  k, jika di muka a, o, dan konsonan. Contoh: saccharin → sakarin.
8.     ch  s, jika lafalnya s atau sy. Contoh: machine → mesin.
9.     ch  c, jika lafalnya c. Contoh: check → cek.
10. ç[1] (Sansekerta) → s. Contoh: çāstra → sastra.
11. ee (Belanda) → e. Contoh: systeem → sistem.
12. gh  g. Contoh: sorghum → sorgum.
13. gue  ge
14. ie (Belanda) → i, jika lafalnya i. Contoh: politiek → politik.
15. oe, oi (Yunani) → e
16. oo (Belanda) → o. Contoh: komfoor → kompor.
17. oo (Inggris) → u. Contoh: cartoon → kartun.
18. oo (vokal ganda) tetap. Contoh: zoology → zoologi.
19. ph  f. Contoh: phase → fase.
20. q  k
21. rh  r. Contoh: rhetoric → retorika.
22. sc  sk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: scriptie → skripsi.
23. sc  s, jika di muka e, i, dan y. Contoh: scenography → senografi.
24. sch  sk, jika di muka vokal. Contoh: schema → skema.
25. t  s, jika di muka i. Contoh: ratio → rasio.
26. th  t. Contoh: methode → metode.
27. uu  u. Contoh: vacuum → vakum.
28. v (Sanskerta) → w atau v
29. x  ks, jika tidak di awal kata. Contoh: exception → eksepsi.
30. xc  ksk, jika di muka a, o, u, dan konsonan. Contoh: excavation → ekskavasi.
31. y  i, jika lafalnya i. Contoh: dynamo → dinamo.
32. konsonan ganda menjadi konsonan tunggal, kecuali jika dapat membingungkan. Contoh: effect → efek, mass → massa.

Penyesuaian akhiran Tanpa perubahan

1.     -anda, -andum, -endum
2.     -ar
3.     -ase, -ose
4.     -ein
5.     -ein. Contoh: protein → protein.
6.     -et
7.     -or. Contoh: dictator → diktator.
8.     -ot

Dengan perubahan

1.      -(a)tion, -(a)tie (Belanda) → -(a)si. Contoh: action, actie → aksi.
2.      -aat (Belanda) → -at. Contoh: plaat → pelat.
3.      -able, -ble  -bel
4.      -ac  -ak
5.      -acy, -cy  -asi, -si
6.      -age  -ase. Contoh: percentage → persentase.
7.      -air  -er
8.      -al, -eel (Belanda), -aal (Belanda) → -al. Contoh: formeel → formal.
9.      -ance, -ence  -ans, -ens (yang bervariasi dengan -ancy, -ency)
10.  -ancy, -ency  -ansi, -ensi (yang bervariasi dengan -ance, -ence)
11.  -ant  -an. Contoh: accountant → akuntan.
12.  -archy, -archie (Belanda) → -arki. Contoh: anarchy, anarchie → anarki.
13.  -ary, -air (Belanda) → -er. Contoh: primary, primair → primer.
14.  -asm  -asme
15.  -ate  -at
16.  -eel (Belanda) → -el, jika tak ada padanan dalam bahasa Inggris.
17.  -end  -en
18.  -ete, -ette  -et
19.  -eur (Belanda), -or  -ur, -ir. Contoh: director, directeur → direktur.
20.  -ics, -ica  -ik, -ika. Contoh: logic, logica → logika.
21.  -ief, -ive  -if. Contoh: descriptive, descriptief → deskriptif.
22.  -iel, -ile, -le  -il. Contoh: percentile → persentil.
23.  -isch, -ic  -ik. Contoh: elektronic → elektronik
24.  -isch, -ical  -is. Contoh: optimistisch, optimistical → optimistis
25.  -ism, -isme (Belanda) → -isme. Contoh: modernism, modernisme → modernisme.Beberapa perkecualian: prism->prisma, schism->skisma, astigmatism->astigmatisma
26.  -ist  -is. Contoh: egoist → egois.
27.  -logue  -log. Contoh: dialogue → dialog.
28.  -logy, -logie  -logi. Contoh: analogy, analogie → analogi.
29.  -loog (Belanda) → -log. Contoh: epiloog → epilog.
30.  -oid, -oïde (Belanda) → -oid. Contoh: hominoid, hominoide → hominoid.
31.  -oir(e)  -oar. Contoh: trottoir → trotoar.
32.  -ous ditanggalkan
33.  -sion, -tion  -si
34.  -ty, -teit  -tas [2]. Contoh: university, universiteit → universitas.
35.  -ure, -uur  -ur. Contoh: premature, prematuur → prematur.

Penyesuaian awalan Tanpa perubahan

1.      a-, ab-, abs- ("dari", "menyimpang dari", "menjauhkan dari")
2.      a-, an- ("tidak", "bukan", "tanpa")
3.      am-, amb- ("sekeliling", "keduanya")
4.      ana-, an- ("ke atas", "ke belakang", "terbalik")
5.      ante- ("sebelum", "depan") 
6.      anti-, ant- ("bertentangan dengan")
7.      apo- ("lepas", "terpisah", "berhubungan dengan")
8.      aut-, auto- ("sendiri", "bertindak sendiri")
9.      bi- ("pada kedua sisi", "dua")
10.  de- ("memindahkan", "mengurangi")
11.  di- ("dua kali", "mengandung dua ...")
12.  dia- ("melalui", "melintas")
13.  dis- ("ketiadaan", "tidak")
14.  em-, en- ("dalam", "di dalam")
15.  endo- ("di dalam")
16.  epi- ("di atas", "sesudah")
17.  hemi- ("separuh", "setengah")
18.  hemo- ("darah")
19.  hepta- ("tujuh", "mengandung tujuh")
20.  hetero- ("lain", "berada")
21.  im-, in- ("tidak", "di dalam", "ke dalam")
22.  infra- ("bawah", "di bawah", "di dalam")
23.  inter- ("antara", "saling")
24.  intro- ("dalam", "ke dalam")
25.  iso- ("sama")
26.  meta- ("sesudah", "berubah", "perubahan")
27.  mono- ("tunggal", "mengandung satu")
28.  pan-, pant-, panto ("semua", "keseluruhan")
29.  para- ("di samping", "erat berhubungan dengan", "hampir")
30.  penta- ("lima", "mengandung lima")
31.  peri- ("sekeliling", "dekat", "melingkupi")
32.  pre-("sebelum", "sebelumnya", "di muka")
33.  pro- ("sebelum", "di depan")
34.  proto- ("pertama", "mula-mula")
35.  pseudo-, pseud- ("palsu")

Dengan perubahan

1.     ad-, ac-  ad-, ak- ("ke", "berdekatan dengan", "melekat pada")
2.     cata-  kata- ("bawah", "sesuai dengan")
3.     co-, com-, con-  ko-, kom-, kon- ("dengan", "bersama-sama", "berhubungan dengan")
4.     contra-  kontra- ("menentang", "berlawanan")
5.     ec-, eco-  ek-, eko- ("lingkungan hidup")
6.     ex-  eks- ("sebelah luar", "mengeluarkan")
7.     exo-, ex-  ekso-, eks- ("di luar")
8.     extra-  ekstra- ("di luar")
9.     hexa-  heksa- ("enam", "mengandung enam")
10. hyper-  hiper- ("di atas", "lewat", "super")
11. hypo-  hipo- ("bawah", "di bawah")
12. poly-  poli- ("banyak", "berkelebihan")
13. quasi-  kuasi- ("seolah-olah", "kira-kira")
14. syn-  sin- ("dengan", "bersama-sama", "pada waktu")
Penyerapan dengan penerjemahan
1.     a-  tak-. Contoh: asymetric  tak simetri
2.     ante-  purba-. Contoh: antedate  purbatanggal
3.     anti-  prati-. Contoh: antibiotics  pratirasa
4.     auto-  swa-. Contoh: autobiography  swariwayat
5.     de-  awa-. Contoh: demultiplexing  awa-pemultipleksan
6.     bi-  dwi-, bi-. Contoh: bilingual  dwibahasa
7.     inter-  antar-, inter-. Contoh: international  antarbangsa
Aturan penyerapan imbuhan
Aturan-aturan imbuhan serapan dari bahasa asing mengikuti aturan yang kurang lebih sama dengan aturan pembentukan kata berimbuhan lain.
1.      Disambung jika menggunakan kata dasar. Contoh: dwiwarna, pascasarjana.
2.      Dipisah jika menggunakan kata bentukan atau turunan. Contoh: pra pemilu.
3.      Diberi tanda hubung jika kata dasar berawalan huruf kapital. Contoh: non-Indonesia, anti-Israel.
Kata Serapan Untuk Istilah Teknis
§  Gunakanlah glosarium bahasa Indonesia (misalnya terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI) untuk istilah serapan yang sudah dibakukan. Lihat versi elektronik (tidak lengkap) glosarium Pusat Bahasa.
§  Di bidang komputer/internet, lihat Istilah Internet Indonesia. Untuk istilah singkatan seperti TCP/IP, FTP sebaiknya tetap ditulis dalam bentuk aslinya (tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi PKT/PI dan PTA atau PTB--Protokol Transfer Berkas).
C.    Mengoreksi kesalahaan ejaan
METODOLOGI
Menurut Dameru dalam Wahyudin (1999) menyimpulkan 80 % kesalahan ejaan dapat disebabkan karena empat hal, yaitu:
1.      Penggantian satu huruf
2.      Penyisipan satu huruf
3.      Penghilangan satu huruf
4.      Penukaran dua huruf berdekatan.
Kesalahan ejaan juga dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1.      Ketidaktahuan penulisan. Kesalahan ini biasanya konsisten dan kemungkinan berhubungan dengan bunyi kata dan penulisan yang seharusnya.
2.      Kesalahan dalam pengetikan yang lebih tidak konsisten tapi mungkin berhubungan erat dengan posisi tombol papan ketik dan pergerakan jari.
3.      Kesalahan transmisi dan penyimpanan yang berhubungan dengan pengkodean pada jalur mekanisme transmisi data.
Kesalahaan ejaan dapat dikoreksi menggunakan dua strategi dasar yang berbeda, yaitu mutlak dan relatif ( Pullock & Zamora 1984, dalam Wahyudin 1999). Secara mutlak, pengoreksian dilakukan dengan membuat suatu tabel variasi ejaan yang salah dan ejaan yang benar. Namun demikian, secara relatif ejaan yang benar dipilih dari kamus yaitu dengan mencari kata dalam kamus yang paling mirip dengan kata yang salah ejaanya.

1. Kesalahan Keefektifan Kalimat
Kalimat-kalimat yang dibuat pembelajar tidak efektif karena tidak adanya kesatuan informasi/arti dan bentuk. Kalimat yang dibuat mengandung lebih dari satu kesatuan informasi sehingga sering menimbulkan kerancuan dan ketidaktepatan arti.  Bahkan, ada banyak pernyataan yang hanya berisi jajaran kata-kata saja tanpa arti yang jelas sehingga tidak membentuk sebuah kalimat yang utuh dari segi bentuk dan maknanya. Ada 422 kalimat dengan tipe ini. berikut ini beberapa contoh pernyataan-pernyataan tersebut beserta alternatif pembenarannya.
Contoh-contoh  kesalahan keefektifan kalimat:
(1)    Sering keluarga yang dari daerah pedalaman tinggal di luar kota lama dan banyak adalah petani.
(2)    Setelah itu, kendi adalah sedia untuk membakar dengan teknik ada primitiv sekali.
(3)    Menduduki dalam lingkaran tertawa, makanan, menyanyikan dengan ibu, tutor-tutor dan temannya beristirahat nanti hari ini mengunjungi tempat-tempat lain di cuaca panas.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Keluarga dari daerah pedalaman, yang sebagaian besar adalah petani,  sering tinggal di luar kota untuk waktu yang lama.
(2)    Setelah itu, kendi tersebut siap untuk dibakar dengan teknik tradisional.
(3)    Setelah mengunjungi beberapa tempat, kami dan para tutor beristirahat dengan duduk  melingkar sambil menyanyi, bercanda, dan makan makanan yang disiapkan oleh ibu itu.

2. Kesalahan Pemilihan Kata
Sebuah kata mengemban peran yang penting dalam sebuah kalimat/tuturan karena  arti atau makna sebuah kalimat dapat dibangun dengan pemilihan kata yang tepat. Apabila terjadi kesalahan pemilihan kata  maka akan terjadi pergeseran  arti/ makna kalimat, tidak sebagaimana diinginkan oleh penulisnya.  Bagi pembaca, kesalahan tersebut akan menimbulkan kesalahpaham atas arti/makna yang dimaksudkan penulis.
 Penelitian ini memberi gambaran yang jelas bahwa para pembelajar BIPA banyak melakukan        kesalahan dalam pemilihan kata ketika mereka menyusun kalimat-kalimat dan atau paragraf. Dari analisis data, terdapat 228 kesalahan dalam pemilihan kata. Kesalahan yang mereka lakukan meliputi
(1) penggunaan kata yang benar-benar tidak tepat  untuk suatu konteks kalimat tertentu.
(2) penggunaan kata yang tidak lazim dalam konteks masyrakat Indonesia.
(3) pengunaan sinonim kata yang tidak tidak benar-benar tepat sebagaimana dituntut konteks kalimat tertentu.
(4) kerancuan dalam penggunaan kata-kata yang mirip, seperti penggunaan ada dan adalah , mudah dan murah, dsb.
(5) penggunaan kata-kata yang merupakan hasil terjemahan secara harafiah dan
(6) kesalahan penggunaan kata  terjemahan  yang bersinonim, seperti kata to leave yang terjemahan bahasa Indonesianya meninggalkan  dan berangkat. Pasangan kata seperti inilah yang sering dikacaukan dalam penggunaannya.
Beberapa kata yang  kesalahan pemakaiannya cukup sering adalah kata ada   yang dikacaukan dengan kata  adalah; penggunaan pronomina kita  dengan  kami (yang dalam bahasa Inggris ‘us’); kata  berangkat dengan kata meninggalkan; kata cara dengan kata secara;  kata tidak  dengan kata  bukan; kata ada  dengan kata mempunyi. Beberapa contoh kesalahan pembelajar dalam memilih kata di paparkan di bawah ini.
Contoh kesalahan pemilihan kata:
(1)    Situasi ini pusing untuk anak-anak dan bisa sangat mempengaruhi mereka.
(2)    Saya berbicara dengan sopir sambil naik. Dia ada sopir untuk enam tahun.
(3)    Adalah banyak penjual dan pembeli dalam pasar.
(4)    Kami berangkat SMA 3 kira-kira pada jam sepuluh malam.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Situasi ini membingungkan anak-anak dan  sangat mempengaruhi mereka.
(2)    Saya berbicara dengan sopir ketika sudah di dalam taksi. Dia sudah menjadi sopir selama enam tahun.
(3)    Ada banyak penjual dan pembeli di dalam pasar itu.
(4)    Kami meningglkan SMA 3 kira-kira pada jam sepuluh malam.
3. Kesalahan Penggunaan Afiks
Kesalahan penggunaan afiks yang ditemukan cukup beragam. Ada banyak ketidaktepatan dalam menentukan afiks yang akan digunakan dalam proses verbalisasi maupun nominalisasi. Afiks - afiks tersebut sering digunakan terbalik-balik, misalnya seharusnya memakai afiks me- tetapi menggunakan afiks ber- dan demikian pula sebaliknya. Ketidaktepatan tersebut akan berakibat tidak tepatnya sense  kalimat yang dibentuk dan bergesernya arti kalimat tersebut.
Contoh kesalahan-kesalahan penggunaan afiks:
(1)    Saya nikmat perjalan di Indonesia.
(2)    Kalau orang tua perceraian, anaknya sering tinggal dengan ibunya.
(3)    Ketika saya membaca tentang perkelahian pelajar, saya mengherankan.
(4)    Kain batik paling terkenal di Australia dan sekarang saya tahu bagaimana batik membuat menggunakan dua cara, batik cap dan batik tulis tangan.
Alternatif pembenarannya:
(1)          Saya menikmati perjalanan  di Indonesia.
(2)          Kalau orang tua bercerai, anak-anaknya sering tinggal bersama ibunya.
(3)          Ketika saya membaca berita tentang perkelahian pelajar, saya heran.
(4)          Kain batik paling terkenal di Australia dan sekarang saya mengetahui cara membuat  batik yang menghasilkan dua jenis batik,  batik cap dan batik tulis tangan.
4. Kesalahan karena Tidak Lengkapnya Fungsi Kalimat
Kesalahan-kesalahan ini berupa ketidaklengkapan fungsi kalimat yang meliputi tidak adanya subjek, predikat yang tidak jelas, dan penghilangan objek  pada predikat berverba transitif. Kesalahan tipe ini berjumlah 113 buah. Kesalahan tersebut terbagi atas 49 kesalahan karena tidak bersubjek, 45 kesalahan karena predikat yang tidak jelas, dan 19 kesalahan karena tidak adanya objek pada predikat yang berverba transitif. Berikut ini akan disajikan contoh kesalahan-kesalahan tersebut.
Contoh kesalahan karena tidak bersubjek: 
(1)          Di keraton menarik dan indah tetapi cuaca lembab dan panas.
(2)          Menurut  orang wawancara di Indonesia ada yang bermacam-macam di dapatkan daerah ke daerah.
(3)          Untuk saya mengerti bagaimana mahasiswa mahasiswa tentang pendidikan Indonesia dan khususnya pengajaran Bahasa Inggris.
Alternatif pembenarannya,
(1)          Keraton Yogyakarta  menarik dan indah tetapi cuaca hari ini  lembab dan panas.
(2)           Menurut  orang yang saya wawancarai,   Indonesia mempunyai  bermacam-macam kesenian yang berbeda di setiap  daerah.
(3)          Saya mengerti pendapat para mahasiswa tentang pendidikan di Indonesia,  khususnya sistem pengajaran Bahasa Inggris.
Contoh kesalahan karena predikat kalimat yang tidak jelas
(1)          Lebih dari itu, Aromatheraphy ini untuk ketegangan dan kesantaian, ini lebih baik membakar minyak di dalam kamar.
(2)          Umumnya kenakalan remaja dari rumah atau keluarga rusak.
(3)          Dulu sebagian besar guru di Tim-tim dari pulau-pulau di Indonesia, tetapi sekarang mereka berangkat dari Tim Tim dan tidak cukup guru untuk sekolah di sana.
Alternatif pembenarannya:
(1)          Lebih dari itu, Aromatheraphy ini berfungsi untuk menghilangkan ketegangan dan menciptakan rasa santai. Ini dilakukan dengan membakar minyak wangi  di dalam kamar.
(2)          Umumnya, kenakalan remaja bermula dari keluarga yang tidak harmonis.
(3)          Dulu, sebagian besar guru di Tim-Tim berasal dari berbagai pulau di Indonesia, tetapi sekarang mereka meninggalkan  Tim-Tim sehingga tidak ada cukup banyak guru untuk sekolah-sekolah  di sana.
Contoh-contoh  kesalahan karena tidak adanya objek dalam kalimat yang berpredikat verba transitif.
(1)          Saya menikmati banyak sekali.
(2)          Seorang anak jalanan berbicara kepada saya kalau orang tua angkat mengusir ketika dia berumur sepuluh.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Saya sangat menikmati perjalanan ini.
(2)    Seorang anak jalanan berbicara kepada saya bahwa orang tua angkatnya mengusir dia  ketika dia berumur sepuluh tahun.
5. Kesalahan karena Penggunaan Preposisi yang Tidak Tepat
Kesalahan penggunaan preposisi ini berupa pemakaian preposisi yang tidak tepat dalam kalimat, tidak dipakainya preposisi dalam kalimat yang menuntut adanya preposisi, dan pemakaian preposisi yang tidak perlu dalam suatu kalimat. Dari analisis data, terungkap ada 52 kesalahan dalam hal penggunaan preposisi. Kesalahan tersebut terbagi atas 29 kesalahan pada pemakaian preposisi yang tidak tepat, 14 kesalahan karena tidak adanya preposisi dalam kalimat yang menuntut adanya preposisi, dan 9 kesalahan penggunaan preposisi yang tidak perlu. Berikut ini akan disajikan beberapa contoh kesalahan-kesalahan  penggunaan preposisi tersebut.
Contoh kesalahan penggunaan preposisi yang tidak tepat:
§  Banyak barang-barang dibeli oleh toko-toko pakaian, makanan, tas, dan lain-lain.
Alternatif pembenarannya:
§  Banyak barang dapat dibeli di toko-toko itu seperti,  pakaian, makanan, tas, dan lain-lain.
Contoh kesalahan karena tidak adanya preposisi:
§  Kami pergi Pabrik Batik untuk mengerti tentang proses batik.
Alternatif pembenarannya:
§  Kami pergi ke pabrik Batik untuk mengerti  proses membuat batik
Contoh kesalahan penggunaan preposisi yang tidak perlu:
§  Dalam hal di atas, banyak orang mengadakan tekanan terhadap oleh anaknya supaya mereka membeli mainan dan gula-gula.
§  Itu punya partai di politik yang bernama Golkar.
Alternatif pembenarannya:
§  Dalam hal di atas, banyak orang mengadakan tekanan terhadap anak-anaknya supaya mereka membeli mainan dan gula-gula.
§  Itu milik  partai politik yang bernama Golkar.
6. Kesalahan Urutan Kata
Urutan kata dimaksudkan sebagai susunan kata untuk membentuk tataran yang lebih tinggi. Dalam bahasa Indonesia, pada umumnya, sesuatu yang diterangkan berada di depan yang menerangkan. Namun demikian, sering terjadi kesalahan dalam urutan ini. Dari hasil analisis data penelitian ini, ada 74 kesalahan dalam hal urutan kata. Para pembelajar melakukan pembalikan atas urutan kata sebagaimana terlihat dalam beberapa contoh di bawah ini.
Contoh kesalahan dalam urutan kata:
(1)    Hari ini, menarik hari.
(2)    Keluarga adalah sosial  kesatuan yang paling penting bagi orang Batak Toba.
(3)    Kadang-kadang orang yang datang baru menjadi terkejut, mereka harap memenuhi mimpi mereka.
(4)    Jamu saset belum komplit harus dicampur dengan lain bahan-bahan seperti beras kencur, anggur merah, madu, dll.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Hari ini adalah hari yang menarik.
(2)    Keluarga adalah  kesatuan sosial  yang paling penting bagi orang Batak Toba.
(3)    Kadang-kadang, orang yang baru datang menjadi terkejut karena mereka berharap mimpi mereka terpenuhi.
(4)    Jamu saset yang belum komplit harus dicampur dengan bahan-bahan lain seperti beras kencur, anggur merah, madu, dll.

7. Kesalahan Penggunaan Konstruksi Pasif
Konstruksi pasif bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan pronomina orang pertama, kedua, dan ketiga  yang mempunyai dua pola yang berbeda. Pola pertama dapat dibentuk dari pola aktif S + me- bentuk asal - (sufiks) + O menjadi pola pasif O + S + bentuk asal- (suifks) untuk pronomina orang pertama, kedua, dan ketiga. Pola kedua dapat dibentuk dari pola aktif  S + me- bentuk asal- (sufiks) + O menjadi pola pasif O + di - bentuk asal- (sufiks) + (oleh) +  S  hanya untuk pronomina orang ketiga.
Kesalahan penggunaan konstruksi pasif yang terungkap dari penelitian ini relatif banyak, 37 konstruksi. Kesalahan ini terdiri atas tujuh  kesalahan penggunaan konstruksi pasif pola pertama, dan 30 kesalahan penggunaan konstruksi pasif pola kedua.  Kesalahan penggunaan konstruksi pasif bentuk kedua ini terjadi karena kesalahan penggunaan afiks-afiks pembentuk konstruksi aktif-pasif. Di bawah ini beberapa contoh kesalahan-kesalahan tersebut.
Contoh kesalahan penggunaan konstruksi pasif:
§  Tempat pemujaan ketiga kami mengunjungi adalah mesjid.
Alternatif pembenarannya:
§  Tempat pemujaan ketiga yang kami kunjungi adalah mesjid.
8. Kesalahan Penggunaan Konjungsi
Konjungsi berfungsi sebagai penghubung frasa dan klausa dalam kalimat. Selain itu, konjungsi juga berfungsi sebagai penghubung antarkalimat dalam suatu paragraf. Kesalahan penggunaan konjungsi ini akan berakibat tidak jelasnya makna kalimat karena hubungan antarfrasa dan antarklausa tidak jelas. Ada 25 kesalahan penggunaan konjungsi yang terungkap dalam penelitian ini.  Kesalah yang cukup menonjol adalah penggunaan konjungsi bahwa  dan  walaupun , masing-masing 9 dan 5 kesalahan. Kesalahan-kesalah yang lain tersebar untuk konjungsi-konjungsi yang lain. Contoh kesalahan-kesalahan tersebut dipaparkan di bawah ini.
Contoh kesalahan penggunaan konjungsi:
(1)    Guru-guru ada perteman sambil semua murid berjalan-jalan dan berbicara dengan teman di sekolahnya.
Alternatif pembenarannnya:
(1)    Guru-guru sedang mengadakan perteman ketika semua murid berjalan-jalan dan berbicara dengan teman di halaman sekolah.

9. Kesalahan Penggunaan  ‘yang’
Kesalahan pemakaian ‘yang’  yang dilakukan pembelajar BIPA relatif banyak yaitu 15 kesalahan. Kesalahan yang dilakukan berupa penggunaan yang  dalam kalimat yang tidak memerlukan  ‘yang’  dan sebaliknya ‘yang’  tidak digunakan ketika kalimat-kalimat memerlukan yang untuk memperjelas makna kalimat tersebut.
Contoh kesalahan penggunaan’ yang’:
(1)    Hampir semua segi bahwa saya mencari bisa yang dihubungan dengan seluruh Indonesia.
(2)    Saluran TV ini swasta dan mereka bisa menunjuk apa saja mereka mau.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Hampir semua segi yang  saya temukan bisa dihubungan dengan seluruh Indonesia.
(2)    Saluran TV ini adalah saluran swasta dan mereka bisa mempertunkukan semua hal yang merek mau.
10. Kesalahan Pembentuk Jamak
Bentuk jamak dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan mengulang nomina, penggunaan numeralia,  dan penggunaan penanda jamak seperti, beberapa, sejumlah, para, banyak, sedikit, dsb. Apabila bentuk-bentuk itu digunakan nomina yang bersangkutan harus dalam bentuk tunggal. Contohnya, buku-buku, 125 buku, beberapa buku.
Contoh kesalahan penggunaan bentuk jamak:
(1)    Kami didampingi oleh guru pribadi naik bis ke bermacam-macam trmpat-tempat wisata seperti Keraton, Taman Sari, pasar burung yang terletal di belakang Taman Sari.
Alternatif pembenarannya:
(1)    Kami didampingi oleh guru pribadi naik bis ke bermacam-macam tempat wisata seperti,  Keraton, Taman Sari, dan pasar burung yang terletak di belakang Taman Sari.
BAB IV
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAKU
1.  Pengertian Bahasa Indonesia Baku dan Tidak Baku
            Dalam kehidupan sehari-hari terkadang tanpa disadari kita menggunakan kata-kata yang salah alias tidak sesuai dengan ejaan dalam Bahasa Indonesia. Salah satu atau dua ejaan kata dalam tulisan kita mungkin sah-sah saja bagi umum, namun tidak halnya bagi dosen atau guru bahasa indonesia. Ejaan yang baku sangat penting untuk dikuasai dan digunakan ketika membuat suatu karya tulis ilmiah.
Sebenarnya apa sih definisi atau pengertian ejaan baku dan ejaan tidak baku? Ejaan baku adalah adalah ejaan yang benar, sedangkan ejaan tidak baku adalah ejaan yang tidak benar atau ejaan salah.
Bagaimana untuk mengetahui bahwa kata pada kalimat yang kita tulis tidak menyalahi aturan ejaan baku dan ejaan tidak baku? Cukup dengan membuka buku kamus bahasa indonesia yang terkenal baik yang dikarang oleh yang baik pula sebagai referensi. Contoh Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Contoh ejaan baku dan ejaan tidak baku, di mana yang sebelah kiri adalah salah dan yang sebelah kanan adalah betul :

- apotik : apotek       - duren : durian                  - jaman : zaman             - ramadhan : ramadan

- atlit : atlet               - gubug : gubuk                 - obyek : objek              - do'a : doa
- azas : asas               - hadist : hadis                   - nomer : nomor             - kalo : kalau
- azasi : asasi             - ijin : izin                           - kongkrit : konkret       - insyaf : insaf
- bis : bus                  - imajinasi : imaginasi        - karir : karier                       


1.      CIRI – CIRI BAHASA INDONESIA BAKU
Adapun fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan. Ciri-ciri ragam bahasa baku, yaitu, sebagai berikut.
  1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
  2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
  3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
  4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
  5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.
2.      CONTOH – CONTOH KESALAHAN BERBAHASA
a.       Kata ganti orang
Ø  Penghayatanmu atas sajak yang telah dihafalkan itu hilang.
Ø  Dengan melihat kata penghayatanmu, tentunya kalimat tersebut ditunjukkan kepada orang kedua atau lawan berbicara. Karena itu kata kerja berikutnya, mestinya bukan dihafalkan, melainkan kauhafalkan.
Ø  Jadi, seharusnya kalimat tersebut diubah: penghayatanmu atas sajak yang telah kauhafalkan itu akan hilang.
Ø  Jika pelakunya orang ketiga, harus dikatakan: penghayatan atas sajak yang telah dihafalkan itu akan hilang.
b.      Penghormatan
Ø  Atas kerawuhan Bapak-bapak, saya haturkan terima kasih.
Ø   Maksud pembuat kalimat tersebut untuk menghormat lawan bicara. Tetapi tidak disadarinya, bahwa kalimat yang dibuatnya tersebut bukanlah kalimat bahasa Indonesia. Salah satu sifat bahasa Indonesia ialah demokratis; karenanya tidak dikenal kata-kata khusus untuk golongan-golongan tertentu seperti bahasa Jawa. Sudah cukup hormat dan betul, jika dikatakan: atas kedatangan Bapak-bapak, saya ucapkan terima kasih.
Beberapa kata hormat dari bahasa Jawa yang sering dipakai orang antara lain: kondur, dahar, jumeneng, tindak, dan tapak asma. Kata-kata tersebut sehsarusnya kita ganti: pulang, makan, berdiri, pergi, dan tanda tangan.
c.       Dan lain sebagainnya
Ø  Kami menerima pesan mencetakan kartu nama, surat undangan, ijazah dan lain sebagainnya.
Ø  Kata dan lain sebagainnya merupkan bentuk rancu dari kata dan sebagainnya, dan lain-lain. Karena itu dalam sebuah kalimat cukup dipakai satu saja.

d.      Bentuk jamak
Ø  Tidak sedikit orang-orang yang tidak dapat memahami puisi.
Ø   Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, di belakang kata yang sudah menunjuk pengertian jamak atau banyak, tidak boleh diikuti bentuk jamak. Karena itu mestinya kalimat tersebut cukup dikatakan: tidak sedikit orang yang dapat memahami puisi.

Bentuk sejenis dengan bentuk di atas.

-para hadirin ....
-hadirin sekalian ....
-daftar para mahasiswa ....
-rombongan para olahragawan ....
-dewan gereja-gereja ....
-jawatan gedung-gedung negara
-kumpulan barang-barang bekas ....
-kaum politisi ....
            Kata-kata: para, hadirin, sekalian, daftar, rombongan, dewan, jawatan, kumpulan, kaum, dan politisi sudah mengandung atau menunjuk pengertian jamak. Karena itu tidak boleh dipakai bersama-sama, atau digunakan dengan bentuk perulangan.

e.       Berhubung
Ø  Berhubung pergi ke Jakarta, hari ini ia tidak dapat datang.
Ø   Kata berhubung seharusnya diikuti oleh kata depan dengan.
Ø   Jadi, kalimat itu seharusnya kita ubah demikian. Berhubung dengan kepergiannya ke Jakarta, hari ini ia tidak dapat datang.
f.       Semua - seluruh - segala
Ø  Semua bangsa Indonesia harus mengamalkan Pancasila.
Ø   Kata semua menunjuk perngertian jamak yang terdiri atas barang-barang atau benda yang sama. Karena itu, penggunaan kata semua pada kalimat tersebut tidak tepat. Yang tepat untuk maksud seperti tertera pada kalimat itu ialah kata seluruh/segenap.
Ø   Jadi, kalimat tersebut harus kita katakan begini: Seluruh (segenap) bangsa Indonesia harus mengamalkan Pancasila.



Contoh penggunaan semua:

1) Semua rumah di desa itu dikapur

2) Semua buku itu pernah saya baca
Contoh penggunaan seluruh:
1) Peristiwa itu diperingati oleh seluruh bangsa indonesia
2) Seluruh pengunjung pasar malam itu merasa puas.
Contoh penggunaan segala:
1) Maafkanlah segala kesalahan saya
2) Segala macam barang ada di toko itu.

g.      Unsur kombinasi
Ø  Bahasa Melayulah yang paling banyak digunakan sebagai bahasa pengantar atau behasa perhubungan antar pulau pada waktu itu.
Ø   Menurtu EyD, semua kata yang salah satu unsurnya hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata tersebut harus dituliskan serangkai: jadi antarpulau.
Ø   Contoh lain: amoral, purnawirawan, asusila, saptamarga, antikomunis, ultramodern, inkonvensional, nonkoperasi, multirateral, ekstrakulikuler, tunanetra, kontrarevolusi
h.      Kata gabung
Ø  Ragam jurnalistik ini banyak digunakan dalam persurat kabaran.
Ø   Kesalahan kalimat tersebut terletak pada penulisan kata persurat kabaran. Memang betul, kata gabung seperti surat kabar, tanggung jawab dan sebagainnya dituliskan terpisah. Tetapi apabila kata-kata tersebut mendapat awalan dan akhiran, harus dituliskan serangkai. Jadi penulisan yang betul: persuratkabaran, pertanggungjawaban.

Contoh lain:

memberi tahu – pemberitahuan             


  BAB V
MASALAH  KATA

1.      Pengertian Tentang Kata
Kata  adalah susunan huruf dari suatu bahasa yang mengandung arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem.
Etimologi
Kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kathā.
Dalam bahasa Sansekerta kathā sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng".
Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".
Definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata:
  1. Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa
  2. Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas
  3. Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan)
Definisi pertama KBBI bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus.Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.
Jenis kata
Berdasarkan bentuknya, kata bisa digolongkan menjadi empat:
  •  kata dasar,
  •  kata turunan,
  •  kata ulang, dan
  •  kata majemuk.
Kata dasar adalah kata yang merupakan dasar pembentukan kata turunan atau kata berimbuhan. Perubahan pada kata turunan disebabkan karena adanya afiks atau imbuhan baik di awal (prefiks atau awalan), tengah (infiks atau sisipan), maupun akhir (sufiks atau akhiran) kata.
Kata ulang adalah kata dasar atau bentuk dasar yang mengalami perulangan baik seluruh maupun sebagian sedangkan kata majemuk adalah gabungan beberapa kata dasar yang berbeda membentuk suatu arti baru.
Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh kategori, yaitu:
1.      Nomina (kata benda)
Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
contoh: buku, rumah
Kata benda dapat dibagi menjadi dua:
  • kata benda konkret untuk benda yang dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), dan
  • kata benda abstrak untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran (misalnya cinta).
kata benda juga dapat diperoleh dari segala kata yang dibendakan yaitu kata dasar yang mendapat imbuhan -an, per-an, ke-an, pe-,Selain itu, jenis kata juga dapat dikelompokkan menjadi:
  • kata benda khusus atau nama diri (proper noun). Kata benda nama diri adalah kata benda yang mewakili suatu entitas tertentu (misalnya Jakarta atau Ali)
  • kata benda umum atau nama jenis (common noun), adalah sebaliknya, menjelaskan suatu kelas entitas (misalnya kota atau orang).
2.      Verba (kata kerja)
 kata yang menyatakan suatu tindakan atau pengertian dinamis, misalnya bacalari.
·         Verba transitif (membunuh),
·         Verba kerja intransitif (meninggal),
·         Pelengkap (berumah)
3.      Adjektiva (kata sifat); kata yang menjelaskan kata benda, misalnya kerascepat.
4.      Adverbia (kata keterangan); kata yang memberikan keterangan pada kata yang bukan kata benda, misalnya sekarangagak.
5.      Pronomina (kata ganti); kata pengganti kata benda, misalnya iaitu.
·         Orang pertama (kami),
·         Orang kedua (engkau),
·         Orang ketiga (mereka),
·         Kata ganti kepunyaan (-nya),
·         Kata ganti penunjuk (ini, itu)
6.      Numeralia (kata bilangan); kata yang menyatakan jumlah benda atau hal atau menunjukkan urutannya dalam suatu deretan, misalnya satukedua.
·         Angka kardinal (duabelas),
·         Angka ordinal (keduabelas)
7.      Kata tugas adalah jenis kata di luar kata-kata di atas yang berdasarkan peranannya dapat dibagi menjadi lima subkelompok:
·         Preposisi (kata depan) (contoh: dari),
·         Konjungsi (kata sambung) - Konjungsi berkoordinasi (dan), Konjungsi subordinat (karena),
·         Artikula (kata sandang) (contoh: sang, si) - Umum dalam bahasa Eropa (misalnya the),
·         Interjeksi (kata seru) (contoh: wow, wah), dan
·         Partikel (-lah, -kah, -tah).
2. Makna Kata Semantik
Yang dimaksud oleh Aristoteles dengan makna otonom yang ada pada sebuah kata danperbedaannya dengan makna yang hadir sebagai akibat proses gramatikal adalah makna yang hadir dari kata itu sendiri secara otonom maksudnya disebut dengan makna leksikal. Makna leksikal itu berkenaan dengan makna leksem atau kata yang sesuai dengan referennya (yang umumnya ada dalam kamus), sedangkan makna yang hadir sebagai proses gramatikal disebut makna gramatikal. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afiksasi, proses reduplikasi , dan proses komposisi. Afiksasi adalah proses memberikan awalan pada sebuah kata.
Contoh: ter- pada kata bawa (tidak tidak sengaja terbawa) Reduplikasi adalah untuk menyatakan makna jamak, sebuah buku menjadi banyak buku (artinya lebih dari satu buku) proses komposisi contohnya sate ayam dan sate madura.
Sate ayam menyatakan asal bahan, sedangkan sate madura menyatakan asal tempat.
Ferdinan de sausure berpendapat bahwa studi linguistik harus difokuskan pada keberadaan bahasa itu pada waktu tertentu.
 Pendekatannya harus sinkronis dan studinya harus deskriptif. Akibat pandangannya tersebut, maka dalam studi semantik selanjutnya kajian semantik berciri:
a). Pandangan yang bersifat historis tel;ah ditinggalkan karena pendekatannya sinkronis, walau masalah perubahan makna masih juga dibicarakan.
b). Studi kosa kata sangat mendapat perhatian.
Des sausure juga mengajukan konsep signe untuk menunjukan gabungan signifie atau “yang dijelaskan” dan signifiant (yang menjelaskan). Signifie (yang dijelaskan) tidak lain dari makna atau konsep dari signifiant (yang menjelaskan), wujudnya berupa bunyi-bunyi bahasa. Signifie dan signifiant sebagai signe lingistique merupakan satu kesatuan yang merujuk kepada satu referen, yaitu sesuatu berupa benda atau hal yang berada diluar bahasa. Konsep de sausure mengenai signe linguistique ini sampai saat ini masih menguasa dunia linguistik.
Sirkumlokasi yakni penjelasan pada arti kata dalam kamus yang penjelasannya belum jelas, karena penjelasannya berkaitan dengan kata baru yang maknanya sama dengan kata sebelumnya, atau dengan kata lain penjelasannya hanya berputar-putar.
Contoh: kata “kucing” diartikan sebagai binatang yang rupanya sebagai harimau kecil, sedangkan kata “harimau” diartikan sebagai binatang buas yang rupanya sebagai kucing besar. Bila kucing itu merupakan harimau kecil dan merupakan kucing besar, maka kata kucing dan harimau tetap belum jelas.
Nominal dan verbal

Kalimat verbal merupakan kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba. Sedangkan kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase verbal disebut nonverbal. Kalimat nominal termasuk kalimat nonverbal karena tersusun dari kata-kata benda. Jadi, verba dan nominal dikategorikan kata penuh atau kata yang secara l;eksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan mengalami proses morfologi dan dapat berdiri sendiri sebagai sebuah satuan tuturan.
3    Diksi / Pemilihan Kata Yang Tepat
Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Di samping itu, pemilihan kata itu harus pula sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata. Dalam memilih kata yang setepat-tepatnya untuk menyatakan suatu maksud, kita tidak dapat lari dari kamus.
Jika dilihat dari kemampuan pengguna bahasa, ada beberapa hal yang mempengaruhi pilihan kata, diantaranya :
• Tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan atau hal yang ‘diamanatkan’
• kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa pembacanya.
• menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif.
            Adapun fungsi Pilihan kata atau Diksi adalah Untuk memperoleh keindahan guna menambah daya ekspresivitas. Maka sebuah kata akan lebih jelas, jika pilihan kata tersebut tepat dan sesuai. Ketepatan pilihan kata bertujuan agar tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis atau pembicara dengan pembaca atau pendengar, sedangkan kesesuaian kata bertujuan agar tidak merusak suasana. Selain itu berfungsi untuk menghaluskan kata dan kalimat agar terasa lebih indah. Dan juga dengan adanya diksi oleh pengarang berfungsi untuk mendukung jalan cerita agar lebih runtut mendeskripsikan tokoh, lebih jelas mendeskripsikan latar waktu, latar tempat, dan latar sosial dalam cerita tersebut.
 Macam dan Penggunaan Kamus
Kamus adalah sejenis buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Ia berfungsi untuk membantu seseorang mengenal perkataan baru. Selain menerangkan maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal-usul (etimologi) sesuatu perkataan dan juga contoh penggunaan bagi sesuatu perkataan. Untuk memperjelas kadang kala terdapat juga ilustrasi di dalam kamus. Biasanya hal ini terdapat dalam kamus bahasa Perancis.
Kata kamus diserap dari bahasa Arab qamus (قاموس), dengan bentuk jamaknya qawamis. Kata Arab itu sendiri berasal dari kata Yunani Ωκεανός (okeanos) yang berarti 'samudra'. Sejarah kata itu jelas memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya. Dewasa ini kamus merupakan khazanah yang memuat perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas jumlahnya.
Jenis-jenis kamus
Berdasarkan penggunaan bahasa
Kamus bisa ditulis dalam satu atau lebih dari satu bahasa. Dengan itu kamus bisa dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
  • Kamus Ekabahasa
    Kamus ini hanya menggunakan satu bahasa. Kata-kata(entri) yang dijelaskan dan penjelasannya adalah terdiri daripada bahasa yang sama. Kamus ini mempunyai perbedaan yang jelas dengan kamus dwibahasa karena penyusunan dibuat berdasarkan pembuktian data korpus. Ini bermaksud definisi makna ke atas kata-kata adalah berdasarkan makna yang diberikan dalam contoh kalimat yang mengandung kata-kata berhubungan. Contoh bagi kamus ekabahasa ialah 
    Kamus Besar Bahasa Indonesia (di Indonesia) dan Kamus Dewan di (Malaysia).
  • Kamus Dwibahasa
    Kamus ini menggunakan dua bahasa, yakni kata masukan daripada bahasa yang dikamuskan diberi padanan atau pemerian takrifnya dengan menggunakan bahasa yang lain. Contohnya: Kamus Inggris-IndonesiaKamus Dwibahasa Oxford Fajar (Inggris-Melayu;Melayu-Inggris).
  • Kamus Aneka Bahasa
    Kamus ini sekurang-kurangnya menggunakan tiga bahasa atau lebih. Misalnya, kata Bahasa Melayu Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin secara serentak. Contoh bagi kamus aneka bahasa ialah Kamus Melayu-Cina-Inggris Pelangi susunan Yuen Boon Chan pada tahun 
    2004.
Berdasarkan isi
Kamus bisa muncul dalam berbagai isi. Ini adalah karena kamus diterbitkan dengan tujuan memenuhi keperluan gologan tertentu. Contohnya, golongan pelajar sekolah memerlukan kamus berukuran kecil untuk memudahkan mereka membawa kamus ke sekolah.
Secara umumnya kamus dapat dibagi kepada 3 jenis ukuran:
  • Kamus Mini
    Pada zaman sekarang sebenarnya susah untuk menjumpai kamus ini.Ia juga dikenali sebagai kamus saku karena ia dapat disimpan dalam saku. Tebalnya kurang daripada 2 cm.
  • Kamus Kecil
    Kamus berukuran kecil yang biasa dijumpai. Ia merupakan kamus yang mudah dibawa.Kamus Dwibahasa Oxford Fajar (Inggris-Melayu;Melayu-Inggris).
  • Kamus Besar
    Kamus ini memuatkan segala leksikal yang terdapat dalam satu bahsaa. Setiap perkataannya dijelaskan maksud secara lengkap.Biasanya ukurannya besar dan tidak sesuai untuk dibawa ke sana sini.Contohnya Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Kamus istimewa
Kamus bahasa Jerman dan bahasa Romawi
Kamus istimewa merujuk kepada kamus yang mempunyai fungsi yang khusus. Contohnya:
  • Kamus Istilah
    Kamus ini berisi istilah-istilah khusus dalam bidang tertentu. Fungsinya adalah untuk kegunaan ilmiah. Contohnya ialah Kamus Istilah Fiqh
  • Kamus Etimologi
    Kamus yang menerangkan asal usul sesuatu perkataan dan maksud asalnya.
  • Kamus Tesaurus (perkataan searti)
    Kamus yang menerangkan maksud sesuatu perkataan dengan memberikan kata-kata searti (sinonim) dan dapat juga kata-kata yang berlawanan arti (antonim). Kamus ini adalah untuk membantu para penulis untuk meragamkan penggunaan diksi.
Contohnya, Tesaurus Bahasa Indonesia
  • Kamus Peribahasa/Simpulan Bahasa
    Kamus yang menerangkan maksud sesuatu peribahasa/simpulan bahasa. Selain daripada digunakan sebagai rujukan, kamus ini juga sesuai untuk dibaca dengan tujuan keindahan.
  • Kamus Kata Nama Khas
    Kamus yang hanya menyimpan kata nama khas seperti nama tempat, nama tokoh, dan juga nama bagi institusi. Tujuannya adalah untuk menyediakan rujukan bagi nama-nama ini.
  • Kamus Terjemahan
    Kamus yang menyedia kata searti bahasa asing untuk satu bahasa sasaran. Kegunaannya adalah untuk membantu para penerjemah.
  • Kamus Kolokasi
    Kamus yang menerangkan tentang padanan kata, contohnya kata 'terdiri' yang selalu berpadanan dengan 'dari' atau 'atas'.
Cara penyusunan kamus
Penyusunan kamus merupakan suatu pekerjaan yang berat. Biasanya ia dilakukan secara bertahap dan disusun oleh secara berkelompok (team work).
Secara umum, penyusunan kamus akan melalui prosedur seperti di bawah:
  • Perancangan
  • Pembinaan Data Korpus
  • Pengisihan dan Pengabjadan Data
  • Pengolahan Data
  • Pemerian Makna
4.      BENTUK – BENTUK  KATA ( MORFOLOGI )
Definisi morfologi adalah cabang dari linguistic yang mempelajari struktur internt kata, serta proses-proses pembentukannya; sedangkan pengertian sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun suatu sintaksis yaitu frase, klausa dan kalimat, jelas ada maknanya. Lagi pula baik proses morfologi dan proses sinatksis itu sendiri juga mempunyai makna. Oleh karena itu pada tataran ini ada masalah-masalah semantik yaitu disebut semantic gramatikal karena objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.
Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
            Definisi morfologi adalah cabang dari linguistic yang mempelajari struktur internt kata, serta proses-proses pembentukannya; sedangkan pengertian sintaksis adalah studi mengenai hubungan kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa dan kalimat. Satuan-satuan morfologi, yaitu morfem dan kata, maupun suatu sintaksis yaitu frase, klausa dan kalimat, jelas ada maknanya.
 Lagi pula baik proses morfologi dan proses sinatksis itu sendiri juga mempunyai makna. Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

BAB VI
SELUK BELUK KALIMAT
1.      PENGERTIAN KALIMAT
Kalimat adalah gabungan dari dua buah kata atau lebih yang menghasilkan suatu pengertian dan pola intonasi akhir. Kalimat dapat dibagi-bagi lagi berdasarkan jenis dan fungsinya yang akan dijelaskan pada bagian lain. Contohnya seperti kalimat lengkap, kalimat tidak lengkap, kalimat pasif, kalimat perintah, kalimat majemuk, dan lain sebagainya.
Setiap kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur kalimat akan membentuk kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur inti kalimat antara lain SPOK :
- Subjek / Subyek (S)
- Predikat (P)
- Objek / Obyek (O)
- Keterangan (K)
1. Predikat (P)
Predikat dalam pandangan aliran struktural dianggap unsur yang paling penting dan merupakan inti kalimat. Predikat dalam bahasa Indonesia bisa berwujud kata atau frasa verbal, adjektival, nominal, numeral, dan preposisional.
Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini:
a. Yasmina duduk-duduk di ruang tamu.
b. Anda dan saya tidak harus pergi sekarang.
c. Letusan Gunung Merapi keras sekali.
d. Makanan itu mahal.
e. Ayah saya guru bahasa Indonesia.
f. Anda guru?
g. Anak kami tiga .
h. Peserta audisi itu puluhan ribu orang.
i. Dia dari Medan
j. Pak Nurdin ke Saudi.
            Pada sepuluh kalimat di atas, terdapat bagian yang dicetak miring. Ada yang berbentuk kata maupun frasa (lebih dari satu kata). Kata atau frasa yang dicetak miring tersebut berfungsi sebagai predikat.
Kalimat a dan b adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori verbal, disebut kalimat verbal. Kalimat c dan d adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori adjektival, disebut kalimat adjektival. Kalimat e dan f adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori nominal, disebut kalimat nominal. Kalimat g dan h adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori numeral, disebut kalimat numeral. Kalimat i dan j adalah contoh kalimat dengan predikat berkatagori preposisional, disebut kalimat preposisional.
2. Subjek (S)
            Disamping predikat, kalimat umumnya mempunyai unsur yang berfungsi sebagai subjek. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Subjek umumnya berwujud nomina, tetapi pada kalimat-kalimat tertentu, katagori lain bisa juga mengisi kedudukan subjek.
Pada sepuluh contoh kalimat di atas, kata atau frasa Yasmina, Anda dan saya, letusan Gunung Merapi, makanan itu, ayah saya, anak kami, peserta audisi itu, dia, dan Pak Nurdin berfungsi sebagai subjek. Subjek yang tidak berupa nomina, bisa ditemukan pada contoh kalimat seperti ini:
1. Merokok merupakan perbuatan mubazir.
2. Berwudlu atau bertayamum harus dilakukan sebelum sholat.
3. Objek (O)
Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nomina.
Berikut contoh objek dalam kalimat:
a. Dr. Ammar memanggil suster Ane.
b. Adik dibelikan ayah sebuah buku.
c. Kami telah memicarakan hal itu
Suster  ane, ayah, sebuah buku, dan hal itu pada tiga kalimat di atas adalah contoh objek. Khusus pada kalimat b. Terdapat dua objek yaitu ayah (objek 1) dan sebuah buku (objek 2)
4. Pelengkap (PEL)
Pelengkap atau komplemen mirip dengan objek. Perbedaan pelengkap dengan objek adalah ketidakmampuannya menjadi subjek jika kalimatnya yang semula aktif dijadikan pasif. Perhatikan kata-kata yang dicetak miring pada kalimat-kalimat di bawah ini. Kata-kata tersebut berfungsi sebagai pelengkap bukan objek.
Contoh:
a. Indonesia berdasarkan Pancasila
b. Ardi ingin selalu berbuat kebaikan
c. Kaki Cecep tersandung batu.
5. Keterangan (K)
Unsur kalimat yang tidak menduduki subjek, predidkat, objek, maupun pelengkap dapat diperkirakan menduduki fungsi keterangan. Berbeda dengan O dan PEL. yang pada kalimat selalu terletak dibelakang P, unsur yang berfungsi sebagai keterangan (K) bisa terletak di depan S atau P.
Contoh:
a. Di perpustakaan kami membaca buku itu.
b. Kami membaca buku itu di perpustakaan.
c. Kami /di perpustakaan/ membaca buku itu.
Pada tigakalimat di atas, tampak bahwa frasa di perpustakaan dan dengan tang yang berfungsi sebagai keterangan mampu ditempatkan di awal maupun di akhir. Khusus jika ditempatkan antara S dan P, cara membacanya (intonasi) harus diubah sedemikian rupa (terutama jeda) agar pemaknaan kalimat tidak keliru.
Dilihat dari bentuknya, keterangan pada sebuah kalimat bisa dikenali dari adanya penggunaan preposisi dan konjungsi (di, ke, dari, kepada, sehingga, supaya, dan sejenisnya.). Akan tetapi, tidak semua keterangan berciri demikian, ada pula keterangan yang berbentuk kata, seperti pada contoh berikut:
a. Kami telah mengengoknya kemarin.
b. Tiga tahun kami telah bekerja sama dengannya.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang di maksud penulis/pembicara.
Ciri-ciri kalimat efektif: (memiliki)
1. KESATUAN GAGASAN
Memiliki subyek,predikat, serta unsur-unsur lain ( O/K) yang saling mendukung
serta membentuk kesaruan tunggal.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat ini tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subyek. Unsur di dalam keputusan itu bukanlah subyek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus dihilangkan).
2. KESEJAJARAN
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3. KEHEMATAN
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.
Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
4. PENEKANAN
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
• Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang
penting di depan kalimat.
Contoh :
1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada
kesempatan lain
2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal
ini.
• Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah, -pun, dan kah.
Contoh :
1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.
3. Bisakah dia menyelesaikannya?
• Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
• Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan menyeluruh.
5. KELOGISAN
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
PELATIHAN
Ubahlah kalimat-kalimat di bawah ini menjadi kalimat efektif!
1. Seluruh siswa-siswa diharapkan harus mengikuti kerja bakti.
2. Para siswa-siswa diharuskan hadir di sekolah.
3. Dalam musyawarah itu menghasilkan lima ketetapan.
4. Kegagalan proyek itu karena perancangan yang tidak mantap
5. Yaitu tenun ikat yang khas Timor Timur.
Kalimat efektif yang sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya, antara
pikiran pembaca dengan pikiran penulisnya.
Dasar-dasar penguasaan kebahasaan yang mendukung keefektifan kalimat antara
lain : kosa kata yang tepat, kaidah sintaksis, dan penalaran yang logis.
Bandingkan :
• Walaupun ia tidak sekolah namun semangatnya berkobar.
• Ia tidak pernah sekolah namun semangatnya berkobar.
• Walaupun ia tidak pernah sekolah semangatnya berkobar.
• Di Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.
• Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
• Di Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
• Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.
Dari contoh-contoh tersebut manakah yang termasuk kalimat efektif ?
Kalimat dikatakan efektif jika memenuhi dua syarat utama, yaitu (1) struktur kalimat efektif dan (2) ciri kalimat efektif. Struktur kalimat efektif mencakup (a) kalimat umum, (b) kalimat paralel, dan (c) kalimat periodik. Sementara itu, ciri kalimat efektif meliputi :
a. Kesatuan (unity)
b. Kehematan (economy)
c. Penekanan (emphasis); dan
d. Kevariasian (variety)
2.      POLA – POLA DAN BAGIAN – BAGIAN KALIMAT
1. Pola Kalimat Dasar
Setelah membicarakan beberapa unsur yang membentuk sebuah kalimat yang benar, kita dapat menentukan pola kalimat dasar itu sendiri. Berdasarkan penelitian para ahli, pola kalimat dasar dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
a. KB + KK : Mahasiswa berdiskusi.
b. KB + KS : Dosen itu ramah.
c. KB + KBil Harga buku itu sepuluh ribu rupiah.
d. KB + (KD + KB) : Tinggalnya di Palembang.
e. KB1 + KK + KB2 : Mereka menonton film.
f. KB+ KK + KB2 + KB3 : Paman mencarikan saya pekerjaan.
g. KB1 + KB2 : Rustam peneliti.
Ketujuh pola dasar kalimat ini dapat diperluas dengan berbagai keterangan dan dapat pula pola-pola dasar itu digabung-gabungkan sehingga kalimat menjadi luas dan kompleks.
Catatan
KB : Kata Benda (nomina)
KK : Kata Kerja (verba)
KS : Kata Sifat (adjektiva)
KBil : Kata Bilangan (numeralia)
KD : Kata Depan (preposisi)
2. Bagian-bagian Kalimat
Bagian-bagian kalimat adalah unsur kalimat yang menduduki salah satu fungsi dalam sebuah kalimat yang terdiri atas subyek (S), predikat (P), obyek (O) dan keterangan (K). Susunan unsur-unsur ini dalam dimensi linear disebut struktur kalimat.
Di dalam berbahasa struktur dan kaidah bahasa diantaranya struktur kalimat perlu mendapat perhatian sehingga bahasa itu baik dan benar. Oleh karena itu, struktur kalimat dalam bahasa Indonesia sangat eksplisit sehingga ada bentuk kalimat yang terdiri atas satu kata, seperti lari, ada yang terdiri atas dua kata, seperti jangan bicara, ada yang tediri atas tiga kata, yakni pergilah dari sini!, dan seterusnya.
Demikianlah kalimat itu dapat ditentukan oleh intonasi tertentu. Hal ini kalimat adalah merupakan ucapan bahasa yang mempunyai arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh aturan dan turun naiknya suara. Sehingga terjadi pengucapan bahasa yang baik.
Melihat segi maknanya (nilai komunikatifnya) kalimat terbagi menjadi kalimat berita (kalimat deklaratif) kalimat perintah (kalimat imperatif), kalimat tanya (kalimat interogatif) dan kalimat seru (kalimat interjektif).
3.  Kalimat Sederhana dan Kalimat Luas
1. Kalimat Sederhana
Kalimat sederhana merupakan kalimat yang strukturnya menjadi dasar struktur kalimat suatu bahasa . Kalimat itu ditandai oleh faktor kesesuaian bentuk makna, fungsi, kesederhanaan unsur, dan posisi atau urutan unsur. Menurut kesesuain bentuk maknanya., kalimat sederhana memiliki bentuk yang utuh atau legkap. Menurut fungsinya, kalimat sederhana adalah kalimat berita. Ditinjau dari segi kesederhanaannya, kalimat sederhana memiliki unsur-unsur minimal. Berdasarkan urutan unsur-unsurnya, posisi gatra-gatra kalimat sederhana berurutan menurut segi ketergantungan diantara sesamanya. Sifat ketergantungan ini ditentukan oleh struktur fungsionalnya: SP, SPO, SPK, SPOK.
Syarat pertama struktur kalimat sederhana adalah bentuknya yang lengkap, dengan kata lain kalimat sederhana termasuk kalimat lengkap. Kelengkapan bentuk kalimat sederhana merupakan kelengkapan minimal. Artinya, bila unsur-unsur kalimat itu ditiadakan, maka kalimat itu bukan lagi kalimat sederhana.

Contoh:
·         Dia duduk.
·         Dia berlari.
·         Dia menangis.
·         Dia membaca.
Kalimat Sederhana dibagi atas dua bagian, yaitu kalimat yang tak berklausa
dan kalimat yang berklausa satu.
Sebelum kita membahas mengenai kalimat tak berklausa dan kalimat yang berklausa satu dalam kalimat sederhana, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu klausa? Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subjek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Pendapat lain mengatakan: “Klausa adalah suatu kontruksi yang didalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung hubungan fungsional, yang dalam tatabahasa lama dikenal dengan pengertian subjek, predikat, objek, dan keterangan-keterangan.”
1.      Kalimat tak berklausa
Kalimat tak berklausa adalah kalimat yang tidak terdiri dari klausa.
Contoh:
·         Selamat pagi!
·         Pergi!
2.      Kalimat berklausa satu
Kalimat yang berklausa satu adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa.

Contoh:
·         Lembaga itu menerbitkan majalah sastra.
2. Kalimat Luas
Kalimat luas adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Kalimat luas itu bermacam-macam. Macam-macam kalimat luas terdiri atas kalimat luas setara dan kalimat luas tak setara.
Sebuah kalimat luas dapat dipulangkan pada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu.
1.      Pola kalimat I = kata benda-kata kerja
Contoh: Adik menangis. Anjing dipukul.
Pola kalimat I disebut kalimat ”verbal”
2.      Pola kalimat II = kata benda-kata sifat
Contoh: Anak malas. Gunung tinggi.
Pola kalimat II disebut pola kalimat ”atributif”
3.      Pola kalimat III = kata benda-kata benda
Contoh: Bapak pengarang. Paman Guru
Pola pikir kalimat III disebut kalimat nominal atau kalimat ekuasional.
4.      Pola kalimat IV (pola tambahan) = kata benda-adverbial
Contoh: Ibu ke pasar. Ayah dari kantor.
Pola kalimat IV disebut kalimat adverbial
Suatu bentuk kalimat luas hasil penggabungan atau perluasan kalimat tunggal
sehingga membentuk satu pola kalimat baru di samping pola yang ada.
a. Kalimat Luas Setara
Kalimat luas setara ialah struktur kalimat yang di dalamnya terdapat sekurang-kurangnya dua kalimat dasar dan masing-masing dapat berdiri sebagai kalimat tunggal disebut kalimat luas setara (koordinatif). Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat dasar.
Contoh:
Saya datang, dia pergi.
Kalimat itu terdiri atas dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat dasar pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat mandiri. Demikian pula sebaliknya. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama. Itulah sebabnya kalimat itu disebut kalimat luas setara.
Ciri-ciri kalimat luas antara lain sebagai berikut:
1.      Kedudukan pola-pola kalimat, sama derajatnya.
2.      Penggabungannya disertai perubahan intonasi.
3.      Berkata tugas/penghubung, pembeda sifat kesetaraan.
4.      Pola umum uraian jabatan kata : S-P+S-P
Kalimat luas setara dibentuk dari dua buah klausa atau lebih yang digabungkan menjadi sebuah kalimat, baik dengan bantuan kata penghubung ataupun tidak.
Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat setara ini adalah sama derajatnya, yang satu tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain. Klausa-klausa itu mempunyai kedudukan yang bebas, sehingga kalau yang satu ditinggalkan, maka yang lain masih tetap berdiri sebagai sebuah klausa.
Pengabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas setara ini memberikan makna yang menyatakan penggabungan :
1) Penambahan
Kalimat luas serta setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna penambahan dibentuk dari dua buah klausa atau lebih, biasanya dengan bantuan kata penghubung ”dan”.
Contoh :
·         Selat Sunda terletak antara Pulau Sumatera dengan Pulau Jawa dan Selat Bali antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali
·         Kami belajar di perpustakaan, mereka bermain di halaman, dan guru-guru mengadakan rapat di kantor.
Kalau ada unsur yang sama dari klausa-klausa yang digabungkan itu, maka unsur yang sama itu dapat disatukan, artinya unsur yang sama itu hanya ditampilkan satu kali saja.
 Misalnya :
·         Adik belajar bahasa Inggris, Ida bahasa Perancis, dan Siti bahasa Jerman.
Predikat belajar pada klausa kedua dan ketiga dilesapkan, yang ditampilkan hanya pada klausa pertama.
2) Pertentangan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pertentangan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung tetapi atau sedangkan.
Contoh:
·         Saya ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi tetapi orang tua saya tidak mampu membiayainya.
·         Setahun yang lalu jalan ini bersih dan mulus tetapi sekarang kotor dan berlubang-lubang.
3) Pemilihan
Kalimat luas setara yang hubungan antara klausa-klausanya menyatakan makna ’pemilihan’ dibentuk dari dua buah klausa; biasanya dengan bantuan kata penghubung atau.
Contoh : Kamu mau menuruti nasihatku, atau kau dengarkan saja apa kata istrimu.
4) Penegasan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’penegasan’ dibentuk dari dua buah klausa;biasanya dengan bantuan kata penghubung bahkan, malah, apalagi, dan lagipula.
Contoh :
·         Anak-anak itu memang nakal, apalagi kalau tidak ada ibunya.
·         Daerah ini hawanya sejuk, lagipula pemandangannya indah.
5) Pengurutan
Kalimat luas setara yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’pengurutan’ atau ’pengaturan’ dibentuk dari dua buah klausa atau lebih; biasanya dengan bantuan kata penghubung lalu, kemudian, dan sebagainya.
Contoh :
·         Kami menoleh dulu ke kiri dan ke kanan, lalu segera berlari menyeberangi jalan yang ramai itu.
·         Mula-mula mereka membuka pintu itu, lalu mereka menyiapkan pondok-pondok tempat tinggal, kemudian barulah mereka menyiapkan lahan pertanian.

b. Kalimat Luas Bertingkat
Kalimat luas bertingkat ialah kalimat yang mengandung satu kalimat dasar yang merupakan inti (utama) dan satu atau beberapa kalimat dasar yang berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat inti itu misalnya keterangan, subjek, atau objek dapat disebut sebagai kalimat luas bertingkat jika di antara kedua unsur itu digunakan konjungtor. Konjungtor inilah yang membedakan struktur kalimat luas bertingkat dari kalimat setara.
Kalimat luas bertingkat dibentuk dari dua buah klausa, yang digabungkan menjadi satu. Biasanya dengan bantuan kata penghubung sebab, kalau, meskipun, dan sebagainya.
Kedudukan klausa-klausa di dalam kalimat luas bertingkat ini tidak sama derajatnya. Yang satu mempunyai kedudukan lebih tinggi dari yang lain; atau yang satu mengikat atau terikat pada yang lain.
Penggabungan dua buah klausa menjadi kalimat luas bertingkat ini memberikan makna yang, antara lain, menyatakan :
1) Sebab
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’sebab’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung karena atau sebab.
Klausa pertama (klausa bebas) sebagai induk kalimat menyatakan sesuatu peristiwa yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya peristiwa pada klausa kedua (klausa yang tidak bebas) yang menjadi anak kalimat pada kalimat bertingkat itu.
Contoh:
·         Karena tidak pandai berenang akhirnya dia hanyut terseret air.
·         Harga jual barang-barang ini terpaksa dinaikkan sebab biaya produksi dan ongkos kerja juga baik.
Anak kalimat dan induk kalimat pada kalimat bertingkat ini dapat dipertukarkan tempatnya. Kalau anak kalimat mendahului induk kalimat maka di muka induk kalimat dapat pula ditempatkan kata penghubung maka, misalnya :
·         Karena tidak pandai berenang, maka akhirnya dia terseret arus.
2) Akibat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’akibat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat dengan bantuan kata penghubung sampaihingga, atau sehingga.
Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan terjadinya sesuatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa pada klausa kedua
Contoh :
·         Tukang copet itu dipukuli orang ramai sampai mukanya babak belur.
·         Penumpang kereta api itu penuh sesak sehingga untuk meletakkan sebelah kaki pun sukar.
Dalam kalimat luas bertingkat yang hubungannya menyatakan akibat ini, posisi anak kalimat selalu di belakang induk kalimat.
3) Syarat
Kalimat luas bertingkat yang hubungan klausa-klausanya menyatakan makna ’syarat’ dibentuk dari dua buah klausa yang digabungkan menjadi sebuah kalimat; biasanya dengan bantuan kata penghubung kalau, jika, dan asal.
Klausa pertama sebagai induk kalimat menyatakan akan terjadinya suatu peristiwa kalau sudah terjadi peristiwa lain yang dinyatakan pada klausa kedua atau anak kalimatnya. Namun, perlu diperhatikan urutan induk kalimat dan anak kalimat dapat dipertukarkan.
Contoh :
·         Saya akan hadir kalau saya di undang.
·         Jika mereka bersalah tentu kami yang akan menindaknya.
4        PRINSIP – PRINSIP MENCARI GATRA KALIMAT DAN MACAM  KETERANGAN  KALIMAT
Pengertian Gatra
            Kata - kata di dalam kalimat ada yang menyendiri dan ada yang berkelompok dengan kata lain. Masing - masing kelompok kata tersebut disebut kesatuan sintaksis. Jadi hubungan antara kata satu dengan kata yang lain tidaklah sama eratnya.
Kesatuan sintaksis itu ditentukan oleh permutasi atau pemindahan. Kata atau kelompok kata yang dapat dipindahkan tempatnya tanpa mengubah arti merupakan suatu kesatuan sintaksis. Kata atau kelompok kata tersebut disebut gatra. Jadi, gatra ialah kesatuan sintaksis di dalam kalimat yang dapat diubah-ubah letaknya tanpa mengubah arti kalimat tersebut. Gatra - gatra tersebut disebut fungsi atau jabatannya. Fungsi-fungsi tersebut adalah subyek (S), predikat (P), objek (O) dan keterangan (K). Gatra subyek dan predikat dianggap sebagai gatra mutlak yang harus ada jika suatu ujaran mau disebut kalimat. Tetapi apabila sudah diketahui oleh kedua belah pihak yang berbicara, salah satu atau keduanya dapat juga tidak tidak disebutkan.
1.2 Analisis Unsur Bawahan Langsung
            Untuk menentukan gatra - gatra dalam sebuah kalimat dapat dilakukan dengan teknik analisis unsur bawahan (UBL). Prosedurnya sangat sederhana, yaitu dengan menganalisis unsur - unsur pembentuknya, yaitu unsur segmental (tidak bisa dianalisis lagi) dan unsur suprasegmental (masih bisa dianalisis lagi) seperti contoh dibawah ini :
Kalimat yang akan dianalisis : Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh.
UBL 1, kalimat di atas dapat dianalisis sebagai berikut:
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh
- UBL 2, kalimat di atas masih bisa dianalisis menjadi:
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh
UBL 3, yang masih bisa dianalisis dari kalimat di atas yaitu (a) sudah mengerjakan soal itu dan (b) dengan sungguh-sungguh. Sehingga menjadi:
(a)Sudah
Mengerjakan soal itu
(b)Dengan sungguh-sungguh
UBL 4, yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah”mengerjakan soal itu”.
Sehingga menjadi:
Mengerjakan
Soal itu
UBL 5, yang masih bisa dianalisis berikutnya adalah “soal itu”. Sehingga menjadi:
Soal itu Jadi, hasil analisisnya sebagai berikut:
Ia sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh
Ia/sudah mengerjakan soal itu dengan sungguh-sungguh
Ia/sudah mengerjakan soal itu/dengan sungguh-sungguh
Ia/sudah/mengerjakan soal itu/dengan/sungguh-sungguh
Ia /sudah/mengerjakan/soal / itu / dengan/sungguh-sungguh
(sampai tingkat tertentu, analisis UBL dapat digunakan sebagai dasar penentuan gatra).
1.3 Gatra Subyek
Ciri-ciri gatra subyek:
a. Subyek merupakan gatra inti yang tidak bisa dihilangkan atau dihapus.
Jika dihapus maka struktur kalimat akan kacau atau tak sempurna atau bahkan
tak mempunyai arti dan menjadi tidak baku.
b. Berdasarkan intonasinya, pada gatra subyek suara makin naik disertai nada
tertahan (jeda).
c. Subjek bisa dipindahkan posisinya tanpa mengubah makna, misalnya
mendahului predikat atau bisa diinversikan (dibuat kalimat inversi).
d. Gatra subyek bisa dipertegas dengan kata “ini” atau “itu”.
e. Gatra subyek berjenis kata benda (berupa kata atau frasa). Sebenarnya, secara
sintaksis (tata kalimat) subjek pasti berupa kata benda.
f. Karena gatra subyek termasuk kelas benda, subyek cocok untuk pertanyaan
“apa” atau “siapa” didepan gatra predikat. Jika berupa klausa, bisa didahului
kata hubung “bahwa”.
1.4 Gatra Predikat
Ciri-ciri gatra predikat adalah :
a. Karena gatra predikat merupakan gatra inti, gatra predikat tidak bisa
dihilangkan atau dihapuskan. Jika dihapus maka struktur kalimat akan kacau.
b. Berdasarkan intonasinya, suara makin merendah pada akhir gatra predikat dan
diikuti kesenyapan.
c. Gatra predikat bisa mendahului subyek (inversi) tanpa mengubah makna.
d. Dapat dipertegas dengan melekatkan partikel “lah” pada akhir gatra predikat
lebih – lebih bila predikat berjenis bukan kata/frasa kerja. Terutama bila berada
di depan subyek/inversi..
e. Cocok untuk menjawab pertanyaan dibalakang subyek seperti : “mengapa”,
“bagaimana”, “berapa”, “apa” atau “siapa”
1.5 Objek
Objek merupakan gatra tambahan. Ada empat macam objek yaitu objek penderita, objek pelaku, objek berperangkai/objek berkata depan dan objek penyerta/objek berkepentingan.
Sebenarnya masih ada satu objek lagi yaitu objek semu atau sering disebut pula pelengkap. Ciri pokok objek semu adalah selalu berada di belakang kalimat aktif intrasitif tetapi tidak bisa dipindah/dipermutasikan dan tak dapat pula dipasifkan kalimatnya. Yang khas dari semua objek adalah bahwa objek hanya ada dalam kalimat verbal (kalimat yang predikatnya kata kerja) karena pengertian objek erat hubungannya dengan masalah aktif -pasif , transitif-intransitif. Hanya kata kerjalah yang berhubungan dengan aktif-pasif, transitif-intrasitif.
Adapun macam-macam objek antara lain:
A . Objek PenderitaCiri-ciri objek penderita antara lain:
(1) Hanya ada dalam kalimat verbal.
(2) Selalu mengikuti kata kerja aktif transitif.
(3) Akan menjadi subjek dalam kalimat pasifnya.
(4) Selalu berada dibelakang predikat dalam keadaan aktifnya (tidak bisa
dipindah posisinya), tetapi tetap digolongkan sebagai gatra.
(5) Karena hubungan dengan predikatnya sangat erat, kalimat belum lengkap
tanpa objek ini. Namun demikian kalimat ini bukan gatra inti.
(6) Bila bukan klausa, tak pernah didahului /diawali kata tugas (kata depan, kata
hubung, dsb).
(7) Selalu berjenis kata / frasa benda ( secara stuktural ).
(8) Bila objek berupa klausa, biasanya didahului kata hubung “bahwa”.
B. Objek PelakuCiri-ciri objek pelaku antara lain:
(1) Hanya ada dalam kalimat verbal
(2) Selalu mengikuti predikat kalimat pasif (jadi hanya ada dalam bentuk pasif ).
(3) Bisa didahului kata depan “oleh”.
(4) Bila bisa diaktifkan (predikatnya berawalan “di”), objek pelaku akan
menjadi subjek kalimat aktifnya.
(5) Bisa dipindahkan posisinya (tak harus di belakang predikatnya).
(6) Tak pernah berupa klausa (jadi tak ada klausa anak/anak kalimat yang
menduduki jabatan objek pelaku.
C. Objek Penyerta/Objek BerkepentinganCiri-ciri obek penyerta:
(1) Hanya ada dalam kalimat verbal.
(2) Selalu ada bersama objek lain. Jadi tak pernah sebuah kalimat atau klausa
hanya memiliki objek penyerta saja . Inilah sebabnya objek penyerta disebut
juga objek kedua ( O2 ).
(3) Bisa dipindahkan tempatnya tanpa mengubah makna.
(4) Tak pernah berupa klausa.
(5) Selalu berupa person (Orang, binatang, instansi, dsb.).
D. Objek Berperangkai / Objek Berkata DepanCiri-ciri objek berperangkai:
(1) Hanya ada dalam kalimat verbal.
(2) Selalu mengikuti predikat kalimat yang berjenis aktif intrasitif.
(3) Bisa dipindahkan posisinya tanpa mengubah makna kalimat.
(4) Walaupun kalimatnya berupa kalimat aktif, tidak bisa dipasifkan.
(5) Biasanya didahului kata depan “akan”, “tentang”, “atas”, “terhadap”,
“mengenai”, bila berupa klausa , dapat didahului kata hubung “ bahwa”.
E. Objek SemuCiri-ciri objek semu antara lain:
(1) Selalu ada dalam kalimat verbal.
(2) Selalu mengikuti predikat yang berjenis kata kerja aktif intransitif.
(3) Mirip objek penderita tetapi kalimatnya tidak bisa dipasifkan.
(4) Predikantya merupakan pasangan tetap (mirip idiom).
(5) Tak bisa dipindahkan tempatnya.
1.6 Gatra Keterangan
Baik objek maupun keterangan merupakan keterangan predikat. Bedanya, objek merupakan keterangan yang sifatnya erat. Inilah sebabnya letak objek yang ideal adalah hubungannya dengan predikat. Inilah sebabnya keterangan kalimat lebih bebas dipindah posisinya .
Baik objek maupun keterangan kalimat merupakan gatra tambahan (bukan gatra inti). Oleh karena itu, bisa dihapus tanpa mengurangi makna inti, terutama keterangan. Sedikit berbeda dengan objek, objek memang akan mengakibatkan sedikit janggal bunyi / nada kalimat bila objek dihapus. Hal ini dikarenakan sifat hubungan objek yang erat dengan predikat, terutama objek penderita
Adapun macam-macam keterangan klimat antara lain:
A. Keterangan Tempat (Lokatif)
Keterangan kalimat yang menerangkan tempat/dimana berlangsungnya peristiwa/tindakan yang tersebut pada predikat.Keterangan ini biasanya diawali/dirangkaikan dengan kata tugas “di”, “ke”, “dari”, “pada”, “kepada”. Keterangan ini tak pernah berupa klausa. Jadi tidak akan pernah ada klausa anak/anak kalimat menjabat keterangan tempat.
Misal :
(1) Ibu tinggal di rumah.
(2) Di belakang rumahnya terdapat taman yang indah.
B. Keterangan Alat (Instrumental)
Yaitu, keterangan yang menjelaskan dengan alat mana atau apakah perbuatan/peristiwa predikat dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas “dengan”. Keterangan ini tidak pernah berupa klausa.
Misal :
(1) Saya memukulnya dengan tongkat.
(2) Ia menjawab pertanyaan itu dengan alasan yang tepat.
C. Keterangan Kesertaan (Komitatif) Yaitu, Keterangan yang menjelaskan keikutsertaan seseorang dalam tindakan yang tersebut dalam predikat. Keterangan ini tidak pernah berupa klausa. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas “dengan” atau ”bersama”.
Misal :
(1) Bersama ayah saya pergi ke Bandung.
(2) Saya belajar dengan kawan-kawan saya.
D. Keterangan Suasana/Keadaan (Situasi) Yaitu, Keterangan yang menjelaskan bagaimana/dalam keadaan apa suatu perbuatan yang tersebut dalam predikat berlangsung. Biasanya, keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas “dengan” dan diikuti kata/frasa yang menyatakan suasana. Keterangan ini tidak pernah berupa klausa.
Misal :
(1) Teman-teman saya belajar dengan penuh kegembiraan.
(2) Dengan tertawa-tawa dia menjawab pertanyaanku.
E. Keterangan Cara/Mutu (Kualitas) Yaitu, Keterangan yang menjelaskan dengan cara mana atau bagaimana peristiwa predikat dilaksanakan. Biasanya keterangan ini dinyatakan dengan kata tugas “dengan” disertai kata/frasa sifat. Keterangan ini tidak pernah berupa klausa.
Misal:
(1) Dia berjalan dengan cepat.
(2) Dia berteriak dengan lantang.
F. Keterangan Kuantitatif (Jumlah) Yaitu, Keterangan yang menyatakan jumlah atau berapa kali peristiwa dalam predikat berlangsung.
Misal:
(1) Saya makan lagi.
(2) Anak itu menempeleng saya dua kali.
G. Keterangan Modalitas Yaitu, keterangan yang menjelaskan sikap pembicara/tafsiran pembicara terhadap peristiwa/tindakan yang tersebut dalam predikat. Jadi keterangan ini bersifat subyektif.
5.      KALIMAT  ANALITIS  DAN  SINTETIS SERTA VARIASI  SUSUNANNYA
1. Kalimat Analitis.
Kalimat Analitis Adalah kalimat yang di dalamnya terkandung kebenaran yang umum dan berlaku di mana-mana.
Contoh Kalimat Analitis:
a. Kucing adalah binatang.
b. Semua orang kikir pasti pelit.
c. Hitam adalah warna gelap.
2. Kalimat Sintesis.
Kalimat Sintesis Adalah kalimat yang kebenarannya didasarkan pada hasil observasi dan pengamatan.
Contoh Kalimat Sintesis
a. Semua orang kikir harus dikasihani.
b. Semua orang jawa pintar.
c. Makhluk Tuhan pasti beriman.
Untuk menentukan kalimat analitis dan sintesis harus mendefinisikan dahulu kata kunci dari sebuah kalimat.
Menggunakan Kalimat Yang Bervariasi Susunannya.
Sebagai mana kita ketahui bahwa setiap kalimat mempunyai bagian – bagian yang membentuknya. Unsur – unsur pembentuk tersebut berupa gatra . Gatra pangkal/gatra diterangkan/gatra digolongkan, ketiganya lazim disebut predikat
Pola kalimat mantap, urutan gatra-gatranya:
a.S – P
b.S – P – O
c.S – P – O1 – O2
Bila kita hendak menambahkan K, maka letaknya pada akhir kalimat, sehingga
urutannya menjadi :
a.S – P – K
b.S – P – O – K
c.S – P – O – K – K
d.S – P – O1 – O2 – K
Contoh kalimat mantap: Ia mengajak ayah .
S P O
Bila urutan gatra-gatranya diubah:
Ayah mengajak ia
S P O (makna kalimat berubah)
Jadi dalam kalimat mantap kedudukan tiap gatra tidak dapat dipindahkan tempatnya, sebab jika dipindahkan akan mengubah makna kalimat.
Kalimat bervariasi adalah kebalikan dari kalimat mantap. Sebuah kalimat yang urutan gatra-gatranya diubah terjadilah variasi susunan tanpa mengubah makna kalimat tersebut, kalimat demikian disebut kalimat bervariasi
Perhatikan contoh dibawah ini:
Kalimat asal : nalayan menjaring ikan dilaut. (S – P – O – K)
Kalimat bervariasi : - Di laut nelayan menjaring ikan. (K – S – P – O)
- Nelayan di laut menjaring ikan. (S – K – P – O)

BAB VII
MENYUSUN  ALINEA

1.      PENGERTIAN  ALINEA
            Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. Demikian pula dengan paragraf berikutnya mengikuti penyajian seperti paragraf pertama.
 Syarat sebuah paragraf,
üdi setiap paragraf harus memuat dua bagian penting, yakni :
1. Kalimat Pokok
Biasanya diletakkan pada awal paragraf, tetapi bisa juga diletakkan pada bagian tengah maupun akhir paragraf. Kalimat pokok adalah kalimat yang inti dari ide atau gagasan dari sebuah paragraf. Biasanya berisi suatu pernyataan yang nantinya akan dijelaskan lebih lanjut oleh kalimat lainnya dalam bentuk kalimat penjelas.
2. Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas adalah kalimat yang memberikan penjelasan tambahan atau detail rincian dari kalimat pokok suatu paragraf.
2.     MACAM – MACAM ALINEA
• Berdasarkan tujuannya:
1) Paragraf pembuka : Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas meniapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.
2) Paragraf penghubung : Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada alinea pembuka.
3) Paragraf penutup : Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) menenai hal-hal yang dianggap penting.
• Berdasarkan letak kalimat utama
1) Paragraf deduktif
a. letak kalimat utama di awal paragraf
b. dimulai dengan pernyataan umum disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.
2) Paragraf induktif
a. letak kalimat utama di akhir paragraf.
b. diawali dengan uraian/penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.
3) Paragraf campuran
a. letak kalimat utama di awal dan di akhir paragraf
b. kalimat utama yang terletak di akhir bersifat penegasan kembali, dengan susunan kalimat yang agak berbeda.
• Berdasarkan isi, antara lain :
1) Paragraf deskripsi : kalimat utama tak tercantum secara nyata tema pargraf tersirat dalam keseluruhan paragraf biasa dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.
2) Paragraf proses : tidak terdapat kalimat utama pikiran utama tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas memaparkan urutan suatu kejadian/proses, meliputi waktu, ruang, klimaks, antiklimaks.
3) Paragraf efektif : paragraf efektif ialah alinea yang memenuhi ciri paragraf yang baik alinea terdiri atas beberapa kalimat terdiri atas satu pikiran utama dan lebih dari satu pikiran penjelas tidak boleh ada kalimat sumbang ada koherensi antar kalimat.
3. Pengembangan Paragraf

Pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan 2 pola, yaitu :
1. Pola alamiah : pola urutan yang sesuai dengan keadaan di alam. Pola ini meliputi pola :
a. Urutan waktu/kronologis
b. Urutan ruang/ special
2. Pola logis : pola pengembangan didasarkan atas jalan pikiran. Pola ini meliputi pola :
a. Pengambangan contoh
b. Klasifikasi
c. Familiaritas
d. Akseptabilitas
e. Umum-khusus
f. Sebab akibat
g. Klimaks-antiklimaks
h. Perbandingan-pertentangan
3.   KOREKSI KESALAHAN KALIMAT
1. Kesalahan kalimat
Kalimat adalah sepatah kata atau sekelompok kata yang merupakan suatu kesatuan yang mengutarakan suatu pikiran atau perasaan (Kamus Bahasa Indonesia).
Contoh : “Ada sebuah cerita pengalamanku dengan temen-temenku saat aku berwisata ke daerah jawa tengah, saat ber sms-an sempat diingetin untuk tidak berhubungan dulu”,
Kalimat diatas merupakan contoh kalimat yang tidak efektif, diantaranya penyimpangan kaidah tata bahasa, kalimat yang terlalu panjang dan tidak cermat memilih kata-kata, akan lebih efektif jika disusun menjadi “Ada cerita pengalamanku dengan teman-teman saat berwisata ke daerah jawa tengah,dalam sms diingatkan untuk tidak berhubungan dulu”.
Selanjutnya akan dipaparkan penjelasan singkat faktor penyebab ketidakefektifan kalimat, diantaranya :
1. Kesalahan tata bahasa,
Penggunaan tata bahasa yang benar sangatlah menentukan keefektifan sebuah kalimat. Contoh : “sempat diingetin untuk tidak berhubungan dulu”, kalimat itu tidak baku, seharusnya menjadi “sempat diingatkan untuk tidak berhubungan dulu”.
2. Ketidak logisan kalimat.

Pemakaian beberapa kata dalam sebuah kalimat, disusun berdasarkan sebuah pengertian dari maksud yang akan disampaikan. Contoh : “..untuk tidak berhubungan dulu karena kemungkinan sinyalnya akan hilang”, pengertian kata “berhubungan” disini belum jelas, jika dirangkaikan dengan kalimat “sinyalnya akan hilang” yang menyatakan alasan untuk tidak melakukan “berhubungan” tersebut, haruslah disertai dengan jenis kata kerja tersebut, misalnya “berhubungan telepon”.
3. Ketatalaksanaan kalimat
4. Ketidak hematan kalimat (terlalu panjang)

Contoh : “pengalamanku dengan temen-temenku saat aku berwisata”,
Kata “ku” disini dicntumkan berulang-ulang dalam satu kalimat, dengan satu kali saja cukup untuk mewakili, menjadi “pengalamanku dengan teman-teman saat berwisata”.
5. Kesejajaran kalimat
6. Kerancuan kalimat.
Contoh : “yang akan membuktikan meyakinkan bahwa XL..”
Kata “membuktikan” dan “meyakinkan” hampir memiliki pengertian yang sama, cukup salah satu dicantumkan, bisa “membuktikan” atau “meyakinkan”.
7. Pengaruh Bahasa Asing dan Daerah.
Kita seringkali menemukan sebuah kalimat menggunakan struktur bahasa
Yang berbeda, seperti pada contoh :
“XL Provider memang sudah layak untuk menyabet gelar “The Completely of service”.
Kata “menyabet” dalam kalimat diatas dipengaruhi oleh Bahasa Sunda yang artinya “memperoleh”.

4.   MEMBUAT RINGKASAN  TEKS
Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah dalam yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuatan ringkasan. Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur :
1. Membaca naskah asli.
    Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara          menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama.
3. mengadakan reproduksi.
yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.
Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan juga agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian gagasan yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.
e) Menentukan panjang ringkasan.
Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yangn harus ditulisnya.

BAB VIII
ANALISI  TEKS
A.                 Koreksi Kesalahan Ejaan
            Di dalam kenyataan penggunaan bahasa, masih banyak kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan penerapan ejaan, terutama tanda baca. Penyebabnya, antara lain ialah adanya perbedaan konsepsi pengertian tanda baca di dalam ejaan sebelumnya yaitu tanda baca diartikan sebagai tanda bagaimana seharusnya membaca tulisan. Misalnya, tanda koma merupakan tempat perhentian sebentar (jeda) dan tanda tanya menandakan intonasi naik.
Beberapa kesalahan bahasa yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan tanda baca, khususnya tanda koma.
1. Tanda Koma di antara Subjek dan Predikat
Ada kecenderungan penulis menggunakan tanda koma di antara subyek dan predikat kalimat, jika nomina subjek mempunyai keterangan yang panjang. Penggunaan tanda koma itu tidak benar karena subjek tidak dipisahkan oleh tanda koma dari predikat, kecuali pasangan tanda koma yang mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
Contoh : Rudi Hartono, yang pernah menjuarai All England delapan kali, menjadi pelatih PBSI.
Penggunaan tanda koma dalam contoh-contoh berikut tidak benar :
a. Mahasiswa yang akan mengikuti ujian negara, diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat.
b. Kesediaan negara itu untuk membeli gas alam cair (LNG) Indonesia sebesar dua juta ton setiap tahun, tentu merupakan suatu penambahan baru yang tidak sedikit artinya dalam penerimaan devisa negara.
Unsur kalimat yang mendahului tanda koma dalam kedua contoh di atas adalah subyek, dan unsur kalimat yang mengiringi tanda koma itu (secara berturut-turut diharapkan, merupakan) adalah predikat. Oleh karena itu, penggunaan tanda koma itu tidak benar. Kedua kalimat itu dapat diperbaiki dengan menghilangkan tanda koma itu.
2. Tanda Koma di antara Keterangan dan Subyek Selain subyek, keterangan kalimat yang panjang dan yang menempati posisi awal juga sering dipisahkan oleh tanda koma dari subyek kalimat. Padahal, meskipun panjang, keterangan itu bukan anak kalimat. Oleh karena itu, pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar.
Contoh :
a. Dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI, kita akan mengadakan sayembara mengarang tingkat SMTA.
b. Dengan kemenangan yang gemilang itu, pemain andalan kita dapat memboyong piala kembali ke Tanah Air.
Unsur kalimat yang mendahului tanda koma itu adalah keterangan yang bukan merupakan anak kalimat meskipun panjang. Oleh karena itu, tanda koma tersebut dihilangkan, kecuali jika penghilangan tanda koma itu akan menimbulkan ketidakjelasan batas antara keterangan dan subyek.
Contoh :
Dalam pemecahan masalah kenakalan anak kita memerlukan data dari berbagai pihak, antara lain dari pihak orangtua, sekolah, dan masyarakat tempat tinggalnya.
3. Tanda Koma di antara Predikat dan Objek
Objek yang berupa anak kalimat juga sering dipisahkan dengan tanda koma dari predikat. Pemakaian tanda koma seperti itu juga tidak benar karena obyek tidak dipisahkan dengan tanda koma dari predikat.
Contoh :
a. Ibu tidak menceritakan, bagaimana si Kancil keluar dari sumur jebakan itu
b. Kami belum mengetahui, kapan penelitian itu akan membuahkan hasil.
Di antara obyek dan predikat tidak digunakan tanda koma, kecuali tanda koma yang mengapit keterangan yang berupa anak kalimat atau tanda koma yang memisahkan kutipan dari predikat induk kalimat.
Contoh :
a. Pejabat itu menegaskan, ketika menjawab pertanyaan wartawan, bahwa kenaikan harga sembilan bahan pokok akan ditekan serendah-rendahnya.
b. Seorang pedagang mengatakan, sambil melayani pelanggannya, bahwa naiknya harga barang-barang sudah dari agennya.
Penggunaan tanda koma tidak dibenarkan jika obyek kalimat itu bukan kutipan langsung, seperti dalam contoh berikut.
Contoh : Tokoh tiga zaman itu menegaskan, perkembangan teknologi melaju terlalu cepat dalam dua dasawarsa terakhir ini. 
B. Koreksi Kesalahan Alinea

            Pada karangan mahasiswa sering dijumpai alinea yang kurang baik. Di samping itu, banyak juga mahasiswa yang mengakui bahwa mereka mendapat kesulitan dalam mengungkapkan ide atau gagasannya.
Berikut prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam membuat alinea:
1. buatlah alinea yang mengandung satu ide pokok dengan penjelasan yang memadai.
2. jelaskanlah ide pokok tersebut dengan kalimat-kalimat efektif, dan pemilihan kata/istilah tepat, serta ejaan yangn benar.
3. memisahkan ide pokok yang berbeda, namun masih berkaitan erat dengan ide pokok pada alinea sebelumnya. Dan tuliskan ide pokok tersebut pada alinea berikutnya disertai dengan penjelasannya.
4. ide /gagasan tersebut harys nenggunakan perangkat kalimat yang padu, runtun, dan koheren.
5. perhatikan juga kesinambungan ide antara alinea dan kesinambungan ide dari alinea pertama sampai alinea terakhir.
6. tempatkan ide pokok pada awal atau bagian akhir alinea.
7. mengembangkan ide pokok dengan menggunakan salah satu metode sebagai berikut:
a. ide dikembangkan dengan mengemukakan pernyataan yang berupa fakta.
b. Ide dikembangkan dengan mengemukakan contoh.
c. Cara analogi dapat juga digunakan untuk mengembamgkan ide dalam linea.
d. Membandingkan dua ide bawahan denga mengemukakan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya.
e. Pola pikir induktif atau deduktif dapat juga digunakan dalam pengembangan ide dalam alinea.
f. Mengemukakan alasan suatu kejadian menuju pada akibat atau sebaliknya.
g. Penguraian suatu peristiwa secara kronologis.
h. Ide dikembangkan secara deskriptif tentang suatu keadaan.
Contoh Paragraf yang salah.
Sistem pondasi cakar ayam penemuan almarhum Prof. Sedyatmo yang terkenal akhir-akhir ini di kalangan Internasional, terutama di negara Asean karena dipakai untuk membagun berbagai struktur di atas tanah lembek.
Koreksi paragraf tersebut:
Sistem pondasi cakar ayam dipakai untuk membangun berbagai struktur di atas tanah lembek. Ini didasarkan atas penemuan almarhum Prof. Sedyatmo.
C. Koreksi Kesalahan Kalimat
1. Kesalahan kalimat
a. Kesalahan intrernal
Kesalahan internal adalah kesalahan kalimat yang diukur dari unsur-unsur dalam kalimat. Kesalahan dari segi internal dapat dipilah menjadi beberapa tipe. Tipe pertama adalah kesalahan kandungan isi yang menyebabkan kalimat menjadi tidak logis sebagaimana tampak pada contoh berikut :
1. Dengan pemakaian pupuk urera pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
2. Kepada semua informan mendapatkan dua macam instrumen yaitu angket dan catatan kegiatan.
Kedua kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak logis. Untuk membuktikan itu dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi setiap kalimat itu.
Pada kalimat (1) jika dipertanyakan dengan kalimat Apa yang menyuburkan tanaman?, jawaban tidak dapat dicari dalam kalimat itu. Barulah jawaban dapat ditemukan jika frasa dengan pemakaian dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi Pupuk Urea Pil dapat menyuburkan tanaman dan meningkatkan produksi pertanian.
Pada kalimat (2) jika dipertanyakan dengan kalimat siapa yang mendapatkan dua macam instrumen? Maka jawaban tidak dapat dicari, jawaban terhadap kalimat itu baru dapat diarahkan ke semua informan jika kalimat di ubah menjadi Semua informan mendapatkan dua macam instumen, yaitu angket dan catatan kegiatan.
b. Kesalahan Eksternal
Kesalahan eksternal adalah kesalahan yang diukur dari unsur luar kalimat yang bersangkutan. Di sini kesalahan eksternal di ukur dari kalimat-kalimat lain yang menjadi konteks atau lingkungannya.
Contoh :
Proyek lembah Dieng terletak di dukuh Sumberejo, desa Kalisungo yang termasuk dalam daerah Kabupaten Malang. Daerah Malang yang sejuk terdiri dari pegunungan-pegunungan kecil.
Dua buah kalimat paragraf tersebut benar secara internal, tetapi salah secara eksternal, karena tidak membentuk satu gagasan yang utuh dan padu dalam paragraf.
2. Membetulkan kesalahan kalimat
ada beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat :
a. Kalimat tanpa subjek
Dalam menyusun sebuah kalimat, sering kali dengan kata depan atau preposisi, lalu verbanya menggunakan bentuk aktif atau berawalan me- baik dengan atau tanpa akhiran –kan. Dengan demikian dihasilkan kalimat-kalimat salah seperti di bawah ini.
1. Bagi yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Dengan beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.
Untuk membetulkan kalimat di atas dapat dilakukan dengan
1. menghilangkan kata depan pada masing-masing kalimat tersebut, atau
2. mengubah verba pada kalimat tersebut, misalnya dari aktif menjadi pasif.
Jadi kemugkinan pembetulan kalimat di atas adalah :
1. Yang merasa kehilangan buku tersebut harap mengambilnya di kantor.
2. Beredarnya koran masuk desa bermanfaat sekali bagi masyarakat pedesaan.
Dalam pembetulan kalimat di atas, maka subjeknya menjadi lebih jelas, yaitu berturut-turut adalah yang merasa kehilangan buku tersebut dan beredarnya koran masuk desa.
b. Kalimat dengan objek berkata depan
kesalahan pemakaian kata depan juga sering ditemui pada objek.
Sebagai contoh:
1. Hari ini kita tidak akan membicarakan lagi mengenai soal harga, tetapi soal ada tidaknya barang itu.
2. Dalam setiap kesempatan mereka tidak bosan-bosannya mendiskusikan tentang dampak positif pembuatan waduk itu.
Dua kalimat di atas dapat dibetulkan dengan menghilangkan kata depan mengenai pada kalimat (1) dan tentang pada kalimat
(2)Perlu dicatat bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa verba dan kata depan yang sudah merupakan paduan, misalnya:
Bertentangan dengan, bergantung pada, berbicara tentang, menyesal atas, keluar dari, sesuai dengan serupa dengan.
c. Konstruksi pemilik kata depan
Kesalahan pemakaian kata depan lain yang ditemui pada konstruksi frasa : termilik + pemilik. Secara berlebihan sering ditemui adanya kecenderungan mengeksplisitkan hubungan antara termilik dengan pemilik dengan memakai kata depan dari atau daripada, misalnya :
Kebersihan lingungkungan adalah kebutuhan dari warga
Buku-buku daripada perpustakaan perlu ditambah.
Kontruksi frasa yang sejenis dengan kebutuhan dari warga dan buku-buku daripada perpustakaan ini sering kita dengar perlahan dalam pidato-pidato (umumnya tanpa teks), misalnya :
Biaya dari pembangunan jembatan ini; kenaikan daripada harga-harga barang elektronik.
Dalam karangan keilmuan konstruksi frasa yang tidak baku sepeti di atas hendaknya dihindari karena dalam bahasa Indonesia hubungan “termilik” + pemilik bersifat implisit.
d.. Kalimat yang ‘pelaku’ dan verbanya tidak bersesuaian
Dalam kalimat dasar, verba dapat dibedakan menjadi verba yang menuntut hadirnya satu ‘pelaku’ dan verba yang menuntut hadirnya lebih dari satu ‘pelaku’. Dalam pembentukan kalimat, kesalahan yang mungkin terjadi ialah yang penggunaan verba dua ‘pelaku’, namun salah satu ‘pelakunya’ tidak tercantumkan.
Contoh :
1. Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan gencarnya.
2. Dalam seminar itu dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan sampai berjam-jam
Dalam kalimat (1) verba berpukul-pukulan menuntut hadirnya dua pelaku, yaitu dia dan orang lain, misalnya Joni.
Dalam perkelahian itu dia berpukul-pukulan dengan Joni.
Demikian pula kalimat (2), di samping pelaku dia diperlukan hadirnya pelaku lain sebagai mitra diskusi, misalnya para pakar, sehingga kalimat (2) menjadi :
Dalam seminar itu, dia mendiskusikan perubahan social masyarakat pedesaan dengan para pakar.
e. Penempatan yang salah kata aspek pada kalimat pasif berpronomina
Menurut kaidah, konstruksi pasif berpronomina berpola aspek + pronomian + verba dasar. Jadi tempat kata aspek adalah di depan pronominal. Kesalahan yang sering terjadi adalah penempatan aspek diantara pronominal dengan verba atau dalam pola : “pronominal + aspek + verba dasar”. Contoh :
Saya sudah katakan bahwa…
Bentuk seperti contoh di atas dapat dibentulkan dengan memindahkan kata aspek ke depan pronominal menjadi :
sudah saya katakan bahwa…
f. Kesalahan pemakaian kata saranaDalam menyusun kalimat sering dipakai kata sarana, kata sarana itu dapat berupa kata depan dan kata penghubung. Kata depan lazimnya terdapat dalam satu frasa depan, dan kata penghubung pada umumnya terdapat pada kalimat mejemuk baik yang setara maupun yang bertingkat.
Kesalahan pemakaian kata depan umumnya terjadi pada pemakaian kata depan di, pada dan dalam, ketiga kata depan tersebut sering dikacaukan, misalnya :
Di saat istirahat penyuluh mendatangi para petani (pada saat)
Benih itu ditaburkan pada kolam yang baru (ke dalam)
Dalam tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI (di)
Adapun kesalahan pemakaian kata penghubung umumnya terjadi karena ketidaksesuaian antara pemakaian kata penghubung dan makna hubungan antar klausanya,
Rapat hari ini ditunda karena peserta tidak memenuhi kuorum
Rapat hari ini ditunda sebab perserta tidak memnuhi kuorum
D. Cara Membuat Ringkasan Teks

Bagi orang yang sudah terbiasa membuat ringkasan, mungkin kaidah dalam yang berlaku dalam menyusun ringkasan telah tertanam dalam benaknya. Meski demikian, tentulah perlu diberikan beberapa patokan sebagai pegangan dalam membuat ringkasan teks terutama bagi mereka yang baru mulai atau belum pernah membuatan ringkasan. Berikut ini bebrapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur :
1. Membaca naskah asli
Bacalah naskah asli agar dapat mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh.
2. Mencatat gagasan utama
3. mengadakan reproduksi
yaitu urutan isi disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari karangan aslinya.
Selain melakukan tiga hal diatas, juga terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan juga agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a) Menyusun kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b) Meringkas kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Dan mengganti rangkaian gagasan yang panjang menjadi gagasan yang sentral.
c) Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada.
d) Mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah.
e) Menentukan panjang ringkasan.
Yaitu dengan cara menghitung jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian itulah merupakan panjang karangan yangn harus ditulisnya.
Contoh ringkasan teks.
Teks 1.
Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan
bus betul-betul menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena
lebih dari separuh calon pemudik diperkirakan akan terangkut oleh bus.
Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta dan sekitarnya
diperkirakan menggunakan jasa KA
teks diatas dapat dirigkas menjadi.
Sarana angkutan dari jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Angkutan bus betul-betul
menjadi tulang punggung di saat-saat seperti ini karena lebih dari separuh calon pemudik
diperkirakan akan terangkut oleh bus. Sementara hanya 1/3 dari seluruh pemudik dari Jakarta .






























BAB IX
MENGENAL CARA MENYUSUN KARANGAN

A. BENTUK-BENTUK KARANGAN
            Bentuk karangan ada 3 macam :
1. Prosa
2. Puisi
3. Drama
Prosa dibagi menjadi 2 macam :
1. Fiksi
2. Non Fiksi
Puisi adalah karangan yang mengutamakan irama, rima, dan kepadatan makna.
Drama adalah : karangan yang berupa dialog sebagai pembentuk alurnya.
LANGKAH-LANGKAH MENGARANG
1. Menentukan topik, tema, dan judul karangan.
2. Menyusun kerangka karangan.
3. Mengumpulkan data.
4. Mengembangkan kerangka karangan
Topik
 adalah gagasan inti karangan yang dijadikan landasan penyusunan karangan.
Topik dinyatakan dalam kata atau kelompok kata.
Misalnya :
• Teknik beternak ayam.
Kebersihan lingkungan.
Tema adalah : pesan utama yang disampaikan yang disampaikan penulis melalui karangannya.
Tema dirumuskan dalam bentuk kalimat yang lengkap, disusun berdasarkan topik yang telah ditentukan.
Misalnya : Beternak ayam kampung dapat menghasilkan untung besar.
Judul adalah nama suatu karangan atau suatu pokok bahasan.
Judul seringkali dikemukakan dahulu, namun bisa pula dibuat setelah karangan selesai.
Fungsi judul :
 Nama bagi suatu karangan.
ØSlogan promosiØ untuk menarik minat baca.
 Gambaran isi karangan.
Ø Wujud kreativitas pengarang.Ø
Ciri-ciri judul yang baik :
a. Menarik
b. Menimbulkan rasa penasaran pembaca.
c. Mudah ditangkap maksudnya dan mudah diingat.
Menyusun kerangka karangan
Kerangka karangan adalah : rencana kerja yang memuat garis besar suatu karangan.
Manfaat kerangka karangan adalah :
a. Memudahkan menyusun karangan sehingga karangan menjadi teratur.
b. Memudahkan penempatan bagian karangan yang penting dan yang kurang penting.
c. Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
d. Membantu pengumpulan sumber-sumber yang diperlukan.
MENGEMBANGKAN KERANGKA KARANGAN
Pola mengembangkan kerangka karangan :
1. Urutan waktu (kronologis).
2. Urutan ruang (spasial).
3. Urutan klimaks atau anti klimaks.
4. Urutan kausalitas.
5. Urutan pemecahan masalah.
6. Urutan umum-khusus.
7. Urutan familiaritas.
Penjelasan
1. Urutan waktu (kronologis) : urutan peristiwa atau tahap-tahap kejadian.
2. Urutan ruang (spasial) : urutan keruangan misalnya dari depan ke belakang atau dari yang terdekat ke yang terjauh.
3. Urutan klimaks adalah apabila bagian penting ditempatkan pada bagian akhir. Sedangkan anti klimaks adalah : bagian penting diletakkan di awal pembahasan.
B.     Proses Penulisan Karangan
3 ciri penting karangan yang baik :
Pengenalan
Isi/Idea
Penutup
Peroses Penulisan Karangan
1. Memilih Tajuk dan Menganalisis Soalan
Ä Baca kelima-lima soalan dengan teliti, kemudian pilih satu soalan yang dirasakan paling mudah, iaitu anda mempunyai isi-isi yang cukup, boleh mengolah isi-isi tersebut, mempunyai contoh-contoh yang sesuai.Ä Selepas itu anda perlu menganalisis soalan tersebut dengan melengkap perkara-perkara berikut:

Format(F):……………..
Topik(T)……………..
Persoalan (P) : …………….
Contoh:
Masyarakat pada hari ini semakin kurang berminat untuk membaca bahan ilmiah.
Pada pendapat anda, apakah faktor yang menyebabkan fenomena ini berlaku?
Format (F) : Pendapat
Topik (T) : Kurang berminat membaca bahan ilmiah
Persoalan (P) : Faktor penyebab berlakunya kurang minat membaca bahan ilmiah.
2. Merangka Karangan 
Ä Lakarkan acuan format secara ringkas.Ä Catatkan sekurang-kurangnya 5 isi mengikut kepentingan.Ä Catatkan juga contoh-contoh untuk setiap isi tadi.Ä Catatkan peribahasa/simpulan bahasa/cogan kata/slogan yang sesuai.Ä Catatkan penanda-penanda wacana yang boleh digunakan.Ä Catatkan data/statistik yang boleh digunakan.Ä Catatkan juga pantun/kata-kata pujangga/kata-kata tokoh
3. Menulis Karangan
Ä Pastikan Karangan anda terbahagi kepada 3 bahagian:
. Pendahuluan = 1 perenggan
. Isi = 5 perenggan
. Kesimpulan = 1 perenggan
Ä Pendahuluan anda mestilah mengekalkan tajuk, padat dan dapat menggambarkan isi yang akan ditulis.Ä Setiap isi harus ditulis dalam satu perenggan sahaja.Ä Isi mesti mempunyai kaitan antara satu sama lain dan dihubungkaitkan dengan penanda wacana antara perenggan dan pemerengganan mesti seimbang.Ä Setiap perenggan perlu ada pelbagai ragam ayat (Ayat Penyata, Ayat Perintah, Ayat Seruan, dan Ayat Tanya)Ä Pelbagaikan penggunaan kosa kata yang tidak terlalu ‘canggih’Ä Bahagian kesimpulan tidak boleh ditinggalkan.Ä Tulisan mesti jelas dan boleh dibaca.Ä Panjang karangan yang baik mesti melebihi 500 patah perkataan.Ä Pastikan karangan anda tidak kurang daripada 350 patah perkataan
4. Menyemak Karangan
Ä Karangan anda perlu disemak bagi mengesan sebarang kesilapan ejaan, tanda baca, kesalahan penggunaan huruf kecil/besar, dan pelbagai kesalahan tatabahasa yang lain.
Teknik Penulisan Karangan
1. Penulisan Perenggan Pendahuluan
Perenggan pendahuluan harus mengandungi frasa-frasa yang menjadi isi utama sesuatu karangan. Bagi memudahkan penulisan perenggan, anda digalakkan menggunakan teknik berikut. Perkara-perkara yang perlu ada dalam perenggan tersebut adalah seperti berikut:
.Isu-isu semasa tajuk
.Keseriusan isu (masalah) tersebut
. Persoalan yang hendak ditimbulkan
(yang akan dibincangkan dalam karangan)
Contoh: Penderaan Kanak-kanak : Faktor dan langkah
Dewasa ini, masalah penderaan kanak-kanak semakin kronik di Malaysia. Saban hari, kita terbaca di akhbar atau mendengar berita daripada media elektronik seperti radio dan televisyen tentang isu ini. Misalnya,kematian dua orang kanak-kanak yang bernama B. Balasundram dan Nor Fitri akibat didera cukup menyayatkan perasaan kita. Persoalannya, apakah faktor-faktor yang mewujudkan masalah ini? Adakah kita akan membiarkan gejala ini berterusan dan menghakiskan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat? Tepuk dada tanyalah selera.
CONTOH 2 : Vandalisme : Faktor dan Langkah
‘Tiga buah pondok telefon dibakar’, ‘sampah sarap bertaburan di pusat rekreasi’, dan ‘ tandas awam diconteng dengan kata-kata lucah’. Begitulah bunyinya tajuk-tajuk berita yang sering dipaparkan di media massa tentang gejala vandalisme yang semakin berleluasa dalam masyarkat kita ekoran arus pemodenan yang semakin rancak. Persoalannya, apakah faktor-faktor yang menjadi pemangkin kepada berleluasanya fenomena ini? Siapakah yang harus dipersalahkan? Oleh itu, kerjasama daripada semua pihak amatlah diperlukan bagi menanganinya. Janganlah apabila sudah terhantuk baru hendak terngadah.
2. Penulisan Perenggan Isi
Setiap perenggan isi harus mengandungi satu isi sahaja. Komponen bagi setiap perenggan isi adalah seperti berikut:
 
ÄIdea utamaÄ Huraian idea utamaÄ Contoh/BuktiÄ Rumusan/komen
Contoh : Peranan ibu bapa dalam menangani masalah sosial dalam kalangan remaja
Idea utama
Salah satu tanggungjawab yang harus dimainkan oleh ibu bapa dalam membendung masalah sosial adalah memberikan pendidikan agama kepada para remaja.
Huraian Idea Utama
Pendidikan agama harus diberikan oleh ibu bapa sebelum seseorang anak itu meningkat remaja, bak kata pepatah Melayu ‘melentur buluh biarlah daripada rebungnya’. Pendidikan agama sangat penting diberikan kepada anak-anak bagi membolehkan mereka membezakan yang mana intan dan yang mana kaca, seterusnya mengelakkan mereka daripada mengalami keruntuhan moral. Impaknya, anak-anak ini akan membesar dengan satu kawalan sosial yang mengarahkan tingkah laku yang positif.
Contoh / Bukti
Antara pendekatan yang boleh dipraktikkan oleh ibu bapa ialah mengajak anak-anak mereka bersama-sama melakukan ibadat yang diwajibkan oleh agama masing-masing. Seterusnya, ibu bapa harus menunjukkan contoh atau teladan yang baik dengan mempraktikkan segala ajaran agama dengan sempurna kerana sikap murni ini akan menjadi ikutan anak-anak, seperti kata pepatah Melayu bagaimana acuan begitulah kuihnya.
Rumusan / komen
Jadi, jelaslah kepada kita bahawa pendidikan agama yang sempurna daripada ibu bapa kepada anak-anak merupakan benteng utama yang dapat menghindari kebejatan sosial dalam kalangan remaja pada hari ini.
Ä Kemudian gabungkan semuanya menjadi satu perenggan isi.
Salah satu tanggungjawab yang harus dimainkan oleh ibu bapa dalam membendung masalah sosial adalah memberikan pendidikan agama kepada para remaja Pendidikan agama harus diberikan oleh ibu bapa sebelum seseorang anak itu meningkat remaja, bak kata pepatah Melayu ‘melentur buluh biarlah daripada rebungnya’. Pendidikan agama sangat penting diberikan kepada anak-anak bagi membolehkan mereka membezakan yang mana intan dan yang mana kaca, seterusnya mengelakkan mereka daripada mengalami keruntuhan moral. Impaknya, anak-anak ini akan membesar dengan satu kawalan sosial yang mengarahkan tingkah laku yang positif. Antara pendekatan yang boleh dipraktikkan oleh ibu bapa ialah mengajak anak-anak mereka bersama-sama melakukan ibadat yang diwajibkan oleh agama masing-masing. Seterusnya, ibu bapa harus menunjukkan contoh atau teladan yang baik dengan mempraktikkan segala ajaran agama dengan sempurna kerana sikap murni ini akan menjadi ikutan anak-anak, seperti kata pepatah Melayu bagaimana acuan begitulah kuihnya. Jadi, jelaslah kepada kita bahawa pendidikan agama yang sempurna daripada ibu bapa kepada anak-anak merupakan benteng utama yang dapat menghindari kebejatan sosial dalam kalangan remaja pada hari ini.
3. Penulisan Perenggan Penutupan
Perenggan penutup merupakan kesimpulan terhadap pendapat dan hujah-hujah yang telah dikemukakan. Beberapa perkara penting diberi perhatian semasa menulis pentup. Antaranya ialah:
Memberikan kesimpulan atau rumusan
Memberikan saranan atau pandangan dan harapan
Selitkan peribahasa atau simpulan bahasa atau cogan kata
Menyatakan pendirian penulis.
Contoh:
Konklusinya, fenomena ini harus difokus dari perspektif global. Oleh itu, keprihatinan semua spihak adalah perlu untuk menangani masalah …………….. agar masyarakat madani dapat dibentuk. Sehubungan dengan itu, pelaksanaannya harus bersifat pragmatik supaya dapat melestarikan impak yang positif agar dapat melahirkan masyarakat yang cemerlang, gemilang dan terbilang. Pendek kata, masyarakat dan kerajaan harus berganding bahu dan bergembleng tenaga, bak kata pepatah Melayu ke bukit sama didaki, ke lurah sama dituruni dalam membendung gejala ini
4. Penulisan Ayat Transisi
Ayat transisi amat penting untuk menghubungkan perenggan isi agar wujud suatu kesinambungan isi yang berlainan unsur (isi kebaikan dan isi keburukan).
Contoh: 1 (Menghubungkan isi kebaikan dan isi keburukan)
Seperti mana yang kita sedia maklum, bumi mana yang tidak ditimpa hujan, lautan mana yang tidak bergelora. Setiap yang sempurna di dunia ini pasti ada kecacatan dan kelemahannya. ………… juga tidak terkecuali daripada hakikat ini. Antara keburukannya ialah ………………………
Contoh : 2 (Menghubungkan isi faktor dan isi langkah)
Berdasarkan dua hujah faktor di atas, jelaslah kepada kita bahawa masalah sosial dalam kalangan remaja semakin serius. Oleh itu, beberapa langkah boleh diambil untuk membendung masalah ini dengan segara. Antara langkah yang boleh diambil ialah ………………………………….
C.     HUBUNGAN ANTARA MEMBACA DAN MENGARANG
Dalam pengajaran bahasa, keterampilan membaca dan mengarang merupakan keterampilan yang mempunyai kaitan sangat erat. Salah satu jenis membaca yang sering digunakan dalam pembelajaran bahasa di tingkat universitas adalah membaca pemahaman. Membaca pemahaman bertujuan untuk memahami isi bacaan dan mencari informasi dalam sebuah bacaan. Selain itu, membaca pemahaman juga dapat memberikan informasi tentang ide, fakta, teori – teori dan lain – lain yang berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pengalaman membaca. Dengan demikian, kemampuan membaca pemahaman dapat menunjang kemampuan mengarang, khususnya mengarang eksposisi.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam menangkap ide pokok paragraf, menangkap ide – ide penjelas paragraf, dan menangkap isi bacaan dalam membaca pemahaman, (2) mengetahui kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam memaparkan ide pokok paragraf, memaparkan ide – ide penjelas paragraf, dan memaparkan isi bacaan dalam mengarang eksposisi, (3) mengetahui apakah ada hubungan antara kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam menangkap ide pokok paragraf, menangkap ide – ide penjelas paragraf dan menangkap isi bacaan dalam membaca pemahaman dan kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam memaparkan ide pokok paragraf, memaparkan ide – ide penjelas paragraf dan memaparkan isi bacaan dalam mengarang eksposisi.
Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dengan jumlah responden sebanyak 27 mahasiswa. Metode pengumpulan data melalui tes kemampuan membaca pemahaman dan mengarang eksposisi. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase, frekuensi dan teknik korelasi product moment.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam membaca pemahaman: (a) menentukan ide pokok paragraf: rendah, (b) menentukan ide – ide penjelas paragraf: sangat tinggi, (c) menentukan isi bacaan: tinggi, (2) kemampuan mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2005/2006 dalam mengarang eksposisi: (a)  memaparkan ide pokok paragraf: tinggi, (b) memaparkan ide – ide penjelas paragraf: sangat tinggi, (c) memaparkan isi bacaan: tinggi, (3) tidak terdapat hubungan antara Kemampuan Membaca Pemahaman dan Mengarang Eksposisi Mahasiswa Sastra Jerman Universitas Negeri Malang, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara membaca pemahaman dan mengarang eksposisi hanya sebesar 0,116. Hal tersebut berarti bahwa mahasiswa yang mempunyai kemampuan dalam membaca pemahaman tidak selalu mempunyai kemampuan yang baik dalam mengarang ekspoisisi. Adapun mahasiswa yang mempunyai kemampuan yang baik dalam mengarang eksposisi tidak selalu mempunyai kemampuan yang baik dalam membaca pemahaman.
Dari hasil penelitian tersebut, dosen matakuliah membaca dan mengarang disarankan agar lebih banyak memberikan latihan tentang membaca pemahaman dan mengarang eksposisi, sehingga kemampuan mahasiswa dalam membaca pemahaman dan mengarang eksposisi dapat meningkat. Selain itu, mahasiswa juga disarankan untuk lebih banyak membaca teks – teks berbahasa jerman dan mengarang dalam bahasa jerman, sehingga kemampuan membaca dan mengarang mahasiswa dapat meningkat lebih baik.

BAB X
TAHAP AWAL CARA PENYUSUNAN KARANGAN

A.    Penentuan Topik Karangan
Topik atau pokok pembicaraan berasal dari kata Yunani “topoi”. Dalam suatu karangan, topik merupakan landasan yang dapat dipergunakan oleh seorang pengarang untuk menyampaikan maksudnya. Topik karangan adalah hal yang menjadi bahan pembicaraan dalam sebuah tulisan. Topik karangan harus bermanfaat, layak dibahas, menarik, dikenal baik, bahan mudah didapati, tidak terlalu luas, dan terlalu sempit.
Dalam pemakaiannya, topik sering dikacaukan atau disamakan dengan istilah tema.Dalam proses penulisan karangan,tema dan topik memiliki rumusan yang berlainan walaupun nantinya apa yang dirumuskan keduanya memiliki hakikat yang sama. Topik bermakna pokok karangan (pokok pembicaraan atau permasalahan), sedangkan tema diartikan sebagai landasan penyusunan karangan. Oleh karena itu, topik dirumuskan terlebih dahulu.
Sumber-sumber dari topik tersebut bisa melalui:
a.Sumber pengalaman yaitu apa-apa yang pernah dialami seseorang
b.Sumber pengamatan
c.Sumber imajinasi
d.Sumber pendapat atau hasil penalaran.
Dalam pembuatan topik maka terdapat beberapa persyaratan,yaitu:
1. Topik hendaknya menarik untuk dibahas.
Topik yang menarik bukan bagi penulisnya saja tetapi diperkirakan juga menarik untuk pembaca.Topik yang menarik perhatian penulis akan memungkinkan penulis berusaha untuk secara serius mencari data yang penting dan relevan dengan masalah yang sedang dikarang,serta akan menimbulkan kegairahan dalam mengembangkannya dan akan mengundang minat pembaca.
2. Dikuasai penulis.
Penulis hendak memiliki pengetahuan mengenai pokok-pokok permasalahan.Topik merupakan sesuatu yang lebih diketahui penulis daripada pembacanya
3. Menarik dan aktual.
Minat pembaca merupakan hal penting yang harus diperhatikan penulis walaupun yang menarik minat itu amat tergantung pada situasi dan latar belakang pembaca itu sendiri,namun hal-hal berikut merupakan sesuatu yang diminati masyarakat secara umum:yang aktual, penting, penuh konflik,rahasia,humor,atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi pembaca.
4. Topik tidak terlalu luas atau membatasi
Apabila topik itu terlalu luas, pembahasannya akan dangkal,sebaliknya topik yang terlalu sempit dalam sebuah karangan ilmiah, pembahasannya terlalu khusus tidak banyak berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan.Pembatasan ruang lingkup memungkin penulis untuk mengarang dengan penuh keyakinan dan penuh percaya diri. Pembatasan topik dapat memberikan kesempatan bagi penulis untuk meneliti dan menelaah masalah yang akan ditulisnya secara intensif.Contoh untuk mempersempit atau membatasi topik untuk lebih speifik dari topik sebelumnya:
a.       Menurut tempat
Negara tertentu lebih khusus daripada dunia.”Bandung Daerah Wisata” dapat dipersempit “Tangkuban Perahu dDaerah Wisata”.
b.      Menurut waktu atau periode / zaman
“Kebudayaan Indonesia” dapat dikhususkan menjadi “Perdagangan Pada Zaman Majapahit”.
c.       Menurut sebab akibat
“Krisis Moneter” dapat dikhususkan menjadi “ Banyaknya Perusahaan Yang Gulung Tikar”.
d.      Menurut pembagian bidang kehidupan manusia
Poleksosbud,agama,kesenian,…dan sebagainya.Karangan tentang “ Usaha Pemerintah Dalam Ekonomi “ dapat diperkhususkan lagi menjadi “ Kebijakan Inflasi Dalam Bidang Ekonomi Pada Masa Krisis Moneter “.
e.       Menurut aspek khusus umum / indivial kolektif
“ Dampak Globalisasi Bagi Masyarakat Di Jakarta “.
f.        Menurut objek material dan objek formal.
Objek material adalah bahan yang dibicarakan .Objek formal adalah sudut dari mana bahan itu kita tinjau,misalnya” Kesusastraan Indonesia ( objek material ) “ Ditinjau dari Sudut Gaya Bahasanya “ ( Bahan formal ). “ Kepemimpinan Ditinjau dari Sudut Pembentukan Kader-kader Baru,”Keluarga Berencana Ditinjau dari Segi Agama “.
5. Topik yang dipilih sebaiknya:
a. Tidak terlalu baru
Topik yang terlalu baru memang menarik untuk ditulis, akan tetapi seringkali penulis mengalami hambatan dalam memperoleh data kepustakaan yang akan dipakai sebagai landasan atau penunjang. Data kepustakaan yang diperoleh mungkin terbatas pada berita dalam surat kabar atau majalah populer.
b. Tidak terlalu teknis adalah Karangan yang terlalu teknis kurang dapat menonjolkan segi ilmiah. Tulisan semacam ini biasanya bersifat sebagai petunjuk tentang bagaimana tata cara melakukan sesuatu, tanpa mengupas teori-teori yang ada.
c. Tidak terlalu kontroversial
Suatu tulisan yang mempunyai topik krontroversial menguraikan hal-hal di luar hal yang menjadi pendapat umum. Tulisan semacam ini sering menimbulkan permasalahan bagi penulisnya
B.    Pengertian Tentang Judul Karangan Yang Baik
Judul karangan pada dasarnya adalah perincian atau jabaran dari topik atau judul merupakan nama yang diberikan untuk bahasan atau karangan,judul berfungsi sebagai slogan promosi untuk menarik minat pembaca dan sebagai gambaran isi karangan.Judul lebih spesifik dan sering menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas.
Judul yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.Relevan,ada hubungan dengan isi karangan (topik)
b. Provokatif,dapat menimbulkan hasrat ingin tahu pembaca
c.Singkat,mudah dipahami dan enteng diingat
d.Judul sebaiknya dinyatakan dalam bentuk frase.
Secara umum terdapat model perumusan judul karangan:
1.Model judul untuk karangan populer seperti artikel untuk koran dan majalah,cenderung menggunakan judul-judul yang singkat dan sangat provokatif
2.Model judul untuk karangan ilmiah
Contoh:
Topik            : Bencana Alam
Pembatasan Topik: Sebab-sebabnya, Sejarahnya, Perkembangannya, Keadaannya, Untung-rugi
Judul             : Banjir melanda Jakarta
C .   Penyusunan Kerangka Karangan ( Out Line )
Pengertian Outline (Kerangka karangan)
Berikut ini pengertian dari outline (kerangka karangan) adalah sebagai berikut :
Pengertian Outline
            Pengertian Outline menurut bahasa adalah : kerangka, regangan, gari besar, atau guratan. Jadi Outline merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Pengertian Karangan
            Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi,deskripsi,eksposisi,argumentasi, dan persuasi.
Pengertian Kerangka Karangan
            Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangka karangan yang belum final di sebut outline sementara sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final.
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
            Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik dan mungkin dipecah lagi kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.
Manfaat Outline (Kerangka Karangan)
a. Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
b. Untuk menyusun karangan secara teratur. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
c. Memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Setiap tulisan dikembangkan menuju ke satu klimaks tertentu. Namun sebelum mencapai klimaks dari seluruh karangan itu, terdapat sejumlah bagian yang berbeda-beda kepentingannya terhadap klimaks utama tadi. Tiap bagian juga mempunyai klimaks tersendiri dalam bagiannya. Supaya pembaca dapat terpikat secara terus menerus menuju kepada klimaks utama, maka susunan bagian-bagian harus diatur pula sekian macam sehingga tercapai klimaks yang berbeda-beda yang dapat memikat perhatian pembaca.
d. Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih. Ada kemungkinan suatu bagian perlu dibicarakan dua kali atau lebih, sesuai kebutuhan tiap bagian dari karangan itu. Namun penggarapan suatu topik sampai dua kali atau lebih tidak perlu, karena hal itu hanya akan membawa efek yang tidak menguntungkan; misalnya, bila penulis tidak sadar betul maka pendapatnya mengenai topik yang sama pada bagian terdahulu berbeda dengan yang diutarakan pada bagian kemudian, atau bahkan bertentangan satu sama lain. Hal yang demikian ini tidak dapat diterima. Di pihak lain menggarap suatu topik lebih dari satu kali hanya membuang waktu, tenaga, dan materi. Kalau memang tidak dapat dihindari maka penulis harus menetapkan pada bagian mana topik tadi akan diuraikan, sedangkan di bagian lain cukup dengan menunjuk kepada bagian tadi.
e.   Memudahkan penulis mencari materi pembantu. Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangan penulis akan dengan mudah mencari   data-data atau fakta-fakta untuk memperjelas atau membuktikan pendapatnya. Atau data dan fakta yang telah dikumpulkan itu akan dipergunakan di bagian mana dalam karangan itu.
Bila seorang pembaca kelak menghadapi karangan yang telah siap, ia dapat menyusutkan kembali kepada kerangka karangan yang hakekatnya sama dengan apa yang telah dibuat penggarapnya. Dengan penyusutan ini pembaca akan melihat wujud, gagasan, struktur, serta nilai umum dari karangan itu. Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyelurih, bukan secara terlepas-lepas.
Pola Susunan Outline (Kerangka Karangan)
Secara garis besar, pola kerangka karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan pola logis, berikut akan di jelaskan secara singkat pola susunan kerangka karangan.
 
            1. Pola Alamiah
Merupakan suatu urutan unit–unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam. Disebut pola alamiah karena memakai pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Pola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu.
Pola alamiah dapat terbagi menjadi 3 yaitu :
a. Kronologis (waktu)
Urutan yang di dasarkan pada runtunan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca.
Contohnya : Topik (riwayat hidup seorang penulis)
• asal usul penulis
• pendidikan si penulis
• kondisi kehidupan penulis
• keinginan penulis
• karir penulis
b. Spasial (ruang)
Landasan yang paling penting, bila topik yang di uraikan mempunyai pertalian yang sangat erat dengan ruang atau tempat . Urutan ini biasanya di gunakan dalam tulisan–tulisan yang bersifat deskriptif .
Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)
• Di daerah Kalimantan
• Di daerah Sulawesi
• Di daerah Sumatra
c. Topik yang ada
Suatu pola peralihan yang dapat di masukkan dalam pola alamiah adalah urutan berdasarkan topik yang ada . Suatu peristiwa sudah di kenal dengan bagian–bagian tertentu . Untuk menggambarkan hal tersebut secara lengkap, mau tidak mau bagian–bagian itu harus di jelaskan berturut–turut dalam karangan itu, tanpa mempersoalkan bagian mana lebih penting dari lainnya, tanpa memberi tanggapan atas bagian–bagiannya itu.
            2. Pola Logis
 Tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu di tuang dalam suatu susunan atau urutan logis . Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis.
            Dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi menjadi 6, yaitu :
a. Klimaks dan Antiklimaks
Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling menonjol.
Contoh : Topik (turunnya Suharto)
• Keresahan masyarakat
• Merajalela nya praktek KKN
• Keresahan masyarakat
• Kerusuhan social
• Tuntutan reformasi menggema
b. Kausal
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.
Contoh : Topik (krisis moneter melanda tanah air)
• Tingginya harga bahan pangan
• Penyebab krisis moneter
• Dampak terjadi krisis moneter
• Solusi pemecahan masalah krisis moneter
c. Pemecahan Masalah
Di mulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut . Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, dan akhirnya alternatif–alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang di hadapi tersebut.
Contoh : Topik (virus flu babi / H1N1 dan upaya penanggulangannya)
• Apa itu virusH1N1
• Bahaya virus H1N1
• Cara penanggulangannya
d. Umum khusus
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).
Contoh : Topik (pengaruh internet)
• Para pangguna internet
o Anak–anak
o Remaja
o Dewasa
• Manfaat internet
o Media informasi
o Bisnis
o Jaringan social
o Dan lain–lain
e. Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.
f. Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca
Macam-macam Outline (Kerangka Karangan)A. Berdasar Sifat Rinciannya:
1) Kerangka Karangan Sementara / Non-formal
Cukup terdiri atas dua tingkat, dengan alasan:
a) Topiknya tidak kompleks
b) Akan segera digarap
2) Kerangka Karangan Formal:
Terdiri atas tiga tingkat, dengan alasan:
a) Topiknya sangat kompleks
b) Topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap
Cara kerjanya:
Rumuskan tema berupa tesis, kemudian pecah-pecah menjadi sub-ordinasi yang dikembangkan untuk menjelaskan gagasan utama. Tiap sub-ordinasi dapat dirinci lebih lanjut. Tesis yang dirinci minimal tiga tingkat sudah dapat disebut Kerangka Karangan Formal.
Syarat Kerangka Karangan yang baik
a. Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas.
Pilihlah topik yang merupakan hal yang khas, kemudian tentukan tujuan yang Jelas. Kemudian buatlah tesis atau pengungkapan maksud.
b. Tiap unit hanya mengandung satu gagasan.
Bila satu unit terdapat lebih dari satu gagasan, maka unit tersebut harus dirinci.
c. Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga rangkaian ide atau pikiran itu tergambar jelas.
d. Harus menggunakan simbol yang konsisten.
Pada dasarnya untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.
Langkah-langkah menyusun karangan satu per satu:
1. Menentukan tema dan judul
Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan.
Judul adalah kepala karangan. Misalkan tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada persoalan yang diangkat sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang akan ditulis.
2. Mengumpulkan bahan
Bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan, banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara masing - masing sesuai juga dengan tujuan tulisannya.
3. Menyeleksi bahan
Agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis.
Berikut ini petunjuk – petunjuknya :
1. Catat hal penting semampunya.
2. Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
3. Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.
4. Membuat kerangka
Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur.
Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi, atau uraian per bab. kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.
Berikut fungsi kerangka karangan :
a) Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis
b) Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan
c) Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting
Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :
a) Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan-gagasan yang timbul).
b) Mengatur urutan gagasan.
c) Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab.
d) Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
Kerangka karangan yang baik adalah kerangka yang urut dan logis karena bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir).
5. Mengembangkan kerangka karangan
            Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan terhadap materi yang hendak ditulis. jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata.

BAB  XI
PENYUSUNAN KARYA ILMIAH

A.    Penyusunan Ragam Ilmiah
Hakikat Ragam Ilmiah
            Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis. Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan.
Ciri Ragam Ilmiah
Ciri-ciri dari ragam ilmiah adalah sebagai berikut :
  1. Baku. Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.
  2. Logis. Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal. Contoh: “Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan.”Ide kalimat di atas tidak logis. Pilihan kata “masalah’, kurang tepat. Pengembangan dakwah mempunyai masalah kendala. Tidak logis apabila masalahnya kita tingkatkan. Kalimat di atas seharusnya “Pengembangan dakwah kita tingkatkan.”
  3. Kuantitatif. Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Perhatikan contoh di bawah ini:Da’i di Gunung Kidul “kebanyakan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata kebanyakan relatif, mungkin bisa 5, 6 atau 10 orang. Jadi, dalam tulisan ilmiah tidak benar memilih kata “kebanyakan” kalimat di atas dapat kita benahi menjadi Da’i di Gunung Kidul 5 orang lulusan perguruan tinggi, dan yang 3 orang lagi dari lulusan pesantren.
  4. Tepat. Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: “Jamban pesantren yang sudah rusak itu sedang diperbaiki.”Kalimat tersebut, mempunyai makna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban, atau mungkin juga pesantren.
  5. Denotatif yang berlawanan dengan konotatif. Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.
  6. Runtun. Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.
Dari penjelasan tentang ragam ilmiah dan karya ilmiah di atas, bisa disimpulkan bahwa ragam ilmiah sangat dibutuhkan saat menulis atau membuat sebuah karya ilmiah.
B.     Asas – asas Penyusunan Gagasan didalam Karya Ilmiah
Tekhnik Menyusun Karya Ilmiah 
          Penulisan karya tulis ilmiah memerlukan persyaratan baik formal maupunmateriil. Persyaratan formal menyangkut kebiasaan yang harus diikuti dalam penulisan; sedangkan persyaratan materiil menyangkut isi tulisan. Sebuahtulisan akan mudah difahami dan menarik apabila isi dan cara penulisannyamemenuhi persyaratan dan kebiasaan urnum.Dalam tulisan singkat ini akan digambarkan beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan oleh penulis sebuah karya tulis ilmiah termasuk laporan penelitian.
2.      T opik
Topik atau pokok pembicaraan berasal dari kata Yunani "topoi". Dalam suatukarangan, topik merupakan landasan yang dapat dipergunakan oleh seorang pengarang untuk menyampaikan maksudnya. Dari bermacam-macam hal yang dijadikan topik tersebut, seorang pengarangdapat menyusun karangan dalam bentuk:
a.Kisahan (Narasi):
karangan yang berkenaan dengan rangkaian peristiwa.
b.Perian (Deskripsi):
karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya sehingga pembaca dapat mencitrai (melihat,mendengar, mencium, merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengancitra penulisnya.
c.Paparan (Eksposisi):
karangan yang berusaha menerangkan ataumenjelaskari pokok pikiran yang dapat memperluas pengetahuan pembacakarangan itu.
d.Bahasan (Argumentasi):
karangan yang berusaha memberikan alasanuntuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.
Menyusun Karya Tulis Ilmiah
3.      Tema
Tema berasal dari kata Yunani
"tithenai".
Tema mempunyai dua pengertianyaitu :1. Suatu pesan utama yang disampaikan oleh penulis melalui tulisannya.2. Suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraandan tujuan yang ingin dicapai.Sebuah tulisan dikatakan baik apabila tema dikembangkan secara terinci dan jelas.
3.     Judul
          Apabila topik dan tema sudah ditentukan barulah penulis merumuskan judulkatya tulisnya. Judul yang dirumuskan sifatnya tentatif, karena selama proses penulisan ada kemungkinan judul berubah.Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merumuskan judul:1. Judul hendaknya relevan dengan tema dan bagian-bagian dari tulisan tersebut;2. Judul menimbulkan rasa ingin tahu seorang lain untuk membaca tulisan itu(bersifat provokatif);3. Judul tidak mempergunakan kalimat yang terlalu panjang, jika judul terlalu panjang, dapat dibuat judul utama dan judul tambahan (subjudul);4. Pada penulisan tertentu (yang ada hubungan sebab-akibat) seyogyanya judul harus memiliki
independent variable ( variable bebas ) dan dependent variable ( variable terikat ).
4.     Kerangka Karangan
Agar penulis dapat menerangkan isi karangannnya secara teratur dan terinci,diperlukan suatu kerangka karangan
Kegunaan kerangka karangan:
1. Untuk menyusun karangan secara teratur.
2. Membantu penulis menciptakan klimaks yang     berbeda-beda.
3. Menghindari penguraian topik secara berulang-ulang.
4. Memudahkan mencari materi pembantu.

Perumusan kerangka karangan dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Kerangka kalimat 
Kerangka kalimat merumuskan tiap bagian karangan dengan kalimat beritayang lengkap. Dengan demikian tujuan dan pokok pembahasan akan dapatdiketahui secara jelas baik oleh penulis sendiri maupun orang lain.
2. Kerangka topik 
Perumusan kerangka topik dilakukan dengan menggunakan kata atau frasa.Kerangka semacam ini kurang memberikan kejelasan bagi orang lain yangmembacanya.
5     Bentuk Lahiriah
Karya tulis dari sudut bentuk dibedakan atas karya formal, semi formal, dan nonformal, sebaliknya informal bukan menyangkut bentuk tetapi menyangkutkeresmian. Tulisan dari sudut ini dibedakan atas tulisan formal (=formil) daninformal (=informil).
Karya tulis formal adalah suatu tulisan/karangan yangmemenuhi semua persyaratan lahiriah yang ditentukan oleh kebiasaan; sedangkankarya tulis yang memenuhi sebagian dari syarat formal disebut semi formal.Apabila suatu tulisan tidak memenuhi persyaratan yang ditentukan, maka tulisantersebut disebut non formal. Tulisan disebut informal apabila tidak menggunakan bahasa resmi, di samping itu penulis juga memakai kata ganti orang pertamasebagai pengganti nama dirinya seolah-olah ia berhadapan dengan pembacanya(personal).
Bentuk lahiriah yang harus dipenuhi oleh suatu tulisan formal:
1. Bagian pelengkap pendahuluan
·         Judul pendahuluan 
·         b.Halaman pengesahan
·         Halaman judul
·         Halaman persembahan
·         Kata pengantar 
·         Daftar isi
·         Daftar gambar, tabel, keterangan


2. Bagian isi karangan
§  Pendahuluan 
§  Tubuh karangan
§  Penutup/Simpulan (dan saran)
3. Bagian pelengkap penutup
 a. Daftar pustaka 
b. Indeks
c. LampiranKarya tulis formal harus memakai bahasa resmi dan tanpa menyebutkan nama diriatau nama pengganti penulis (  impersonal ) misalnya kata saya, kami, kita kecualinya pada kata pengantarmu.
1.      Tehknik Penulisan
        Agar penulisan karya tulis sempurna, setelah isi dan bentuk lahiriah disusundengan cara yang semestinya, penulis juga harus mernpertahankan teknik  penulisan berdasarkan persyaratan yang lazim.
 Masalah teknis yang perlu diperhatikan, adalah:
1. Ukuran kertas
Karya tulis ilmiah umumnya mengggunakan kertas jenis HVS (60-80 gram) putih dengan ukuran kuarto (215 x 280 mm, jangan keliru dengan ukuran kertas A4 yaitu 210 x 297 mm ).
2. Mesin tulis
Mesin tulis yang digunakan hendaknya memakai pika 10 (dalam satu inci dapatdiketik 10
karakter).Pengetikan dapat juga dilakukan memakai komputer, tetapi pemilihan huruf seyogyanya hanya Courier 12(Contoh huruf Courier 12)di samping itu
Menyusun Karya Tulis Ilmiah hasil cetakannya (print out) hendaknya tidak berbentuk titik-titik (dot matric)melainkan berbentuk seperti huruf pada mesin tulis biasa. Dalam istilahkomputer disebut NLQ (Near Letter Quality) atau LQ (Letter Quality).
3. Pita dan karbon
Pita maupun karbon yang digunakan hendaknya dalam keadaan baik:, sehinggamenghasilkan cetakan yang jelas dan tidak kabur.

4. Margin/pias (batas pinggir pengetikan)
Batas pengetikan adalah 4 cm untuk tepi kiri, 2,5 cm untuk tepi kanan, 4 cmuntuk tepi atas dan 3 cm untuk tepi bawah. Nomor bab diketik 6,5 cm dari tepiatas dan judul bab dimulai 8 cm dari tepi atas.
5. Pemisahan/pemenggalan kata
Pemenggalan kata ditandai dengan garis penghubung pada suku katasebelumnya. Garis penghubung tidak ditempatkan di bawah suku kata yangdipenggal. Seorang penulis juga harus memperhatikan adanya awalan atauakhiran dari sebuah kata yang dipenggal.
6. Spasi/kait
Jarak antara baris dengan baris mempergunakan spasi rangkap (dua spasi).Sedangkan untuk catatan kaki, bibliografi dan kutipan langsung yang lebih dariempat baris dipergunakan spasi rapat (satu spasi).Apabila awal alinea (paragraf dimulai dari pias paling kiri (tidak menjorok masuk ke dalam 5-7 ketikan), maka jarak antar alinea 3-4 spasi. Tetapi jika awalalinea dimulai dengan menjorok/masuk ke dalam sebanyak 5-7 ketikan, rnaka jarak antar alinea tetap dengan spasi ganda (2 spasi). Sedangkan jarak antara judul bab dan naskah dipakai 3-4 spasi.
7. Nomor halaman
Halaman pendahuluan ditandai dengan angka Romawi kecil, sedangkanhalaman-hataman selanjutnya menggunakan nomor dengan angka Arab. Nomor halaman dapat dicantumkan pada tengah halaman sebelah bawah atau sudutkanan atas.
8. Judul
Judul bab ditulis di bagian tengah atas dengan huruf kapital dan tidak digaris bawahi atau tidak ditulis di antara tanda kutip. Judul bab juga tidak diakhiridengan tanda titik.
9Huruf miring
Huruf miring berfungsi menggantikan garis bawah.Huruf miring biasanya digunakan untuk:a. Penekanan sebuah kata atau kalimat; b. Menyatakan judul buku atau majalah;c. Menyatakan kata atau frasa asing.

10. Penulisan angka
Untuk menuliskan angka dalam karangan, perlu diperhatikan ketentuan penulisan sebagai berikut:
a. Bilangan di bawah seratus, yang terdiri dari satu atau dua kata,    bilanganseratus dan kelipatannya, seribu dan kelipatannya ditulis dengan huruf; 
b. Bilangan terdiri dari tiga kata atau lebih, ditulis dengan angka;
c. Bilangan pecahan biasanya ditulis dengan huruf,kecuali pecahan dari bilangan yang besar;
d. Persentase tetap ditulis dengan angka;
e. Nomor telepon, nomor jalan, tanggal dan nomor halaman ditulisdengan angka;
f. Angka tidak boleh dipergunakan untuk mengawali sebuah kalimat.
11.Penulisan kutipan
Dalam penulisan karya tulis ilmiah, seorang penulis sering meminjam pendapat,atau ucapan orang lain yang terdapat pada buku, majalah, bahkan bunyi pasaldalam peraturan perundang-undangan.
Untuk itu seorang penulis harusmemperhatikan prinsip-prinsip mengutip, yaitu:
a.Tidak mengadakan pengubahan naskah asli yang dikutip. Kalaupun perlumengadakan pengubahan, maka seorang penulis harus memberi keterangan bahwa kutipan tersebut telah diubah. Caranya adalah dengan memberi huruf tebal, atau memberi keterangan dengan tanda kurung segi empat; 
b.Bila dalam naskah asli terdapat kesalahan, penulis dapat memberikan tandalangsung di belakang kata yang salah. Hal itu berarti bahwa kesalahanada pada naskah asli dan penulis tidak bertanggung jawab atas kesalahantersebut;
c.Apabila bagian kutipan ada yang dihilangkan, penghilangan inti dinyatakan dengan cara membubuhkan tanda elipsis (yaitu dengantiga titik ).


13. Pe n u l i s a n  D a f t a r   P u s t a k a
Daftar pustaka atau bibliografi merupakan suatu daftar yang memuat pustakayang dipergunakan sebagai acuan dalam karya tulis yang disusun. Daftar  pustaka dari suatu karya akan berguna bagi orang lain yang mempunyai perhatian, minat atau bidang keahlian yang sama dengan penulis karya tulistersebut.Daftar pustaka selain dapat dipakai untuk menilai kebenaran tulisan atau pendapat yang dikutip, juga dapat memperluas pengetahuan orang lain akan bahan bacaan yang ada kaitannya dengan pokok bahasan dalam tulisan tersebut.
Cara menyusun penulisan deskripsi daftar pustaka, baik untuk model MLAmaupun Turabian sama, yaitu:
1) nama pengarang;
2) judul;
3) cetakan/edisi;
4) nama kota;
5) nama penerbit; dan
6) tahun terbit
Penyusunan daftar pustaka dilakukan menurut urutan abjad (alfabetis) nama pengarang. Dalam hal ini penulisan nama pengarang dibalik susunannya, yaitudimulai dengan nama keluarga diikuti tanda baca koma.
Nama keluarga di sini termasuk nama orang tua atau nama suami. Bagi pengarang yang tidak mempunyai nama keluarga, maka penulisan nama diawali dengan menuliskannama terakhir pengarang tersebut.Jarak antara baris adalah satu spasi, sedangkan jarak antara satu sumber dengansumber yang lainnya dua spasi. Pengetikan dimulai pada margin kiri dan barisselanjutnya diketik menjorok ke dalam 3-5 ketikan.
Bila ada lebih dari satu pustaka yang dikarang oleh seorang pengarang yangsama, maka nama pengarang tersebut tidak perlu diulang. Pengulangan nama pengarang dapat diganti dengan membubuhkan sebuah garis panjang, sepanjang5-7 ketikan yang diakhiri dengan sebuah titik. Selanjutnya data bibliografiditulis seperti biasa.

BAB XII
PENYUSUNAN KARYA ILMIAH ( LANJUTAN )

A.  AspekPenalaran dalam Karangan Ilmiah
1Menulis Sebagai Proses Penalaran.
            Menulis merupakan proses bernalar. Untuk menulis mengenai suatu topik kita harus berpikir, menghubung-hubungkan berbagai fakta, membandingkan dansebagainya. Dalam bab ini akan dibahas aspek penalaran dalam karangan.
2. Berpikir dan Bernalar.
            Setiap saat selama hidup kita, terutama dalam keadaan jaga (tidak tidur),kita selalu berpikir. Berpikir merupakan kegiatan mental. Pada waktu kitaberpikir, dalam benak kita timbul serangkaian gambar tentang sesuatu yang tidak hadir secara nyata. Kegiatan ini mungkin tidak terkendali, terjadi dengansendirinya, tanpa kesadaran, misalnya pada saat-saat kita melamun. Kegiatanberpikir yang lebih tinggi dilakukan secara sadar, tersusun dalam urutan yangsaling berhubungan, dan bertujuan untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Jeniskegiatan berpikir vang terakhir inilah yang disebut kegiatan bernalar.Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dicatat bahwa proses bernalar atausingkatnya penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif  dan deduktif. 
B    Penalaran Induktif dan Deduktif
·         Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah: proses penalaran untuk menarik kesimpulanberupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yangbersifat khusus, prosesnya disebut induksi.
Penalaran induktif mungkin merupakan generalisasi, analogi atau hubungan sebab akibat. Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan kedua  pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai sernua atausebagian dari gejala serupa itu. Di dalam analogi kesimpulan tentang kebenaransuatu gejala ditarik berdasarkan pengamatan terhadap sejurnlah gejala khususyang bersamaan. Hubungan sebab akibat ialah hubungan ketergantungan antaragejala-gejala yang mengikuti pola sebab akibat, akibat-sebab, dan akibat-akibat.


Contoh:
            Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentanghubungan antara kebiasaan merokok dengan kematian. Antara tanggal 1Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara50  sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaantentang kebiasaan merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang.Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus-menerus selama 44 bulan.Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebabkematiannya, diperoleh data bahwa di antara 11.870 kematian yangdilaporkan 2.249 disebabkan kanker.Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yangmerokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalanganpengisap rokok tetap jauh lebih tinggi daripada yang tidak pernahmerokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kernatian yang tidak pernah merokok.Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasipositif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap hari. Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwaasap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali
Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab akibat antara merokok dan kematian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana proses bernalar itu terjadi.Mula-mula mereka mengurnpulkan data dari sejumlah orang laki-laki. Mereka itudikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai dari yang tidak pernahmerokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itu juga dibedakanantara yang menghisap rokok putih (sigaret) dan yang menghisap cerutu dan pipa.Dalam waktu yang cukup panjang mereka diarnati. Kematian dan penyebabnyadicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditariklah kesimpulan-kesimpulan sehubungan dengan rnasalahnya.Secara ringkas paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif.Proses itu dilakukan langkah demi langkah sehingga sampai pada kesimpulan.
·       Penalaran Deduktif
Deduksi dimulai dengan suatu premis yaitupernyataan dasar untuk menarik kesimpulan.Kesimpulannya merupakan implikasi pernyataan dasar itu.Artinya apa yang dikemukakan di dalam kesimpulan secara tersirat telah ada didalam pernyataan itu..Jadi sebenarnya proses deduksi tidak menghasilkan suatu pengetahuan yang baru,melainkan pernvataan kesimpulan yang konsisten dengan pernyataan dasarnya.Sebagai contoh  kesimpulan-kesimpulan berikut sebenarnya adalah implikasi permintaan.“Bujur sangkar adalah segi empat yang sama sisi”.
(1) Suatu segi empat yang sisi-sisi horisontalnya tidak sama panjang dengan sisi tegak lurusnya bukan bujur sangkar.
.(2) Semua bujur sangkar harus merupakan segi empat, tetapi tidak semua segiempat merupakan bujur sangkar.
(3) Jurnlah sudut dalam bujur sangkar ialah 360 derajat.
(4) Jika scbuah bujur sangkar dibagi dua dengan garis diagonal akan terjadi duasegi tiga sama kaki.
(5) Segi tiga yang terbentuk itu merupakan segi tiga siku-siku.
(6) Setiap segi tiga itu mempunyai dua sudut lancip yang besarnya 45 derajat.
(7) Jumlah sudut dalam segi tiga itu 180 derajat.
Setiap pernyataan yang tercantum itu merupakan cara lain untuk meng-ungkapkan pernyataan di atasnya secara konsisten. Pernyataan merupakan implikasi pernyataan dan seterusnya. Di sinilah letak perbedaannya dengan penalaran induktif.

                                                                    BAB  XIII
PENYUSUNAN SKRIPSI / BUKU

            Penelitian adalah keseluruhan kegiatan baik di dalam pikiran maupun dalam kegiatan nyata yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan suatu masalah di bidang ilmu pengetahuan ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi.
PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI
1.      PENGERTIAN SKRIPSI
Skripsi dapat diartikan sebagai karya tulis yang disusun oleh seorang mahasiswa yang telah menyelesaikan jumlah sks yang disyaratkan, dengan dibimbing oleh dosen pembimbing, sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar pendidiksan S1 (Sarjana).
Penelitian adalah keseluruhan kegiatan baik di dalam pikiran maupun dalam kegiatan nyata yang dilakukan oleh mahasiswa untuk menyelesaikan suatu masalah di bidang ilmu pengetahuan ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi.
 BENTUK LAPORAN PENULISAN SKRIPSI
Bentuk laporan penulisan skripsi terdiri dari:
A. Bagian Awal
Bagian Awal ini terdiri dari:
1. Halaman Judul
2. Lembar Pernyataan
3. Lembar Pengesahan
4. Abstraksi
5. Halaman Kata Pengantar
6. Halaman Daftar Isi
7. Halaman Daftar Tabel
8. Halaman Daftar Gambar: Grafik, Diagram, Bagan, Peta dan sebagainya




B. Bagian Tengah.
Bagian tengah ini terdiri dari:
1. Bab Pendahuluan
2. Bab Landasan Teori
3. Metode Penelitian.
4. Bab Analisis Data dan Pembahasan
5. Bab Kesimpulan dan Saran
C. Bagian Akhir.
Bagian akhir terdiri dari:
1. Daftar Pustaka
2. Lampiran
Penjelasan secara terinci dari struktur penulisan skripsi dapat dilihat sebagai berikut:
A. Bagian Awal.
Pada bagian ini berisi hal-hal yang berhubungan dengan penulisan skripsi yakni sebagai berikut:
1. Halaman Judul
Ditulis sesuai dengan cover depan Penulisan Skripsi standar Universitas Gunadarma.
2. Lembar Pernyataan
Yakni merupakan halaman yang berisi pernyataan bahwa penulisan skripsi ini merupakan hasil karya sendiri bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap hasil karya orang lain.
3. Lembar Pengesahan Pada Lembar Pengesahan ini berisi Daftar Komisi Pembimbing, Daftar Nama Panitia Ujian yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota. Pada Bagian bawah sendiri juga disertai tanda tangan Pembimbing dan Kepala Bagian Sidang Sarjana.
4. Abstraksi
Yakni berisi ringkasan tentang hasil dan pembahasan secara garis besar dari Penulisan Skripsi dengan maximal 1 halaman.
5. Kata Pengantar
Berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ikut berperan serta dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan Skripsi (a.l. Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Pembimbing, Perusahaan, dll ).
6. Halaman Daftar Isi
Berisi semua informasi secara garis besar dan disusun berdasarkan urut nomor halaman.
7. Halaman Daftar Tabel
8. Halaman Daftar Gambar, Daftar Grafik, Daftar Diagram
B. Bagian Tengah
1. Pendahuluan
Pada Bab Pendahuluan ini terdiri dari beberapa sub pokok bab yang meliputi antara lain:
a. Latar Belakang Masalah
Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang bersangkutan.
b. Rumusan Masalah
Berisi masalah apa yang terjadi dan sekaligus merumuskan masalah dalam penelitian yang bersangkutan.
c. Batasan Masalah
Memberikan batasan yang jelas pada bagian mana dari persoalan atau masalah yang dikaji dan bagian mana yang tidak.
d. Tujuan Penelitian
Menggambarkan hasil-hasil apa yang bisa dicapai dan diharapkan dari penelitian ini dengan memberikan jawaban terhadap masalah yang diteliti.
e. Metode Penelitian
Menjelaskan cara pelaksanaan kegiatan penelitian, mencakup cara pengumpulan         data, alat yang digunakan dan cara analisa data.
f. Sistematika Penulisan
 Memberikan gambaran umum dari bab ke bab isi dari Penulisan Skripsi
2. Landasan Teori
         Menguraikan teori-teori yang menunjang penulisan / penelitian, yang bisa diperkuat dengan menunjukkan hasil penelitian sebelumnya.
    3. Metode Penelitian
   Menjelaskan cara pengambilan dan pengolahan data dengan menggunakan alat-alat      analisis yang ada.
4. Analisis Data dan Pembahasan
Membahas tentang keterkaitan antar faktor-faktor dari data yang diperoleh dari masalah yang diajukan kemudian menyelesaikan masalah tersebut dengan metode yang diajukan dan menganalisa proses dan hasil penyelesaian masalah.

5. Kesimpulan (dan Saran)
Bab ini bisa terdiri dari Kesimpulan saja atau ditambahkan Saran.
Kesimpulan
Berisi jawaban dari masalah yang diajukan penulis, yang diperoleh dari penelitian.
Saran
Ditujukan kepada pihak-pihak terkait, sehubungan dengan hasil penelitian.
B. BAGIAN AKHIR
Daftar Pustaka
Berisi daftar referensi (buku, jurnal, majalah, dll), yang digunakan dalam penulisan
Lampiran
Penjelasan tambahan, dapat berupa uraian, gambar, perhitungan-perhi tungan, grafik atau tabel, yang merupakan penjelasan rinci dari apa yang disajikan di bagian-bagian terkait sebelumnya.
6. Hasil Penulisan Skripsi
- Dijilid berbentuk buku dengan jumlah halaman paling sedikit 12 (dua belas) halaman tidak termasuk cover, halaman judul, daftar isi, kata pengantar dan daftar pustaka
- Dipresentasikan dan dianjurkan menggunakan Power Point pada saat pelaksanaan Sidang Sarjana (S1) di hadapan para penguji Sidang.
- Diketik dengan menggunakan Program Software Pengolah Kata, misal: Ms Word
Dicetak dengan printer (dianjurkan dengan LASER PRINTER).
KUTIPAN
Dalam penulisan hasil penelitian ilmiah biasanya dimasukkan kutipan-kutipan. Ada beberapa macam kutipan sebagai berikut:
a. Kutipan langsung (Direct Quatation)
             yang terdiri dari kutipan langsung pendek dan kutipan langsung panjang. Kutipan langsung pendek adalah kutipan yang harus persis sama dengan sumber aslinya dan ini biasanya untuk mengutip rumus, peraturan, puisi, difinisi, pernyataan ilmiah dan lain-lain. Kutipan langsung pendek ini adalah kutipan yang panjangnya tidak melebihi tiga baris ketikan. Kutipan ini cukup dimasukkan kedalam teks dengan memberi tanda petik diantara kutipan tersebut. Sedangkan kutipan panjang langsung adalah kutipan yang panjangnya melebihi tiga baris ketikan dan kutipan harus diberi tempat tersendiri dalam alinea baru.
b. Kutipan tidak langsung (Indirect Quatation)
             merupakan kutipan yang tidak persis sama dengan sumber aslinya. Kutipan ini merupakan ringkasan atau pokok-pokok yang disusun menurut jalan pikiran pengutip. Baik kutipan tidak langsung pendek maupun panjang harus dimasukkan kedalam kalimat atau alinea. Dalam kutipan tidak langsung pengutip tidak boleh memasukkan pendapatnya sendiri.
Catatan kaki atau footnone adalah catatan tentang sumber karangan dan setiap mengutip suatu karangan harus dicantumkan sumbernya. Kewajiban mencantumkan sumber ini untuk menyatakan penghargaan kepada pengarang lain yang menyatakan bahwa penulis meminjam pendapat atau buah pikiran orang lain. Unsur-unsur dalam catatan kaki meliputi: nama pengarang, judul karangan, data penerbitan dan nomor halaman.
Ada dua cara dalam menempatkan sumber kutipan sebagai berikut:
a. Cara ringkas yaitu menempatkan sumber kutipan dibelakangbahan yang dikutip yang ditulis dalam tanda kurung dengan menyebutkan “Nama pengarang, Tahun penerbitan dan Halaman yang dikutip”.
b. Cara langsung yaitu menempatkan sumber kutipan langsung dibawah pernyataan yang dikutip yang dipisahkan dengan garis lurus sepanjang garis teks. Jarak antara garis pemisah dengan teks satu spasi, jarak antara garis pemisah dengan sumber kutipan dua spasi, dan jarak baris dari kutipan harus satu spasi.
























BAB XIV
PENYUSUNAN TEKS PIDATO

PENYUSUNAN TEKS PIDATO
Seringkali kita mendengar seseorang yang berpidato panjang tanpa memperoleh apa-apa daripadanya selain kelelahan dan kebosanan. Hal ini biasanya disebabkan pembicara mempunyai bahan yang banyak tetapi tidak mampu mengorganisasikannya. Pidato yang tidak teratur, bukan hanya menjengkelkan pendengarnya, tetapi juga akan membingungkan pembicaranya itu sendiri. Ibarat pakaian yang harganya sangat mahal, pasti akan membuat orang yang melihatnya tertawa sisnis jika dipakai secara acak-acakan. Herbert Spencer pernah berkata, “Kalau pengetahuan orang itu tidak teratur, maka makin banyak pengetahuan yang dimilikinya, makin besar pula kekacauan pikirannya.”
Pada pidato, keteraturan merangkai kata-kata akan sangat menentukan daya tarik pidato itu sendiri. Bila tentara bermain-main dengan peluru, maka orator (jago pidato) bermain dengan kata-kata. Bagaimana kata-kata itu harus kita mainkan dalam pidato? Kita akan membahasnya secara teknis.
Menyusun naskah pidato dengan sistematis dan logis serta menyampaikan / membacakan pidato dengan tepat sesuai dengan naskah yang disusun.
Berpidato yaitu berbicara didepan umum untuk menyampaikan gagasan atau pikiran.
Secara umum ada tiga macam tujuan berpidato.
Pertama, pidato bertujuan untuk memberikan penjelasan kepada pendengar.
Kedua bertujuan untuk mempengaruhi pendapat atau pendirian pendengar, atau untuk membujuk para pendengar.
Ketiga , pidato bertujuan untuk menghibur atau menyenangkan hati pendengar.
Bila pidato bertujuan memberitahukan sesuatu, maka reaksi yang diharapkan dari pendengar yaitu memahami masalah yang dikemukakan. Jika pidato untuk mempengaruhi pendapat atau pemikiran pendengar atau membujuk pendengar, reaksi yang diharapkan yaitu keyakinan pendengar terhadap masalah yang dikemukakan pembicara dan melakukan perbuatan yang diharapkan itu secara sukarela. Kalau tujuan yang diharapkan menyenangkan pendengar, reaksi yang diharapkan yaitu perasaan puas dan senang terhadap masalah yang dibahas oleh sipembicara.
Agar pidato dapat dilakukan dengan baik dan lancer, perlu memperhatikan beberapa hal antara lain:
a. Menyusun Teks Pidato
Menyusun teks pidato termasuk kedalam persiapan bahan yaitu mulai memilih atau menentukan masalah sampai kepada penyusunan teks atau naskah pidato yang utuh. Teks atau naskah pidato disusun harus meliputi pendahuluan, uraian dan kesimpulan. Bahasa yang digunakan harus komunikatif dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi pendengar. Masalah yang dituangkan dalam teks atau naskah pidato harus betul – betul kita kuasai dan kita pahami. Jangan mengemukakan masalah yang kita sendiri belum menguasainya.
b. Membaca Teks Pidato
Membacakan teks pidato berarti proses penyampaian pidato didepan pendengar. Dalam menyampaikan pidato harus menggunakan teknik yang tepat, agar pidato itu lebih menarik, tidak monoton , dan tidak menjemukan. Hal – hal yang harus diperhatikan antara lain gerak – gerik didepan pendengar jangan kaku, tetapi harus bersifat wajar. Gerak – gerik dan komunikasi kita harus tertuju kepada pendengar.
Pelafalan kata – kata , intonasi kalimat, volume suara harus jelas, tegas dan tepat, diusahakan semua pendengar dapat mendengarkan apa yang diucapkan pembicara.
Hal-hal yang harus ada dalam naskah pidato adalah sebagai berikut.
1. Salam atau sapaan pembuka.
2. Pembuka pidato.
3. Isi pidato.
4. Penutup pidato.
5. Salam penutup.
Langkah-langkah menyusun naskah pidato
Adapun beberapa langkah-langkah di dalam menyusun atau membuat pidato antara lain :
1. Menentukan tema atau pokok pembicaraan yang disesuaikan dengan tujuan pidato.
2. Mendaftar pokok-pokok yang akan disampaikan dalam pidato.
3. Menyusun kerangka pidato


Secara umum dalam proses pembuatan atau kerangka pidato mengandung tiga bagian pokok sebagai berikut :
a. Pendahuluan Bagian ini biasanya berisi salam pembuka, ucapan syukur kepada Tuhan, atau ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang terkait. Selain itu, dalam bagian ini juga secara tidak langsung menyampaikan tujuan pidato. ( baca pada tujuan pidato ).
b. Isi pidato harus sesuai dengan tujuan dan tema atau pokok pembicaraan yang telah ditentukan sebelumnya.
c. Penutup merupakan kunci keseluruhan isi pidato. Bagian ini biasanya berupa reruan umuk membangkitkan semangat, saran, harapan-harapan, ringkasan penting, ucapam terimakasih, permohonan maaf, dan salam penutup.
TAHAP PERSIAPAN PIDATO
Sebelum berpidato, berdakwah, atau berceramah, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan dan tingkah laku apa yang diharapkan dari khalayak kita; bagaimana kita akan mengembangkan topik bahasan. Dengan demikian, dalam tahap persiapan pidato, ada dua hal yang harus kita lakukan, yaitu: (1) Memilih Topik dan Tujuan Pidato dan (2) Mengembangkan Topik Bahasan.
Memilih Topik dan Tujuan Pidato
Seringkali kita menjadi bingung ketika harus mencari topik yang baik, seakan-akan dunia ini kekeringan bahan pembicaraan, seakan-akan kita tidak memiliki keahlian apa-apa. Jangan bingung, karena sebenarnya setiap orang memiliki keahlian masing-masing, hanya kita seringkali tidak menyadarinya.
Kriteria Topik yang Baik
Untuk menentukan topik yang baik, kita dapat menggunakan ukuran-ukuran sebagai berikut:
1. Topik harus sesuai dengan latar belakang pengetahuan Anda
Topik yang paling baik adalah topik yang memberikan kemungkinan Anda lebih tahu daripada khalayak, Anda lebih ahli dibandingkan dengan kebanyakan pendengar. Jika Anda merupakan orang yang paling tahu tentang tata cara sholat yang baik dibandingkan dengan orang lain, maka berpidatolah dengan tema atau topik itu; sebaliknya jika Anda tidak begitu paham tentang tata cara sholat yang baik, jangan pernah Anda memaksakan diri untuk berbicara tentang masalah itu.

2. Topik harus menarik minat Anda
Topik yang enak dibicarakan tentu saja adalah topik yang paling Anda senangi atau topik yang paling menyentuh emosi Anda. Anda akan dapat berbicara lancar tentang kaitan berpuasa dengan ketentraman hati, sebab Anda pernah merasa tidak tenang ketika pernah tidak berpuasa secara sengaja di bulan ramadhan.
3. Topik harus menarik minat pendengar
Dalam berdakwah atau berpidato, kita berbicara untuk orang lain, bukan untuk diri kita sendiri. Jika tidak ingin ditinggalkan pendengar atau diacuhkan oleh hadirin, Anda harus berbicara tentang sesuatu yang diminati mereka. Walaupun hal-hal yang menarik perhatian itu sangat tergantung pada situasi dan latar belakang khalayak/hadirin, namun hal-hal yang bersifat baru dan indah, hal-hal yang menyentuh rasa kemanusiaan, petualangan, konflik, ketegangan, ketidakpastian, hal yang berkaitan dengan keluarga, humor, rahasia, atau hal-hal yang memiliki manfaat nyata bagi hadirin adalah topik-topik yang akan menarik perhatian.
4. Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar
Betapapun baiknya topik, jika tidak dapat dicerna oleh khalayak, topik itu bukan saja tidak menarik tetapi bahkan akan membingungkan mereka. Oleh karena itu, sebelum Anda menentukan topik dakwah, ketahuilah terlebih dahulu bagaimana rata-rata tingkat pengetahuan pendengar yang menjadi khalayak sasaran pidato Anda. Gunakanlah bahasa, gaya bahasa, dan istilah-istilah yang dimengerti oleh hadirin, bukan istilah-istilah yang hanya dipahami oleh Anda (meskipun istilah itu keren sekali).
5. Topik harus jelas ruang lingkup dan pembatasannya
Topik yang baik tidak boleh terlalu luas, sehingga setiap bagian hanya memperoleh ulasan sekilas saja, atau “ngawur”. Misalnya, Anda memilih topik Agama, tetapi kita tahu agama itu luas sekali. Agama bisa menyangkut moralitas, sistem kepercayaan, cara beribadat, dan lain-lain. Agar topik kita jelas, ambilah misalnya tentang cara beribadat, lebih jelas lagi ambilah topik tentang sholat yang khusu’, dan seterusnya.
6. Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi
Maksudnya, kita harus memilih topik pidato atau topik dakwah yang sesuai dengan waktu yang tersedia dan situasi yang terjadi. Jika Anda diberikan waktu untuk berbicara selama 10 menit, janganlah Anda memilih topik yang terlalu luas yang tidak mungkin dijelaskan dalam waktu 10 menit. Jika Anda harus berbicara di hadapan para santri yang rata-rata usianya belum akil baligh, janganlah Anda memilih topik dakwah tentang tata cara hubungan suami-istri, bicaralah tentang kebersihan sekolah, misalnya.
7. Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain
Jika Anda memilih topik tentang Hadits Shahih dan Dhoif, lengkapi bahan pembicaraan Anda dengan sumber-sumber rujukan (bisa berupa: kitab, buku, atau perkataan ulama) yang sesuai.


Merumuskan Judul Pidato
Hal yang erat kaitannya dengan topik adalah judul. Bila topik adalah pokok bahasan yang akan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan itu. Seringkali judul telah dikemukakan lebih dahulu kepada khalayak, karena itu judul perlu dirumuskan terlebih dahulu. Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat, yaitu: relevanpropokatif, dan singkatRelevan artinya ada hubungannya dengan pokok-pokok bahasan; Propokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pendengar; Singkat berarti mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan mudah diingat.
Menentukan Tujuan Pidato
Ada dua macam tujuan pidato, yakni: tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pidato biasanya dirumuskan dalam tiga hal: memberitahukan (informatif), mempengaruhi (persuasif), dan menghibur (rekreatif).
Tujuan khusus ialah tujuan yang dapat dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus bersifat kongkret dan sebaiknya dapat diukur tingkat pencapaiannya atau dapat dibuktikan segera.
Hubungan antara topik judul, tujuan umum, dan tujuan khusus dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini:
1.   Topik : Faedah memiliki sifat pemaaf
Judul : Pemaaf Sumber Kebahagiaan
Tujuan Umum : Informatif (memberi tahu)
Tujuan Khusus: Pendengar mengetahui bahwa:
a. Sifat dendam menimbulkan gangguan jasmani dan rohani
b. Sifat pemaaf menimbulkan ketentraman jiwa dan kesehatan
2.   Topik : Keuntungan mengikuti sholat berjamaah
Judul : Sholat berjamaah adalah keutamaan sholat
Tujuan Umum : Mempengaruhi (Persuasif)
Tujuan Khusus :
a. Pendengar memperoleh keyakinan tetantang keutamaan sholat berjamaah
b. Pendengar berbondong-bondong sholat berjamaah di masjid
3.   Topik : Kisah-kisah lucu zaman Nabi dan Khalifah
Judul : Yang benar menang, yang salah kalah
Tujuan Umum : Menghibur (rekreatif)
Tujuan Khusus :
Pendengar dapat menikmati kisah lucu Ratu Balqis dikerjai oleh Nabi Sulaiman, Siti Zulaikha menggoda Nabi Yusuf, atau Abu Nawas menjawab teka-teki raja, dan lain-lain.
Menurut A.H. Hasanuddin, lima pentahapan dalam menata wicara tutur kata atau menyusun pidato perlu mendapat perhatian kita, agar wicara tutur kata kita benar-benar punya makna dan dapat diambil hikmahnya oleh para pendengar.
1. Pencarian bahan/pengumpulan bahan yang selektif dan relevan dengan tema.
2. Penyusunan kerangka yang sistematis
3. Pengkoreksian terhadap gaya bahasa, redaksional, dan rumusan kata-kata yang dipergunakan.
4. Memoria sebagai renungan ulang sehingga terkuasai sepenuhnya.
5. Pronunciato (mempelajari/melatih ucapan, intonasi, nada, humoria, dan semangat).
yang harus disadari dalam menjalankan tugas persuasion antara lain :
1. Pembicara sadar apakah tujuan dari yang dikemukakan dalam pembicaraannya.
2. Pembicara disamping sebagai subjek sekaligus sebagai objek yang tanggap terhadap refleksi serta reaksi para pendengar.
3. Penbicara harus mampu menyesuaikan diri sehingga tidak terasing dari/bagi pendengarnya
Contoh Sistematika Teks Pidato
Tema (Topik/Judul) :
”......................................................................................................................................”
I. Mukaddimah : (bersifat Tradisional Religius)
II. Pendahuluan (ungkapan yang menyangkut tema (topik/Judul) yang dihubungkan dengan hal-hal yang telah berlalu, kenyataan masa kini dan sorotan masa yang akan datang ).
III. Permasalahan : (faktor apa dan bagaimana masalah yang menyangkut tema (topik/judul).
IV. Uraian Pembahasan :
1. Faktor Penunjang (hal-hal yang positif)
1.1............................
1.2............................dan seterusnya.
2. Faktor penghambat (hal-hal yang negatif)
2.1...........................
2.2...........................dan seterusnya
3. Langkah/Usaha (sebagai jalan keluar atau sebagai kemungkinan pemecahannya)
3.1............................
3.2............................dan seterusnya
V. Kesimpulan : (inti dari uraian pembahasan masalah)
VI. Seruan/Saran-saran/Harapan.
1.......................
2......................dan seterusnya
VII. Penutup : (bersifat Tradisional Religius)
Teknik Mengembangkan Pokok Bahasan
Bila topik yang baik sudah ditemukan, kita memerlukan keterangan untuk menunjang topik tersebut. Keterangan penunjang (supporting points) dipergunakan untuk memperjelas uraian, memperkuat kesan, menambah daya tarik, dan mempermudah pengertian.
Ada enam macam teknik pengembangan bahasan dalam berpidato:
1. Penjelasan
2. Contoh
3. Analogi
4. Testimoni
5. Statistik
6. Perulangan
Penjelasan. Penjelasan adalah memberikan keterangan terhadap istilah atau kata-kata yang disampaikan. Memberikan penjelasan dapat dilakukan dengan cara memberikan pengertian atau definisi. Misalnya, istilah Iman kepada Allah Anda jelaskan dengan kalimat: “Iman adalah rasa percaya dan yakin akan kebenaran adanya Allah di dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”
Contoh. Contoh adalah upaya untuk mengkongkretkan gagasan, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Contoh dalam pidato dapat berupa cerita yang rinci yang disebut ilustrasi. Untuk memberikan contoh tetantang kesabaran, misalnya Anda menggunakan cerita tentang kesabaran Nabi Ayub dalam menghadapi cobaan Allah melalui penyakit kulit yang dideritanya.
Analogi. Analogi adalah perbandingan antara dua hal atau lebih untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya. Ada dua macam analogi: analogi harfiyah dan analogi kiasan.
            Analogi harfiyah (literal analogy) adalah perbandingan di antara objek-objek dari kelompok yang sama, karena adanya persamaan dalam beberapa aspek tertentu. Misalnya, membandingkan manusia dengan monyet secara biologis. Analogi kiasan adalah perbandingan di antara objek-objek di antara kelompok yang tidak sama. Misalnya, membandingkan ke-Esaan Allah dengan menggunakan ayat Al-Quran dan Injil.
            Testimoni. Testimoni ialah pernyataan ahli yang kita kutip untuk menunjang pembicaraan kita. Pendapat ahli itu dapat kita ambil dari pidato seorang ahli, tulisan di surat kabar, acara televisi, dan lain-lain, termasuk kutipan dari kitab suci, hadits, dan sejenisnya. Misalnya, untuk memperkuat perkataan Anda tentang betapa mulianya akhlak Nabi Muhammad SAW, Anda mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah atau Bukhori-Muslim.
            Statistik. Statistik adalah angka-angka yang dipergunakan untuk menunjukkan perbandingan kasus dalam jenis tertentu. Statistik diambil untuk menimbulkan kesan yang kuat, memperjelas, dan meyakinkan. Misalnya, untuk melukiskan betapa bokbroknya akhlak generasi muda di Indonesia, Anda menggunakan kalimat, “Wahai saudara-saudara, menurut hasil penelitian, saat ini lebih dari 65 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks sebelum nikah…
            Perulangan. Perulangan adalah menyebutkan kembali gagasan yang sama dengan kata-kata yang berbeda. Perulangan berfungsi untuk menegaskan dan mengingatkan kembali.
            Dengan menggunakan keenam teknik pengembangan pokok bahasan tersebut (secara berganti-ganti), maka pidato atau dakwah yang Anda sampaikan insya Allah tidak akan membosankan pendengar, tapi sebaliknya dakwah Anda akan tampak penuh variasi dan tidak membosankan untuk didengar.

Membuat Garis-garis Besar Pidato
            Garis-garia besar (out-line) pidato merupakan pelengkap yang amat berharga bagi pembicara yang berpengalaman dan merupakan keharusan bagi pembicara yang belum berpengalaman. Garis besar pidato ibarat peta bumi bagi komunikator yang akan memasuki daerah kegiatan retorika. Peta ini memberikan petunjuk dan arah yang akan dituju. Garis besar yang salah akan mengacaukan “perjalanan” pembicaraan, dan garis besar yang teratur akan menertibkan “jalannya” pidato.
Garis-garis besar pidato yang baik terdiri dari tiga bagian: pengantarisi, dan penutup. Dengan menggunakan urutan bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat membaginya menjadi lima bagian: perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan. Perhatian ditempatkan pada pengantar; kebutuhan, pemuasan, dan visualisasi kita tempatkan pada isi; dan tindakan kita tempatkan pada penutup pidato.

RETORIKA DAN KOMPOSISI
A. Pengertian Retorika
Retorika adalah teknik pemakaian bahasa seni, yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik.
Dua aspek penting dalam retorika adalah; pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik.
Studi tentang retorika mempengaruhi kebudayaan Eropa mulai jaman kuno hingga abad XVII M. Pada abad XVII, retorika dianggap tidak penting lagi. Pada abad XX kembali mengambil tempat lagi sebagai cara untuk menyajikan berbagai macam bidang pengetahuan dalam bahasa yang baik dan efektif.
Retorika menitiberatkan pada seni oratori atau teknik berpidato.
Beberapa pengertian retorika modern:
Tujuan retorika untuk menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari tulisan yang bersifat prosa atau wacana lisan yang berbentuk pidato atau ceramah,untuk mempengaruhi sikap dan perasaan orang.
Prinsip-prinsip mengenai komposisi pidato yang persuasif dan efektif, maupun ketrampilan yang harus dimiliki seorang orator.
Prinsip-prinsip mengenai komposisi prosa pada umumnya, baik yang dimaksudkan untuk penyajian lisan maupun untuk penyajian tertulis, entah yang bersifat fiktif atau yang bersifat ilmiah.
Kumpulan ajaran teoritis mengenai seni komposisi verbal, baik prosa maupun puisi, beserta upaya-upaya yang digunakan dalam kedua jenis komposisi verbal tersebut.
Prinsip-prinsip Komposisi Pidato
Banyak cara menyusun pesan pidato, tetapi semuanya harus didasari dengan tiga prinsip komposisi. Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh organisasi pesan. Raymond S. Ross berkata, “These three great rhetorical principles…have a profound bearing upon how we should organize messages.” Ketiga prinsip itu adalah: kesatuan (unity), pertautan (coherence), dan titik berat (emphasis).
Kesatuan (unity)
Komposisi yang baik harus merupakan kesatuan yang utuh, yang meliputi kesatuan dalam isi, tujuan, dan sifat (mood). Dalam isi, harus ada gagasan tunggal yang mendominasi seluruh uraian, yang menentukan dalam pemilihan bahan-bahan penunjang. Bila tema dakwah kita adalah “Pembuktian Adanya Tuhan Secara Aqliyah”, maka kita tidak membicarakan sifat-sifat Tuhan, macam-macam Tuhan, atau dalil-dalil naqli tentang adanya Tuhan. Di sini kita mungkin hanya membicarakan argumentasi logika dan moral tentang keberadaan Tuhan dihubungkan dengan mahluk ciptaan-Nya; setiap benda ciptaan dihubungkan dengan yang menciptakannya; ada ciptaan pasti ada pencipta.
            Komposisi juga harus mempunyai satu macam tujuan. Satu tujuan di antara yang tiga -memberitahukan, mempengaruhi, dan menghibur- harus dipilih. Dalam pidato mempengaruhi (persuasif) boleh saja kita menyelipkan cerita-cerita lucu, sepanjang cerita lucu itu menambah daya persuasi. Bila cerita lucu itu tidak ada hubungannya dengan persuasi, betapa pun menariknya ia harus kita buang. Dalam pidato informatif, humor dipergunakan dengan pertimbangan dapat memperjelas uraian.
            Pertautan (coherence)Pertautan menunjukkan urutan bagian uraian yang berkaitan satu sama lain. Pertautan menyebabkan perpindahan dari pokok yang satu kepada pokok yang lainnya berjalan lancar. Sebaliknya, hilangnya pertautan menimbulkan gagasan yang tersendat-sendat atau pendengar tidak akan mampu menarik gagasan pokok dari seluruh pembicaraan. Ini biasanya disebabkan perencanaan yang tidak memadai, pemikiran yang ceroboh, dan penggunaan kata-kata yang jelek.
            Untuk memelihara pertautan dapat dipergunakan tiga cara: ungkapan penyambung (connective phrases), pararelisme, dan gema (echo). Ungkapan penyambung adalah sebuah kata atau lebih yang digunakan untuk merangkaikan bagian-bagian. Contoh-contoh ungkapan penyambung: karena itu, walaupun, jadi, selain itu, sebaliknya, misalnya, sebagai contoh, dengan perkataan lain, sebagai ilustrasi, bukan saja, … dan sebagainya.
            Paralelisme ialah mensejajarkan struktur kalimat yang sejenis dengan ungkapan yang sama untuk setiap pokok pembicaraan. Misalnya, “Ulama sebagai Pemuka Pendapat memiliki empat ciri: Ia mengetahui lebih banyak, ia berpendidikan lebih tinggi, ia mempunyai status sosial yang lebih terhormat, dan ia lebih sering bepergian ke luar sistem sosial dibandingkan dengan anggota masyarakat yang lain.”
            Gema (echo) berarti kata atau gagasan dalam kalimat terdahulu diulang kembali pada kalimat baru. Pada contoh di bawah ini, yang dicetak miring adalah “gema”.
Keempat ciri ulama di atas sangat menentukan tingkat partisipasinya dalam mengemukakan pendapat. Yang disebut terakhir, yaitu sering bepergian ke luar sistem sosial, sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan ulama dalam menyerap ide-ide pembaruan.
Gema dapat berupa persamaan kata (sinonim), perulangan kata, kata ganti seperti itu, itu, hal tersebut, ia, mereka, atau istilah lain yang menggantikan kata-kata yang terdahulu.
            Titik Berat (emphasis)
Bila kesatuan dan pertautan membantu pendengar untuk mengikuti dengan mudah jalannya pembicaraan, titik berat menunjukkan mereka pada bagian-bagian penting yang patut diperhatikan. Hal-hal yang harus dititikberatkan bergantung pada isis komposisi pidato, tetapipokok-pokoknya hampir sama.
            Gagasan utama (central ideas), ikhtisar uraian, pemikiran baru, perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan khalayak pendengar adalah contoh-contoh bagian yang harus dititikbrratkan, atau ditekankan. Dalam pesan tertulis, titik berat dapat dinyatakan dengan tanda garis bawah, huruf miring, huruf tebal, atau huruf besar. Dalam uraian lisan, titik berat dapat dinyatakan dengan hentian, tekanan suara yang dinaikkan, perubahan nada (intonasi), isyarat, dan sebagainya. Dapat pula didahului dengan keterangan penjelas seperti “Akhirnya sampailah pada inti pembicaraan saya”, atau “Saudara-saudara, yang terpenting bagi kita adalah …”, dan sebagainya.
B. JAMAN YUNANI
Retorika mula-mula tumbuh dan berkembang di Yunani pada abad V dan IV sebelum Masehi.
Pengertian asli retorika adalah sebuah telaah atau studi simpatik tentang oratoria.
Orang yang pertama-tama dianggap memperkenalkan oratori adalah orang Yunani Sicilia, tetapi tokoh pendiri sebenarnya adalah Corax dari Sirakusa (500 SM) yang meletakkan sistematika oratori atas lima bagian, yaitu:
Poem atau pengantar dari pidato yang akan disampaikan.
Diegesis atau Narratio: bagian yang mengandung uraian tentang pokok persoalan yang akan disampaikan.
Agon atau argumen; bagian pidato yang mengemukakan bukti-bukti mengenai pokok persoalan yang dikemukakan tersebut.
Parekbaksis atau Digressio; catatan pelengkap yang mengemukakan keterangan-keterangan lainnya yang dianggap perlu untuk menjelaskan persoalan tadi.
Peroratio; bagian penutup pidato yang mengemukakan kesimpulan dan saran-saran.
Terdapat tiga kontroversi tentang retorika yaitu: (1) menyangkut persoalan pemakaian unsur stilistika, (2) masalah hubungan antar retorika dan moral, dan (3) masalah pendidikan.
Kontroversi pertama: terdapat tiga aliran, yaitu: menyetujui penggunaan unsur-unsur stilistika, yang menolak, berada di luar kedua aliran pertama.
            Gorgias dan Leontini, mula-mula memperkenalkan retorika pada orang Athena (42 SM) yang berpendapat perlu menggunakan upaya-upaya stilistika dalam retorika seperti: epitet-epitet penuh hiasan, antitese-antitese, terminasi (akhir kata) penuh ritme dan bersajak yang terdapat pada pidato maupun narasi historis Thucydides dan argumentasi sandiwara dari Euripides. Pemakaian unsur stilistika yang berlebihan tersebut dianggap berlebihan oleh Lysias yang menyukai gaya simple. Kemudian kedua teori tersebut dimentahkan oleh Demosthenes.
            Kontroversi kedua menyangkut masalah retorika dan moral; Gorgias mengemukanan bahwa dalam berpidato, seorang orator harus bermoral, karenanya retorika dianggap tiadak perlu/mubazir.
Kontroversi ketiga: terdapat pada bidang pendidikan. Retorika memicu para ahli retorika untuk memasukkan kurikulum yang berbeda dalam materi tersebut.
Isocrates (perimasukkan pertengahan abad IV): aspek-aspek politik dapat dimasukkan dalam retorika.
Gorgias: membicarakan masalah etika dan politik
Phaeradus: membicarakan etika dan mistik.
Sokrates: memaklumkan retorika sebagai seni dangkal yang mengambil bagian dalam ilmu fillsafat.
C. Metode Retorika Klasik
Ada beberapa pokok masalah retorika, antara lain: (1) seni retorika, (2) masalah pidato, (3) situasi yang menimbulkan pidato.
Seni retorika. Terdapat lima langkah pembagian:
-   Inventio/Heuresis: penemuan atau penelitian materi-materi yang mencangkup: menemukan, mengumpulkan, menganalisa, memilih materi yang cocok untuk berpidato. Menurut Aristoteles argumen-argumen harus dicari melalui rasio, moral dan afeksi.
-   Dispositio/Taxis/Oikonomia: penyusunan dan pengurutan materi (argumen) dalam sebuah pidato.
-   Elocutio atau Lexis: pengungkapan atau penyajian gagasan dalam bahasa yang sesuai. Ada tiga hal yang menjadi dasar elucutio: komposisi, kejelasan, langgam bahasa dari pidato; kerapian, kemurnian, ketajaman dan kesopanan dalam bahasa; kemegahan, hiasan pikiran dengan upaya retorika.
-   Memoria/mneme: menghafalkan pidato, yaitu latihan untuk mengingat gagasan-gagasan dalam pidato yang sudah disusun.
-   Actio/Hypokrisis: menyajikan pidato. Penyajian yang efektif dari sebuah pidatoakan ditentukan juga oleh suara, sikap dan gerak-gerik.
b.   Masalah pidato. Aristoteles, Cicero dan Quintilianus membagi pidato atas lima bagian:
-         Poem/exordium: bagian pembukaan/introduksi (jelas,sopan, singkat)
-         Narratio/dicgesis: pernyataan mengenai kasus yang dibicarakan. Mengandung pernyataan mengenai fakta-fakta awal yang jelas, dipercaya, singkat dan menyenangkan.
-         Agon/Argumen: menyajikan fakta-fakta atau bukti untuk membuktikan masalah atau kasus yang sedang dibicarakan.
-         Refutatio/Lysis: bagian yang menolak fakta-fakta yang berlawanan. Pembicara menunjukkan bahwa keberatan-keberatan yang bersifat absurd,palsu/ tidak konsisten.
-         Peroratio/epilogos: kesimpulan atau suatu rekapitulasi dari apa yang telah dikemukakan dengan suatu appeal emosional pada pendengar.
c.   Situasi yang menimbulkan pidato
Merupakan semua faktor luar yang dapat mempengaruhi penyusunan pidato, cara membawakan pidato, untuk mencapai hasil yang optimal. Situasi juga mencangkup psikologi pendengar, tujuan pidato, sifat umum dan khusus pidato.
Metode Pendidikan Retorika meliputi: imitasi dan deklamasi
1. Imitasi
Merupakan cara untuk melatih membawakan pidato-pidato dengan meniru cara-cara yang biasa digunakan orator-orator klasik. Karya terkenal pada masa itu adalah Progymnasmata (Hermogenes (c. 150 AD) dari Tarsus, dan buku Antonius (c.400 AD), seorang murid Libanius dari Antiokia.
2. Deklamasi
Merupakan metode untuk menemukan suatu pokok persoalan yang dipergunakan dalam latihan akademis.
Dasar Latihan, merupakan teknik melatih diri untuk mencapai inti persoalan atau hal aktual yang sedang dihadapi.
D. Retorika Modern
Retorika modern harusnya disampaikan secara efektif dan efisien dan lebih ditekankan kepada berbahasa secara tertulis, dengan tidak mengabaikan kemampuan secara lisan.
Berbahasa secara efektif  diarahkan kepada hasil yang akan dicapai penulis  dan pembaca, bahwa amanat yang yang ingin disampaikan dapat diterima dan utuh. Sedangkan secara efisien dimaksudkan bahwa alat atau cara yang dipergunakan untuk menyampaikan suatu amanat dapat membawa hasil yang besar, sehingga penulis dan pembicara tidak perlu mengulang dan berlebihan dalam penyampaian.
Sehinnga retorika modern lebih mengedepankan bahasa tertulis tanpa mengesampingkan bahasa lisan.
Prinsip-prinsip dasar retorika modern/ retorika komposisi:
  1. Penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata bahasa yang dikuasainya. Semakin besar jumlah kosa kata yang dikuasai secara aktif, semakin mampu memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikiran.
  2. Penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan yang memungkinkan penulis mempergunakan      bermacam-macam bentuk kata dengan nuansa dan konotasi yang berbeda-beda. Kaidah-kaidah ini meliputi bidang fonologi, morfologi, dan sintaksis.
  3. Mengenal dan menguasai bermacam-macam gaya bahasa, dan mampu menciptakan gaya yang hidup dan baru untuk lebih memudahkan penyampaian pikiran penulis.
  4. Memiliki kemampuan penalaran yang baik, sehingga pikiran penulis dapat disajikan dalam suatu urutan yang teratur dan logis.
  5. Mengenal ketentuan-ketentuan teknis penyusunan komposisi tertulis, sehingga mudah dibaca dan dipahami, disamping bentuknya dapat menarik pembaca. Ketentuan teknis disini dimaksudkan dengan: masalah pengetikan/ pencetakan, cara penyusunan bibliografi, cara mengutip, dan sebagainya.
  6. Dengan demikian pencorakan komposisi dalam retorika modern akan meliputi bentuk karangan yang      disebut: eksposisi, argumentasi, deskripsi, dan narasi.
  7. Eksposisi adalah suatu bentuk retorika yang tujuannya adalah memperluas pengetahuan pembaca, agar pembaca tahu mengenai apa yang diuraikan.
  8. Argumentasi merupakan teknik untuk berusaha mengubah dan mempengaruhi sikap pembaca.
  9. Deskripsi menggambarkan obyek uraian sedemikian rupa sehingga barang atau hal tersebut seolah-olah berada di depan mata pembaca.
  10. Narasi merupakan teknik retorika untuk mengisahkan kejadian –kejadian yang ingin disampaikan penulis sedemikian rupa, sehingga pembaca merasakan seolah-olah ia sendiri yang mengalami peristiwa tersebut.
Cara merumuskan gagasan yang hendak disampaikan adalah sebagai berikut.
a.       Apa yang hendak disampaikan?
b.       Untuk tujuan apakah kita menyampaikan hal tersebut?
c.       Bagaimana kita menyampaikannya?
d.      Bagaimana pemilihan kata sehingga mempengaruhi struktur kalimat yang hendak kita gunakan?
         Dari ribuan ratusan gagasan dalam pidatonya dapat kita identifikasi gagasan-gagasan pokok. Penetapan gagasan pokok tidak didasarkan pada frekuensi tetapi pada relasi gagasan development, demokrasi dan agama dengan gagasan-gagasan yang lain.