Rabu, 23 Mei 2012

UANG DAN PERMINTAAN UANG



BAB I.
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pasca perang dunia II dan runtuhnya Unisoviet,  menandai kebangkitan pemikiran liberalisme kapitalis di dunia, dengan amerika sebagai negara pusat perkembangan pemikiran tersebut. Keadaan pasca perang ini dan dijadikan momentum terbaik bagi pemikiran liberalisme kapitalis untuk merekonstruksi ulang segala sistem yang secara global, termasuk sistem ekonomi dunia.
Selama beberapa dekade, sistem ekonomi dunia dibentuk dan dilaksanan dengan berdasarkan atas pemikiran liberalis kapitalis yang bebas dari nilai dan bertujuan hanya untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dari sumber daya yang terbatas. Salah satu instrumen yang dipergunakan adalah bunga yang kemudian menjadi ruh bagi sistem ekonomi kapitalis.
Negara-negara yang mau tidak mau harus berhubungan dengan negara lain, mau tidak mau harus menyesuaikan sistem ekonominya dengan sistem  ekonomi yang dianut oleh dunia. Termasuk dalam sistem kebijakan moneternya.
Pergerakan ekonomi dalam sistem ekonomi konvensional sangat bergantung pada sistem bunga. Begitu pentingnya bunga dalam sistem liberalisme kapitalis ini, maka dalam kebijakan moneternya struktur suku bunga selalu menjadi salah satu instrumen moneter dalam membuat sebuah kebijakan moneter.
Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Hampir semua sektor ekonomi kapitalis terait dengan sistem  bunga sehingga sektor moneter lebih cepat berkembang dari pada sektor moneter. Hal ini disebabkan karena sektor moneter lebih cepat memberikan keuntungan dari pada sektor rill.
Dalam Sistem ekonomi Kapitalis, alat yang dipergunakan untuk menilai suatu barang atau jasa adalah uang. Uang yang dimaksud disini sebuah benda yang dijamin oleh negara nilai dan kekuatannya untuk dapat ditukarkan dengan benda apa pun yang memiliki nilai nominal yang sama. Dalam hal ini negara-negara di dunia menggunakan uang kertas (fiat money) sebagai alat ukur menilai suatu barang atau jasa. Sebagai institusi yang memberikan jaminan atas uang yang telah dikeluarkannya tersebut, maka negara berkewajiban untuk menjaga nilai uang tersebut agar selalu stabil yang tetap. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, negara mengeluarkan keputusan-keputusan yang disebut sebagai kebijakan moneter.
Krisis perumahan subprime mortage yang baru-baru ini terjadi di Amerika telah membuat keadaan ekonomi Amerika menjadi libung. Limbungnya ekonomi Amerika secara otomatis merdampak juga pada negara-negara lain. Hal ini membuktikan bahwa sistem ekonomi kapitasil tidak sekuat dan sekokoh yang terlihat.
Kondisi tersebut menjadi trigger bagi sistem ekonomi alternatif untuk menggantikan sistem pemikiran kapitalisme liberalis yang dipergunakan oleh dunia saat ini. Salah satu sistem ekonomi alternatif yang ditawarkan adalah sistem ekonomi Islam. Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai kebijakan moneter negara dari sudut pandang ekonomi Islam. Untuk menjelaskan mengenai hal tersebut, maka kami membuat tiga pertanyaan yang akan menjelaskan mengenai kebijakan moneter islam.
BAB II
UANG DAN PERMINTAAN UANG
A.    Sejarah Uang
            Pada peradaban awal, manusia memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Mereka memperoleh makanan dari berburu atau memakan berbagai buah-buahan. Karena jenis kebutuhannya masih sederhana, mereka belum membutuhkan orang lain. Masing-masing individu memenuhi kebutuhan makannya secara mandiri. Dalam periode yang dikenal sebagai periode prabarter ini, manusia belum mengenal transaksi perdagangan atau kegiatan jual beli.
            Ketika jumlah manusia semakin bertambah dan peradabannya  semakin maju, kegiatan dan interaksi antar sesama manusia pun meningkat tajam. Jumlah dan jenis kebutuhan manusia, juga semakin beragam. Ketika itulah, masing-masing individu mulai tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Bisa dipahami, karena ketika seseorang menghabiskan waktunya seharian bercocok tanam, pada saat bersamaan tentu ia tidak akan bisa memperoleh garam atau ikan, menenun pakaian sendiri, atau kebutuhan lain. 
            Satu sama lain mulai saling membutuhkan, karena tidak ada individu yang secara sempurna mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Sejak saat itulah, manusia mulai mempergunakan berbagai cara dan alat untuk melangsungkan pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka. Pada tahapan peradaban manusia yang masih sangat sederhana mereka dapat menyelenggarakan tukar-menukar kebutuhan dengan cara barter. Maka perode itu disebut zaman barter.
            Pertukaran barter ini mensyaratkan adanya keinginan yang sama pada waktu yang bersamaan (double coincidence of wants) dari pihak-pihak yang melakukan pertukaran ini. Namun semakin beragam dan kompleks kebutuhan manusia, semakin sulit menciptakan situasi double coincidence of wants ini. Misalnnya, pada satu ketika seseorang yang memiliki beras membutuhkan garam. Namun saat yang bersamaan, pemilik garam sedang tidak membutuhkan beras melainkan membutuhkan daging, sehingga syarat terjadinya barter antara beras dengan garam tidak terpenuhi. Keadaan demikian tentu akan mempersulit muamalah antar manusia.  itulah sebabnya diperlukan suatu alat tukar yang dapat diterima oleh semua pihak. Alat tukar demikian kemudian disebut uang. Pertama kali, uang dikenal dalam peradaban Sumeria dan Babylonia.
            Uang kemudian berkembang dan berevolusi mengikut perjalanan sejarah. Dari perkembangan inilah, uang kemudian bisa dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu uang barang, uang kertas, dan uang giral atau kredit.
1.      Uang barang (commdity money)
Uang barang adalah alat tukar yang memiliki nilai komoditas atau bisa diperjual belikan apabila barang tersebut digunakan bukan sebagai uang. Namun tidak semua barang bisa menjadi uang, diperlukan tiga kondisi utama, agar suatu barang bisa dijadikan uang, antara lain :
·         Kelangkaan (Scarcity), yaitu persediaan barang itu harus terbatas.
·         Daya tahan (Durability), barang tersebut harus tahan lama.
·         Nilai tinggi, maksudnya barang yang dijadikan uang harus bernilai tinggi, sehingga tidak memerlukan jumlah yang banyak dalam melakukan transaksi.
            Dalam sejarah, pemakaian uang barang juga pernah disyaratkan barang yang digunakan sebagai barang kebutuhan sehari-hari seperti garam. Namun kemudian uang komoditas atau uang barang ini dianggap mempunyai banyak kelemahan. Di antaranya, uang barang tidak memiliki pecahan, sulit untuk disimpan dan sulit untuk diangkut.
            Kemudian pilihan terhadap barang yang bisa digunakan sebagai uang, jatuh pada logam-logam mulia, seperti emas dan perak. Ada sejumlah alasan mengapa emas dan perak dipilih sebagai uang. Kedua logam tersebut memiliki nilai tinggi, langka, dan dapat diterima secara umum sebagai alat tukar. Kelebihan lainnya, emas dan perak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang kecil dengan tetap mempunyai nilai yang utuh.
2.      Uang tanda/kertas (token money)
ketika uang logam masih digunakan sebagai uang resmi dunia, ada beberapa pihak yang melihat peluang meraih keuntungan dari kepemilikan mereka atas emas dan perak. Pihak-pihak ini adalah bank, orang yang meminjamkan uang dan pandai emas (goldsmith) atau toko-toko perhiasan. Mereka melihat bukti peminjaman, penyimpanan atau penitipan emas dan perak di tempat mereka juga bisa diterima di pasar.
            Ada beberapa keuntungan penggunaan uang kertas, di antaranya biaya pembuatan rendah, pengirimannya mudah, penambahan dan pengurangan lebih mudah dan cepat, serta dapat dipecah-pecahkan dalam jumlah berapapun.
            Namun kekurangan uang kertas juga cukup signifikan, antara lain ini tidak bisa dibawa dalam jumlah yang besar dan karena dibuat dari kertas, sangat mudah rusak.
3.      Uang giral (deposit money)
Uang giral adalah uang yang dikeluarkan oleh bank-bank komersial melalui pengeluaran cek dan alat pembayaran giro lainnya. Uang giral ini merupakan simpanan nasabah di bank yang dapat diambil setiap saat dan dapat dipindahkan kepada orang lain untuk melakukan pembayaran. Artinya cek dan giro yang dikeluarkan oleh bank manapun bisa digunakan sebagai alat pembayaran barang, jasa dan utang. Kelebihan uang giral sebagai alat pembayar adalah:
a.       Kalau hilang dapat dilacak kembali sehingga tidak bisa diuangkan oleh yang tidak berhak.
b.      Dapat dipindahtangankan dengan cepat dan ongkos yang rendah.
c.       Tidak diperlukan uang kembali sebab cek dapat ditulis sesuai dengan nilai transaksi.
Namun di balik kelebihan sistem ini, Namun di balik kelebihan sistem ini, sesungguhnya tersimpan bahaya besar. Kemudahan perbankan menciptakan uang giral - ditambah dengan instrumen bunga bank membuka peluang terjadinya uang beredar yang lebih besar dari pada transaksi riilnya. Inilah yang kemudian menjadi pertumbuhan ekonomi yang semu (bubble economy).
B.     Fungsi uang dalam Sistem Ekonomi
Dalam sistem perekonomian manapun, fungsi utama uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange). Ini adalah fungsi utama uang. Dari fungsi utama ini, diturunkan fungsi-fungsi yang lain seperti uang sebagai standard of value (pembakuan nilai), store of value (penyimpan kekayan), unit of account (satuan penghitungan) dan standard of defferred payment (pembakuan pembayaran tangguh). Mata uang manapun niscaya akan berfungsi seperti ini.
Namun ada satu hal yang sangat berbeda dalam memandang uang, antara sistem kapitalis dengan sistem Islam. Dalam sistem perekonomian kapitalis, uang tidak hanya sebagai alat tukar yang sah (legal tender) melainkan juga sebagai komoditas. Menurut sistem kapitalis, uang juga dapat diperjualbelikan dengan kelebihan baik on the spot maupun secara tangguh. Lebih jauh, dengan cara pandang demikian, maka uang juga dapat disewakan (leasing).
Dalam Islam, apapun yang berfungsi sebagai uang, maka fungsinya hanyalah sebagai medium of exchange. Ia bukan suatu komoditas yang bisa dijualbelikan dengan kelebihan baik secara on the spot maupun bukan.
·         Nilai Waktu Uang dalam Islam
Dalam islam tidak dikenal adanya time value of money, yang dikenal dalah economic value of time. Teori time value of money adalah kekeliruan besar karena mengambil dari ilmu teori pertumbuhan populasi, dan tidak ada dalam ilmu finance. Dalam menghitung pertumbuhan populasi rumusnya : Pt = P0 (1+r). Rumus ini diadopsi begitu saja dalam ilmu finance sebagai teori bunga majemuk menjadi FV = PV (1+r). Future Value danalogikan dengan jumlah populasi tahun ke t, present value dari uang dianalogikan dengan jumlah uang di tahun ke 0, sedangkan tingkat suku bunga dianalogikan dengan pertumbuhan populasi. Ini keliru besar, karena uang bukanlah makhluk hidup yang dapat berkembang biak dengan sendirinya.
Economic value of time digunakan dalam menghitung nisbah bagi hasil di bank syariah. Dalam proses penentuan nisbah ini, return on capital harus diperhitungkan. Return on capital tidak sama dengan return on money. Return on capital tergantung pada jenis bisnisnya dan berkaitan dengan sector riil, sedangkan return on money berkaitan dengan interest rate. Penentuan nisbah bagi hasil ditentukan di awal, dan untuk itu digunakan projected return. Jika kemudian actual return dari bisnis yang dibiayai tidak sama dengan angka proyeksinya, maka yang digunakan adalah angka actual, bukan angka proyeksi. Hal ini menunjukkan bahwa islam tidak mengenal time value of money.
                                         Konsep Uang dalam Islam

    Uang

Capital
 


Variabel yang mempunyai dimensi waktu atau mengalir sepanjang waktu

Stock Concept
Variabel yang mengukur suatu kuantitas pada suatu waktu tertentu
Flow Concept
 











Analogi : Air yang masuk dan keluar dari kolam air adalah aliran (flow), sedangkan air yang berada pada kolam tersebut dalam jangka waktu tertentu adalah persediaan (stock), Pendapatan (Income) adalah flow sedangkan kekayaan (wealth) adalah stock
C.    Teori Permintaan dan Penawaran Uang dalam Pendekatan Ekonomi Konvensional
      Teori permintaan uang dalam ekonomi konvensional dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu teori permintaan uang sebelum Keynes, teori permintaan uang menurut Keynes, dan  teori perminataan uang setelah Keynes.
Teori Permintaan Uang Sebelum Keynes
Teori permintaan uang sebelum Keynes sering disebut denga teori permintaan uang klasik karena teori ini berdasarkan asumsi klasik, yaitu perekonomian selalu dalam keadaan seimbang. Teori permintaan uang sebelum Keynes diantaranya teori permintaan uang Irving Fisher dan teori permintaan uang Cambridge.
Menurut Fisher seperti yang diuraikan didalam bukunya Transaction Demand Theory of the Demand for money, uang merupakan alat pertukaran. Fisher merumuskan teori kuantitas uang dengan sederhana. Teori ini didasarkan kepada falsafah hukum say, yaitu bahwa perekonomian selalu dalam keadaan full employment. Menurut Fisher jika terjadi suatu transaksi antara penjual dan pembeli, maka akan terjadi pertukaran uang dengan barang/jasa sehingga nilai dari uang yang ditukar pasti sama dengan barang dan jasa yang diperoleh. Secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut: 
MV = PT
Dimana :
M : Jumlah uang yang beredar (penawaran uang)
V : Tingkat kecepatan perputaran uang (velocity), yaitu berapa kali uang berpindah tangan dari satu pemilik kepada pemilik lain dalam satu periode tertentu
P : Harga barang / jasa yang ditukarkan
T : Jumlah (volume) barang/jasa yang menjadi obyek transaksi
Dalam versi lain, jumlah atau volume barang yang diperdagangkan (T) diganti dengan output riil (O) sehingga persamaaannya berubah menjadi
MV=PO=Y
      Dalam teori permintaan uang ini Irving Fisher mengasumsikan bahwa keberadaan uang pada hakikatnya adalah flow concept dimana keberadaan uang atau permintaan uang tidak dipengaruhi oleh suku bunga akan tetapi besar kecilnya uang akan ditentukan oleh kecepatan perputaran uang tersebut.
            Sedangkan menurut kaum Cambridge yang diwakili Marshall dan Pigou, uang adalah alat penyimpan kekayaan, dan bukan sebagai alat pembayaran. Menurut Cambridge permintaan uang tunai dipengaruhi oleh tingkat bunga, jumlah kekayaan yang dimiliki, harapan tingkat bunga dimasa yang akan datang, dan tingkat harga. Namun dalam jangka pendek faktor-faktor tersebut bersifat konstan atau berubah secara proporsional terhadap pendapatan.
Md = kY
Dimana:
Md : Jumlah permintaan uang
k : konstanta yang menunjukkan presentase jumlah uang tunai yang dipegang terhadap pendapatan
Y : Pendapatan nominal
      Teori Fisher didasarkan pendapatan transaksi (transaction approach), sedangkan Teori Cambridge didasarkan kepada pendekatan kebutuhan masyarakat memegang uang tunai (cash balance approach).
Teori Permintaan Uang Menurut Keynes
Teori keuangan yang dikemukakan Keynes pada umumnya menerangkan 3 hal, yaitu : (1) Tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (menggunakan uang), (2) faktor-faktor yang menentukan tingkat bunga, (3) efek perubahan penawaran uang terhadap kegiatan ekonomi negara.
Terkait dengan tujuan-tujuan masyarakat untuk meminta (memegang) uang, maka dapat diklasifikasikan atas 3 motif utama, yaitu :
1.      Motif transaksi (transaction motive), motif ini timbul karena uang digunakan untuk melakukan pembayaran secara reguler terhadap transaksi yang dilakukan. Besarnya permintaan uang untuk tujuan transaksi ini ditentukan oleh besarnya tingkat pendapatan (MDt = f(Y), artinya semakin besar tingkat pendapatan yang dihasilkan, maka jumlah uang diminta untuk transaksi juga mengalami peningkatan demikian sebaliknya.
2.      Motif berjaga-jaga (precautionary motive), selain untuk membiayai transaksi, maka uang diminta pula oleh masyarakat untuk keperluan di masa mendatang yang sifatnya berjaga-jaga. Besarnya permintaan uang untuk berjaga-jaga ditentukan oleh besarnya tingkat pendapatan pula. Semakin besar tingkat pendapatan permintaan uang untuk berjaga-jaga pun semakin besar. MDp = f(Y).
3.      Motif spekulasi (speculation motive), pada suatu sistem ekonomi modern diman lembaga keuangan masyarakat sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat mendorong masyarakatnya untuk menggunakan uangnya bagi kegiatan spekulasi, yaitu disimpan atau digunakan untuk membeli surat-surat berharga, seperti obligasi pemerintah, saham, atau instrumen lainnya. Faktor yang mempengaruhi besarnya permintaan uang dengan motif ini adalah besarnya suku bunga, dividen surat-surat berharga, ataupun capital gain, fungsi permintaannya adalah MDs = f(i).
Dari ketiga motif diatas, maka formula untuk permintaan uang menurut Keynes adalah:
MD = MDt + MDp + MDs
Teori Permintaan Uang Setelah Keynes
Teori permintaan setelah Keynes adalah teori permintaan uang untuk tujuan transaksi oleh Baumol :
Menurut Baumol, adanya lembaga keuangan yang memberikan bunga menyebabkan orang yang memegang uang tunai mengalami kerugian yang disebut Opportunity cost dimana ia kehilangan kesempatan memperoleh bunga dari pendapatannya. Semakin tinggi tingkat bunganya maka akan semakin tinggi pula biaya yang harus ditanggung seseorang dalam memegang uang tunai.
R   = (n-1)iY/2n
= iY/2n2
Menurut Keynes seseorang memegang uang atau kekayaannya hanya memiliki dua pilihan seluruhnya dalam bentuk uang tunai atau seluruhnya dalam bentuk surat berharga. Sedangkan menurut Tobin setiap orang mengalami ketidak pastian. Seseorang yang memegang surat berharga pasti mengharapkan memperoleh pendapatan (e) :
Sedangkan teori permintaan uang untuk spekulasi dijelaskan oleh Tobin :
E = i+g

Dimana :
i = Bunga
g = Keuntungan modal
            Sehingga orang yang memegang surat berharga sejumlah (B) mengharapkan memperoleh pendapatan total (RT) sebesar  :
RT = B x e  = B (i+g)
      Resiko total (T) yang dialami seseorang yang memegang surat berharga sejumlah (B) adalah, sedang (δg) adalah resiko yang dihadapi dalam memegang surat berharga
T = B x δg dan B = T/δg  
Memasukkan persamaan B = T/δg ke persamaan sebelumnya, maka diperoleh
RT = T (i+g)/ δg
      Menurut Friedman, seseorang atau perusahaan memegang uang tunai lebih kepada alasan kepuasan (utility) sebagaimana barang tahan lama lainnya. Formula :
Md = k(r1,.........,rj)y
Dimana :
Md : Permintaan uang tunai
r : tingkat pengembalian (rate of return)
1,…..j : jenis kekayaan, termasuk tingkat bunga
      Menurut Friedman jumlah uang yang diminta tergantung tingkat pendapatan nasional. Perbedaan friedman dan Keynes adalah Friedman menyatakan bahwa nilai k bukan sesuatu yang konstan. Nilai k dapat berubah-ubah tergantung perubahan tingkat bunga dan faktor lain yang dapat diramalkan, dan Friedman tidak menganggap bahwa pendapatan selalu terjadi pada tingkat full employment, tapi bisa saja terjadi pada tingkat di bawah full employment

D.    Teori Permintaan Uang dalam Ekonomi Islam
      Fungsi Uang Dalam Ekonomi Islam:
·         Sarana penukar
·         Penyimpan Nilai
·         Bukan barang dagangan/komoditi
Teori Permintaan Uang Menurut Mazhab Iqtishoduna
Md      = Md trans + Md Prec
·         Menurut mazhab ini, permintaan uang hanya ditujukan untuk transaksi dan berjaga-jaga atau untuk investasi.
·         Permintaan uang untuk transaksi merupakan fungsi dari  tingkat pendapatan yang dimiliki oleh seseorang (berhubungan positif)

Permintaan Uang menurut Mazhab Mainstream
Md      = Md trans + Md Prec
Md      = f (Y/μ)
Dimana :
Md      = Permintaan Uang dalam masyarakat Islam
Y         = Pendapatan
μ          = tingkat biaya karena menyimpan uang dalam bentuk kas
·         Menurut Metwally permintaan uang dikategorikan untuk transaksi dan berjaga-jaga
·         Landasan filosofis dari teori dasar permintaan uang untuk berjaga-jaga, bahwa Islam mengarahkan sumber daya yang ada untuk alokasi secara maksimum dan efisien.Pelarangan penimbunan Uang atau Hoarding money merupakan kejahatan penggunaan uang yang harus diperangi.
·         Pengenaan pajak terhadap aset produktif yang menganggur merupakan strategi utama yang digunakan mazhab ini. 

Permintaan Uang menurut Mazhab Alternatif
Md      = f (rb, y,p,S,X,Y)[θ]
                   +  + - + + +
Dimana :
rb         = rasio bagi hasil antara shahibul maal dan mudaharib dalam bank atau lembaga keuangan
S          = Total pengeluaran nasional
y          = Pendapatan riel
P          = tingkat harga atau inflasi
X         = Variabel sosio ekonomi
Y         = Kebijakan pemerintah
·         Menurut Choudhury, (1997), permintaan uang adalah representasi dari keseluruhan kebutuhan transaksi dalam sektor riil. Semakin tinggi kapasitas dan volume sektor riil meningkat, maka permintaan uang akan meningkat
Konsep uang dalam Islam
Dalam membicarakan mengenai kebijakan moneter dalam Islam, maka pembahasan mengenai uang sebagai faktor pokok yang diatur dalam kebijakan meneter Islam tersebut. Dengan mengetahui posisi uang dalam perekonomian Islam, maka diharapkan dapat muncul kebijakan-kebijakan meneter yang tepat dan Islami.
Dari literatur yang telah kami baca, maka secara garis besar terdapat dua perbedaan pokok antara konsep uang dalam Islam dengan konsep uang dalam perekonomian konvensional, yaitu:
a.       Perbedaan dalam hal  fisik atau nilai intrinsik uang
b.      Perbedaan dalam hal cara atau metode mempergunakan uang tersebut.
Bagi kalangan umat Islam, membahas mengenai mata uang sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Umat Islam telah lama akrab dengan mata uang yang terbuat dari emas dan perak, yang disebut sebagai dinar dan dirham. Dinar dan dirham menurut sejarah sebenarnya telah lama dikenal oleh orang arab jauh sebelum Islam datang. Mata uang ini diperoleh dari hasil perdagangan yang mereka lakukan dengan negara-negara sekitar. Pedagang arab yang pulang dari Syam, mereka membawa dinar Romawi (Byzantium), dan dari Irak mereka membawa dirham perak Persia (Sassanid).
Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengakui (men-taqrir) berbagai muamalat yang menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia. Beliau juga mengakui standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraisy untuk menimbang berat dinar dan dirham.
Tentang ini Rasulullah SAW bersabda:
"Timbangan berat (wazan) adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran (mikyal) adalah takaran penduduk Madinah." (HR. Abu Dawud dari An Nasa’i).
Dalam menjabarkan hukum-hukumnya, rasulullah juga seringkali menggunakan ukuran-ukuran standard berupa dinar dan dirham, sebagai contoh:
QS: At-Thaubah (34):
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Ayat tersebut melarang praktik menimbun harta (kanzul mal), Islam hanya mengkhususkan larangan penimbunan harta untuk emas dan perak. Larangan ini merujuk pada fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar (medium of exchange)